Prolog: Lakukan Apa yang Bisa Aku Lakukan. Dengan Apa yang Aku Miliki, di Tempatku Berada Sekarang
Saat aku memanjat pagar atap gedung sekolah, angin kencang berembus menerpa.
Jika aku kehilangan keseimbangan sedikit saja, sepertinya aku bakal berakhir melukis grafiti yang menjijikkan di atas tanah.
Yah, tapi justru karena itulah aku datang ke sini.
"Aku... udah capek..."
Awalnya kelihatan menarik, dan kalau ada orang yang sedang kesulitan, kupikir aku bisa membantu.
Kalau semuanya berjalan lancar, mungkin aku bahkan bisa mendapat sedikit keuntungan.
Aku menerima permintaan itu dengan perasaan yang begitu ringan, tetapi belakangan hal itu kembali untuk menyerangku sebagai kenyataan yang sangat berat.
Seseorang yang bisa diperlakukan seenaknya, keberadaan yang memang harus disiksa, keberadaan yang diharapkan untuk lenyap.
Itulah diriku.
Tak ada satu pun sekutu. Semua orang telah menghilang.
Ayahku yang ringan tangan dan kekanak-kanakan, ibuku yang bisa diandalkan, dan adik perempuanku yang tidak jujur pada perasaannya.
Keberadaan mereka yang dulu kuanggap sebagai hal yang biasa—aku baru memahami betapa berharganya mereka setelah mereka semua tiada.
Aku sudah sering mendengar cerita seperti itu lewat kata-kata, tetapi aku baru benar-benar memahami artinya setelah kehilangan mereka.
Sudah terlambat... Semuanya sudah sangat terlambat... Aku tidak bisa lagi mengembalikan apa pun.
Bohong kalau kubilang aku tidak merasa benci kepada orang-orang itu.
Namun ada emosi yang jauh melampauinya. Yaitu rasa takut.
Aku tidak ingin kehilangan apa-apa lagi, aku tidak ingin disakiti lagi, aku... tidak ingin hidup lagi.
Jadi, aku memutuskan untuk mengakhirinya.
Di sekolah yang hanya menyimpan kenangan berwarna merah pekat (merah darah) bagiku ini, aku akan menciptakan satu lagi kenangan merah pekat tepat di akhir hayatku.
Saat aku melongok ke bawah, beberapa siswa telah memergokiku dan mengarahkan ponsel pintar mereka ke arahku dengan mata berbinar-binar.
"Dia beneran mau lompat?"
"Lu taruhan di posisi mana?"
"Woi! Ini sih parah banget, gokil!"
Bahkan setelah sampai di titik ini pun, bagi orang-orang itu, nilaiku tidak lebih dari sekadar hiburan sesaat.
Ya, tidak apa-apa. Biarlah begitu.
"Tertawalah sesuka kalian selagi masih bernapas, dasar sampah."
Aku menyemburkan kutukan itu dan melangkah satu tindak ke depan. Ujung jariku menyentuh udara kosong.
Dari belakangku, suara pintu atap yang terbuka terdengar sangat bising. Saat aku berbalik, berdiri seorang siswi di sana.
Kepribadian bagaikan bilah pedang yang dingin dan tajam, serta penampilan yang terlalu sempurna.
Seorang gadis yang dijuluki Koutei (Permaisuri Es) karena tidak pernah menunjukkan minat kepada siapa pun.
Namun saat ini, dia tampak begitu panik tidak seperti biasanya.
"────!! ────────!!"
Suara sang Permaisuri tertutup oleh gemuruh angin. Sosok sang Permaisuri menghilang dari pandanganku akibat tarikan gravitasi.
Yang terpantul di mataku hanyalah langit yang menjijikkan. Langit menjijikkan dengan matahari yang bersinar cerah tanpa selembar awan pun.
Sambil menatap langit itu, aku terjatuh tanpa henti mengikuti arah gravitasi.
Bersamaan dengan suara croosh yang menjijikkan bergemuruh di dalam kepalaku, aku tidak bisa lagi memikirkan apa pun.
◆
"──Hei. ──pelan-pelan, ──dong!"
Seseorang mengguncang-guncang tubuhku. Mengganggu saja... Biarkan aku sendiri.
"Hei? ...Hei!"
Aku kan sudah mati. Akhirnya, aku terbebas dari neraka itu──
"Bangun! Dasar Kakak yang sama sekali tidak ada lucu-lucunya!"
"Aww, sakit!!"
Sebuah tamparan tanpa ampun mendarat tepat di wajahku.
Rasa sakit tajam yang tak terduga membuatku langsung terduduk. Rasa perih menyebar dari sekitar hidungku.
"Itu sakit banget tahu! Pelan, pelan, di, kit, napa..."
Saat aku melotot ke arah pelaku yang kemungkinan besar baru saja menampar wajahku, amarahku langsung menguap bagai kabut.
"Akhirnya bangun juga! Kamu kesiangan! Kesiangan banget!"
Orang itu berdiri dengan kedua berkacak pinggang sambil melotot ke arahku.
Rambutnya sengaja dibiarkan agak panjang agar dirinya terlihat lebih dewasa, karena dia sangat tidak percaya diri dengan wajahnya yang masih terlihat imut untuk ukuran anak SMP kelas dua. Waktu aku mau pinjam satu-satunya hair dryer di rumah saat dia sedang mengeringkan rambut sehabis mandi, dia malah mengeluh "Jadi cewek itu susah tahu!" dan sama sekali menolak menyerahkannya.
"Yu... Yuzuki?"
Kenapa? Kenapa Yuzu ada di sini? Yang lebih penting, ini di mana?
Bukankah aku sudah melompat dari atap sekolah... Yuzu memasang wajah bingung.
"Kenapa bikin muka aneh gitu? Yaa terserah deh, kalau udah bangun cepat ganti baju. Sarapan udah siap. Kalau sampai terlambat di Nyuugakushiki (upacara penerimaan siswa baru), itu malu-maluin banget."
Setelah mengatakan itu, Yuzu meninggalkan kamar dengan langkah kaki yang jengkel.
"Upacara penerimaan siswa baru, katamu?"
Aku tidak paham maksudnya. Harusnya aku sudah melompat dari atap dan mengakhiri hidupku.
Namun, saat aku sadar, aku berada di kamarku sendiri dan dibangunkan lewat tamparan oleh adik perempuanku yang seharusnya sudah meninggal.
"Cepatannn~!"
Suara Yuzu bergema dari lantai satu. Untuk saat ini, aku melakukan apa yang dikatakan dan membuka lemari pakaian, di mana seragam indah tanpa kerutan tergantung rapi. Kelihatan benar-benar baru.
Aku berganti dari baju tidur ke seragam lalu turun ke lantai bawah. Aku membuka pintu dan memasuki ruang tamu.
"Selamat pagi, Kazuki-kun! Apa kamu semalam tidak bisa tidur? Melihat Kazuki-kun begitu bersemangat membuat Ayah ikut bersemangat juga!"
"Kazuki, cepat makan. Nanti kamu terlambat."
Ayah dan Ibu.
Ayah, Ibu, dan Yuzu... mereka semua ada di sini...
"Ugh! Uguh! Fuguuuu!!"
"Eh!? Ada apa, Kazuki-kun! Apa jangan-jangan kamu tidak suka dengan senyuman Ayah? Padahal di kantor, Ayah terkenal dengan senyuman yang ramah, tahu?"
Ayah terburu-buru berdiri dan memegang kedua bahuku.
Sensasi nyata namun kuat itu terasa sangat menenangkan, dan tanpa sadar, aku sudah memeluk Ayah erat-erat.
"Eeeeeeeee!!"
"Aku kangen banget!!"
"Padahal kita baru ketemu semalam!?"
Ayah dibuat bingung oleh situasi yang mendadak ini, sementara Ibu dan Yuzu hanya bisa tercengang.
Tapi kenapa? Kenapa mereka bertiga bisa hidup kembali?
Pada saat itu, suara dari TV mengumumkan berita.
『Hari ini menandakan mulainya semester baru! Ini adalah awal dari tahun ajaran 2023!』
Suara penyiar yang terdengar bersemangat namun agak formal itu mengembalikan kesadaranku.
Tahun 2023? Aneh. Harusnya sekarang tahun 2025.
Fakta kalau Yuzu dan yang lainnya ada di sini saja sudah aneh, tapi berbagai hal aneh lainnya juga ikut terjadi.
"...! Tidak mungkin..."
Kata 'upacara penerimaan siswa baru' yang diucapkan Yuzu di kamarku tadi.
Fakta bahwa tiga orang yang seharusnya sudah mati berada di sini. Tahun 2023 yang diumumkan di berita.
Itu tidak mungkin. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi.
Apakah aku salah dengar? Dengan perasaan takut, aku bertanya kepada Ibu.
"Bu, tahun ini tahun berapa?"
"Tahun 2023 lah, kok nanya?"
"Buh!"
"Jijik! Itu jijik banget, Kazuki-kun! Jas Ayah ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi dari air mata dan ingus, tapi Ayah tidak minta ditambahi topping air liur di atasnya!"
"Maaf! Kalau begitu anggap saja itu ludah, bukan air liur..."
"Jangan melanjutkan percakapan atas dasar andaian kalau Ayah punya kelainan yang suka menampung cairan tubuh!?"
Sambil mendengarkan teriakan Ayah, aku memahami seluruh situasinya.
Aku telah kembali... Waktu telah diputar kembali...
Ke hari upacara penerimaan siswa baru di SMA Hirasaka, tempat yang hanya menyimpan kenangan-kenangan terburuk dalam hidupku.