Memuat...
Bulan Oktober. Di saat angin musim gugur mulai berhembus, leher Akari akhirnya sudah mulai tegak.
Ia mulai sedikit demi sedikit bisa membedakan siang dan malam, dan ada hari-hari di mana ia sanggup tidur sekaligus lebih dari 4 jam di malam hari. Seiring dengan hal tersebut, kantung mata hitam di bawah mata Papa pun perlahan-lahan mulai menghilang.
Mungkin karena daya penglihatannya mulai berkembang, ia menatap gantungan bed merry mobile tanpa merasa bosan, dan sesekali mencoba mengulurkan tangannya.
Imunisasi tahap ke-2 dan ke-3 seperti pneumokokus anak, hepatitis B, rotavirus, Hib, hingga vaksin kombinasi 4 jenis (DPT-IPV) yang dimulai sejak usia 2 bulan pun telah usai dijalani, serta berat maupun tinggi badan bertumbuh dengan lancar.
Durasi waktu untuk pulang ke rumah utama demi membantu merawat Akari pun agak sedikit berkurang.
Dan saat ini, aku sedang melakukan pekerjaan membuka dus karton bersama Saki di rumah baru kami.
Tempat yang kami tinggali berdua bertempat di Ogikubo.
Dari lokasi ini, baik menuju Universitas Wanita Tsukinomiya tempat Saki berkuliah maupun Universitas Ichinose tempatku berkuliah, waktu tempuh menuju kampus bagi kami berdua sama-sama berkisar sekitar 40 menit. Berada tepat di titik tengah antara universitas tempat kami berdua berkuliah adalah kawasan Ogikubo.
Stasiun ini pun tergolong stasiun yang memberikan akses mudah menuju tempat kerja masing-masing, dan biaya sewa rumahnya pun tergolong murah.
"Sewaktu kosongan tadi kikiraku bakalan lumayan luas, tapi begitu dus-dus karton diangkut masuk seketika terasa sempit, ya."
"Barang-barang yang cukuplah satu untuk berdua, mungkin harus kita pikirkan untuk dibawa kembali ke rumah utama atau langsung kita buang saja, ya."
"Tapi kan dari awal ada juga barang yang memang satu untuk berdua, kan."
Sambil mengucapkan hal itu, barang yang diangkat dan diperlihatkan Saki ke arahku adalah album foto milik kami berdua.
Awalnya barang itu berada di kamarku di rumah utama, lalu setelah itu ditaruh di indekos Hino, dan sekarang dibawa hingga ke kamar di Ogikubo ini.
Mulai dari foto lembar pertama yang diambil di kamarku sebagai pemantik awal, kami menambahkannya lembar demi lembar sebagai kenangan setiap kali hari-hari kami bertumpuk.
Foto lembar terbaru adalah foto bertiga yang kami ambil sewaktu mengosongkan rumah utama: foto diriku, Saki, dan Akari yang sedang digendong oleh Saki. Narasaka-san sempat berseru bahwa foto itu mutlak harus dirahasiakan, tapi aku tidak paham apa dan kenapanya harus dirahasiakan, lagipula rasanya tidak akan ada situasi di mana album foto ini diperlihatkan kepada orang lain selain kami berdua. Yah, kalau file foto aslinya sih tersimpan di cloud, jadi yang itu bisa diunduh kapan saja. Tapi, rasanya tidak akan ada orang lain selain kami yang tahu bahwa foto lembar semacam ini ada.
Di samping foto album tersebut, tertulis coretan tangan: 『Bersama Kakak Laki-laki, Kakak Perempuan, dan Adik Perempuan. 12/10/2023』. Itu adalah foto lembar pertama yang diambil di hari Kamis tepat sebelum keluar meninggalkan rumah.
Apakah suatu saat nanti, di masa depan yang sangat jauh kelak, hari di mana kami sanggup menceritakan hubungan antara aku dan Saki sambil memperlihatkan foto semacam ini kepada Akari bakal tiba? Untuk saat ini aku masih belum sanggup mengimajinasikannya.
Menghentikan gerakan tangan yang sedang membuka dus karton, aku menyapu pandangan ke sekeliling ruangan.
Kamar 1DK di mana kamar bergaya Barat berlantai kayu bersambung dengan area dining kitchen ini memang lebih besar dibanding kamar indekos yang kutinggali seorang diri dulu, tapi bagi dua orang dewasa ruangan ini terasa sempit.
Ditambah lagi, di kamar bergaya Barat ini hanya ditaruh satu tempat tidur. Tidak ada sisa ruang untuk menaruh dua tempat tidur, dan barang seperti meja belajar untuk masing-masing dari kami berdua pun tidak sanggup ditaruh. Kami mau tidak mau harus menggunakan meja dining kitchen berdua.
Tentu saja, hal seperti privasi satu sama lain mutlak tidak akan ada.
Setiap hari, kami bakal saling melihat raut wajah satu sama lain sewaktu bangun tidur. Jika itu adalah Saki di masa lalu, hal semacam ini pastilah sangat tidak sanggup ditoleransi olehnya.
Meskipun saat ini pun dia masih terlihat tegang, tapi di saat yang sama wujudnya yang menikmati hal ini pun sanggup tertangkap mata.
"Hei, Yuta."
"Emm?"
"Teringat tidak?"
Diucapkan begitu, awalnya aku tidak langsung menangkap maksudnya. Akan tetapi, saat secara tidak sengaja membuka dus yang diisi oleh tumpukan kain warna-warni, aku panik lalu bergegas menutupnya kembali. Detak nadiku melaju kencang, dan diserang rasa bersalah barulah aku teringat.
"Kan sudah dicuci, jadi itu cuma kain biasa, tahu?"
"Mungkin memang begitu, sih."
"Y-yah, emm. Kalau ditatap lekat-lekat begitu, kalau yang itu sih jelas-jelas, ya..."
"T-tidak kulihat, kok. ...Maaf."
"Lalu... sudah teringat?"
"Emm."
Hari di mana Saki pindah ke rumah keluarga Asamura dulu.
Hari-hari di mana aku dan dia tinggal di bawah satu atap yang sama dimulai sejak hari itu.
"Kehidupan Pernikahan Tiri (Gikon Seikatsu), ya."
Secara mendadak, Saki melontarkan istilah yang kurang kupahami.
"Apaan tuh?"
"Sebab ini adalah Kehidupan Pernikahan Tiri (Giri no Kekkon Seikatsu)."
Padahal cuma gara-gara ini adalah kehidupan baru, tidak perlu membuat istilah baru segala sih menurutku.
"Benar juga. Yuta, ayo kita tentukan aturan yang harus dipatuhi lagi. Aturan demi tinggal di kamar ini."
"Boleh juga."
Aku mengangguk.
Bagi kehidupan yang baru, aturan yang baru tentulah dibutuhkan.
"Mumpung sudah begini, ayo tulis di kertas lalu tempel di dinding. ...Tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan Asamura Yuta ini menuliskannya memakai pulpen fountain pen yang kudapatkan sebagai hadiah ulang tahun."
"Apa-apaan cara bicara yang kelewat formal begitu."
Fufu, Saki tertawa. Kemudian setelah memikirkannya sebentar, dia bersuara.
"Salam itu krusial, kan. Setiap hari ayo kita ucapkan 'Selamat pagi' dan 'Selamat tidur' secara konsisten."
"'Selamat jalan' dan 'Aku berangkat' pun krusial, kan."
"Hal-hal di sekitar itu kan sebenarnya selama ini pun selalu kita sadari, kan. Biarpun tidak ditulis di kertas sebagai aturan."
"Kalau aturan yang kental nuansa Kehidupan Pernikahan Tiri... contohnya berpelukan (hug) sehari sekali, begitu?"
Aku sadar suaraku agak menyimpang meleset. Mengucapkannya dari mulut sendiri ternyata lumayan memalukan juga, nih.
Saki menaruh tangannya di bibir, memasang raut wajah yang entah kenapa terlihat sangat serius.
"Hal itu... kalau di hari kita bertengkar, bagaimana?"
"Berlandaskan premis kita bakal bertengkar?"
"Mungkin saja terjadi, kan, kalau tinggal bersama."
"Yah, memang benar sih. ...Emm, seandainya di saat bertengkar pun aturan tetap dijadikan aturan, proses baikan (nakanaori) mungkin justru bisa berjalan lebih mulus."
"Apakah bakal aman-aman saja kalau dipaksakan saat suasana hati sedang tidak enak..."
"Kalau begitu, kita jadikan 'Memastikan apakah bakal berpelukan atau tidak sehari sekali', bagaimana?"
"Memastikan?"
"Bertanya: Apakah hari ini mau berpelukan?, begitu."
"Kesannya seperti laporan pekerjaan saja."
"Tapi kan, kalau dari awal tahu bahwa boleh menolak, bukankah rasanya bakal jauh lebih santai?"
"...Kalau begitu, mungkin boleh juga."
"Memastikan apakah bakal berpelukan atau tidak sehari sekali. Memiliki hak menolak," pungkasku.
Aku menggoreskan pulpen fountain pen.
Satu, Setiap hari, mengucapkan salam.
Dua, Hal yang ingin dilakukan dan hal yang tidak ingin dilakukan disampaikan lewat kata-kata.
Tiga, Saat dalam kesulitan, bersandar dan bergantunglah tanpa memendamnya sendirian.
Empat, Sehari sekali, memastikan apakah bakal berpelukan atau tidak.
Saki yang melihat hal itu mengangguk dengan raut wajah puas, lalu melanjutkan.
"Lalu, biarpun sedang bertengkar, aturan harus dipatuhi secara benar."
"Emm. Benar juga. Kalau ditulis begitu sepertinya tidak akan ada masalah."
Aku menambahkan poin kelima di bawah poin keempat.
Tidak bisa ditulis 'Tidak bertengkar'.
Tidak bisa diikrarkan bahwa pendapat tidak akan pernah berselisih, maupun tidak akan pernah saling melukai.
Mulai sekarang, setiap hari kami bakal tinggal di dalam kamar yang sama. Dengan jarak yang jauh lebih dekat dibanding sebelumnya, kami bakal saling melihat hari di mana suasana hati sedang buruk, hari di mana sedang lelah, hingga wujud di saat mengalami kegagalan.
Meski begitu, fakta bahwa tempat ini adalah tempat untuk pulang mutlak tidak boleh dilupakan.
Setelah itu pun, tugas rumah tangga tidak dipatok untuk dibagi dua secara mutlak, melainkan pihak yang memiliki kelonggaran waktu di saat itu yang bakal menanggung porsi lebih banyak. Akan tetapi, pihak yang dibantu tidak boleh menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Tidak boleh melihat ponsel (smartphone) pasangan secara sembarangan. Saat berganti pakaian harus menyapa terlebih dahulu. Sebelum membuka dus harus memastikan milik siapa barang tersebut—aturan demi aturan terus dituliskan berturut-turut.
Saat seluruhnya selesai ditulis, lebih dari separuh permukaan kertas telah dipenuhi oleh tulisan.
"Kesannya mirip seperti surat perjanjian (kontrak), ya."
"Sebab hubungan kita dari awal memang dimulai lewat janji yang menyerupai kontrak, kan."
Tidak ada surat nikah (kon'in todoke), tidak ada pula cincin.
Akan tetapi, kertas yang ditulisi memakai pulpen fountain pen ini, mungkin merupakan surat ikrar (seiyakusho) versi kami berdua demi menjalani hidup bersama ke depannya.
Aku menatap kertas tersebut, lalu menatap raut wajah Saki, dan demi melakukan gladi bersih bagi kehidupan yang baru, aku menyuarakan salam yang sebenarnya saat ini belum dibutuhkan.
"Selamat datang kembali, Saki."
"Aku pulang, Yuta."
Saki pasti bisa langsung menangkap niatku dalam sekejap, sehingga dia membalasnya tanpa jeda.
Kata-kata yang juga sering kami pertukarkan setiap hari di masa-masa awal saat kami pertama kali bertemu dulu.
Akan tetapi, di masa-masa itu, kata-kata tersebut adalah salam yang dipertukarkan oleh dua orang asing yang baru saja menjadi keluarga.
Saat ini, kata-kata tersebut adalah salam yang dipertukarkan oleh dua orang yang telah bertekad untuk menjadi keluarga ke depannya.
Kehidupan Adik Tiri (Gimai Seikatsu) kami, mulai hari ini berganti nama menjadi Kehidupan Pernikahan Tiri (Gikon Seikatsu).
Masih belum menjadi suami istri. Akan tetapi, ini adalah kehidupan dari dua orang yang menjalani hidup dengan berniat untuk menjadi suami istri kelak.
Ke depannya, pasti bakal ada hari di mana aturan yang tertempel di dinding ini ditulis ulang. Bertengkar, saling berselisih paham, hingga mungkin ada hari di mana janji tidak sanggup ditepati.
Setiap kali hal itu terjadi, kami tinggal bertukar kata, saling menyelaraskan, lalu kembali ke tempat yang sama.
Dengan begitu, suatu saat nanti, bukankah kami bakal sanggup mencapainya?

--Untuk keluargaku.