Chapter 2: Stalker Orang Aneh yang Melakukan Usaha Secara Agresif
Demi mengawasi komedi romantis Amada tanpa perlu terlibat dan demi menghindari pembentukan hubungan antarmanusia di SMA Hirasaka yang dihuni para iblis, aku menuju tempat wawancara di minimarket lokal dengan semangat membara, berencana mendapatkan pekerjaan paruh waktu sambil menjalin pertemanan baru.
Dan ketika aku tiba di minimarket yang berfungsi sebagai lokasi wawancara sekaligus calon tempat kerjaku kelak, betapa terkejutnya aku.
Di sana berdiri Mikoto Hidaka, main heroine (pahlawan wanita utama) dari komedi romantis Amada.
Lebih-lebih lagi, di antara segala kemungkinan yang ada, dia bilang dia datang untuk wawancara kerja.
"............"
Ini beneran menakutkan.
Orang ini tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi dan terus-menerus menatapku tajam secara diam-diam.
"Um, sudah hampir waktunya wawancara, jadi bolehkah aku masuk?"
"Mm."
Saat aku bertanya, aku mendapat balasan kecil dan anggukan kecil.
Setelah mendapat persetujuan, aku melesat ke dalam toko seolah-olah sedang melarikan diri.
Selama wawancara, aku ditanya alasan memilih toko ini dan berapa hari dalam seminggu aku bisa bekerja. Aku memberi tahu mereka bahwa lokasinya dekat dari rumah dan aku bisa datang setiap hari. Namun, karena aku tahu bahwa penghasilan yang terlalu banyak akan dikenakan pajak, aku memilih batas aman tersebut.
Kesan dari wawancara itu sangat positif──bahkan, aku langsung diterima kerja di tempat.
Manajer toko berkata, "Kalau begitu datanglah mulai besok. Kita akan melakukan pelatihan karyawan baru," jadi aku keluar dari ruang kantor minimarket dengan napas lega.
Lalu, entah kenapa, Hidaka berdiri menempel tepat di depan pintu kantor untuk wawancara berikutnya. Aku berusaha melarikan diri dengan hati-hati dan cepat agar tidak menyentuh tubuhnya, tetapi saat kami saling berpapasan, dia berkata, "Tunggu aku." Apakah bakal berakibat buruk kalau aku berpura-pura tidak mendengarnya?
Sayangnya, aku tidak punya keberanian untuk itu, jadi mau tidak mau aku pergi ke luar toko dan menunggu.
Sekitar lima belas menit kemudian. Setelah menyelesaikan wawancaranya, Hidaka berkeliling sebentar di dalam minimarket sebelum memergokiku di luar dan berjalan menghampiri.
"............Terima kasih."
"Tidak, tidak apa-apa..."
Hidaka, yang telah berada tepat di depanku, memang seorang gadis yang luar biasa cantik.
Karena sangat jarang melihatnya memakai pakaian kasual, bagi cowok-cowok di kelas kami, ini pasti menjadi pemandangan yang sangat langka di mana Hidaka berinteraksi denganku. Lalu, kenapa dia menyuruhku menunggu?
"............"
Keheningannya terasa sangat berat. Dalam hati aku mengeluh bahwa aku menunggu karena dia yang menyuruhku.
Tak sanggup menahannya lagi, aku melontarkan pertanyaan.
"Jadi, bagaimana hasil wawancaranya?"
"Lulus. Pelatihan mulai besok. Kamu?"
Apa-apaan ini. Nona Hidaka baru saja melempar balik pertanyaan padaku.
Dia selalu memberikan balasan dingin tak peduli apa pun yang ditanyakan, dan selalu menjawab singkat, tetapi di sini dia memberiku kata-kata yang panjangnya melebihi sepuluh karakter. Apakah cuaca besok bakal hujan kapak?
"Aku lulus juga. Pelatihan mulai besok."
"────Baguslah."
"Eh?"
Dia bergumam pelan, tetapi itu terlalu pelan untuk bisa kudengar.
Namun, mungkin tidak ingin dicecar lebih jauh, Hidaka menatapku dengan tatapan yang luar biasa tajam.
Ini beneran menakutkan.
"Bukan apa-apa. Jam berapa?"
"Um, dari jam 10 sampai jam 18..."
"Sama."
Tolong ampuni aku, seriusan. Aku tadi begitu bersemangat berpikir bisa berteman dengan rekan kerja yang seumuran, tapi aku tidak mendengar kabar apa pun kalau orang berbahaya yang bikin senam jantung seperti ini bakal datang.
"Lalu... Kenapa kamu memutuskan untuk bekerja di minimarket ini?"
"............!"
Mengerikan! Mata Hidaka membelalak lebar dengan kekuatan yang dahsyat.
Apakah itu sesuatu yang tidak boleh kutanyakan?
"Karena dekat."
Pembohong. Kampung halamanmu berada di jarak yang memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan kereta dari sini.
Itu terlalu jauh untuk pekerjaan paruh waktu yang santai. Aku benar-benar tidak paham.
Kenapa, dari sekian banyak orang, Hidaka yang menjadi rekan kerjaku? Di kehidupan pertamaku, Hidaka tidak melakukan kerja paruh waktu atau kegiatan ekstrakurikuler apa pun dan selalu bergegas langsung pulang ke rumah.
Meskipun begitu, dia entah kenapa selalu berpartisipasi dalam event yang diikuti oleh seluruh anggota kelas...
"Um, Hidaka...-san."
"Apa?"
Hidaka menatapku sambil mengedipkan matanya yang indah dengan kedip-kedip.
Melihatnya dari dekat seperti ini, aku bisa memahami kenapa cowok-cowok di kelas kami, termasuk Amada, sangat terobsesi dengan kecantikannya. Sebenarnya, dulu aku juga menyukai Hidaka.
Meskipun tidak sekuat perasaan Amada sih... Tunggu, sekarang bukan waktunya untuk terpesona oleh kecantikannya; aku harus mengatakan apa yang seharusnya kukatakan dengan benar.
"Kalau memungkinkan, aku ingin kamu merahasiakannya kalau kita bekerja di tempat kerja paruh waktu yang sama..."
"............!"
Ekspresi tegang. Apakah permintaanku adalah sesuatu yang benar-benar tidak ingin dia dengar?
Yah, aku tahu aku sangat dibenci di kehidupan pertamaku juga sih...
"Kamu tidak suka?"
Jujur saja, aku benar-benar tidak menyukainya.
Di kehidupan pertamaku, Hidaka tidak pernah sekalipun melakukan hal yang merugikanku.
Tapi Hidaka adalah tambatan hati si Amada itu...
"Bukan berarti aku tidak suka..."
"............"
Ketenangan sebelum badai mungkin mengacu pada kondisi seperti Hidaka yang sekarang.
Tidak, jangan takut. Jika aku takut dan melarikan diri, bukan hanya aku tetapi keluargaku juga akan mati.
Aku harus mengatakan apa yang perlu dikatakan. Jika ditolak, aku bisa memikirkan tindakan pencegahannya.
"Hanya saja aku tidak terlalu ingin cowok-cowok di sekolah tahu kalau aku bekerja di sini."
"............Maafkan aku."
Hah? Apakah itu halusinasi pendengaran? Sosok Mikoto Hidaka itu baru saja meminta maaf padaku.
Apakah cuaca besok adalah hujan kapak yang disusul dengan jatuhnya meteor?
"Bukan berarti Hidaka melakukan kesalahan kok. Aku cuma ingin ini jadi rahasia di antara kita berdua saja..."
"────!"
Wajah Hidaka memerah secara jelas.
Ini gawat. Di atas kondisinya yang berada di ambang meledak, aku malah menyiramkan bahan bakar baru.
"────Gus."
"Hah?"
"Bagus sekali."
Sebenarnya apa yang dikatakan gadis ini?
Bisa tolong jelaskan secara terperinci di bagian mana dari perbuatanku yang mengandung elemen "bagus"?
"Aku mengerti. Aku akan merahasiakannya. Fu, fu, cuma di antara kita berdua... fu, fu, fuhihihimimimi..."
Waduh, horor banget. Senyumannya benar-benar menakutkan...
"Syukurlah. Um, Hidaka kan menonjol, jadi mungkin bakal berat, tapi aku akan membantu sebisa mungkin."
"Menonjol? Kenapa?"
Apakah dia benar-benar memiringkan kepalanya karena bingung?
"Kamu kan sangat cantik, Hidaka. Makanya kubilang kamu menonjol."
"!? !? !? !? !!!?? !! !?"
Aku benar-benar tidak paham apa yang dia katakan sama sekali.
"Hari ini adalah hari yang baik. ...Hari yang sangat amat baik."
Sebenarnya, bukankah Hidaka punya kepribadian yang cukup menarik?
"Aku paham. Kalau Ka, Ka, Kazuki bilang begitu, aku akan berhati-hati. Aku juga akan mengambil langkah pencegahan."
Namaku tidak seaneh itu sampai harus tersendat-sendat begitu.
"Kalau begitu, sampai jumpa be──"
"Tunggu."
"Ada apa?"
Saat aku mencoba pergi, lengan bajuku ditarik secara ragu-ragu namun kuat.
"Um... Uh... Itu tuh..."
Kenapa dia begitu bertekad untuk menakut-nakutiku?
Mungkinkah dia bakal menuntut ganti rugi? Merahasiakannya, jadi serahkan setengah gajimu.
Aku gemetaran dalam ketakutan seperti itu, tetapi Hidaka tidak membuka mulutnya dengan mudah. Setelah sekitar tiga menit keheningan, dia mulai mengaduk-aduk tasnya, mengeluarkan ponsel pintarnya, dan menyodorkannya padaku.
"Kontak. Kupikir kita harus saling bertukar kalau kita adalah pemegang rahasia bersama."
Aku tidak berpikir begitu. Aku ingin mengumpulkan keberanian dari seluruh dunia untuk menyuarakan hal itu keras-keras.
"Aku mengerti. Kalau begitu..."
Tak punya pilihan, aku mengeluarkan ponsel pintarku dan bertukar kontak dengan Hidaka.
Kemudian, meskipun dia berada tepat di depanku, Hidaka mengirimkan sebuah stiker. Ilustrasi manusia salju yang imut dengan pesan "Salam kenal" dan tanda hati. Itu benar-benar tidak cocok dengan karakternya.
Aku merasa tatapannya seolah mendesak "Balas dong," jadi aku juga mengirimkan stiker. Ilustrasi onigiri dengan "Salam kenal" dan tanda ☆. Setelah mengonfirmasinya, Hidaka tersenyum tipis.
Itu adalah senyuman yang sesempurna lukisan. Entah kenapa, aku bahkan merasa seolah ada lingkaran cahaya (halo) di belakangnya.
"Salam kenal."
"Ah, iya..."
Mungkin akhirnya merasa puas di sana, Hidaka pergi dengan cepat.
Ditinggalkan sendirian, aku menatap kosong pada sosok Hidaka yang makin menjauh dan bergumam,
"Kenapa bisa jadi begini?"
Aku hanya bisa meratapi situasi putus asa yang datang secara tiba-tiba ini.
Ngomong-ngomong, bahkan sampai menunggu hingga malam itu, tidak ada foto-foto dari acara kumpul-kumpul yang dikirimkan oleh Tsukiyama.
Seperti yang diduga, ampas sangean itu cuma meminta kontakku demi bisa mengetahui kontak milik Hidaka.
◇ ◇ ◇
Hari Minggu. Saat aku menuju ke minimarket untuk hari pertama kerjaku, Hidaka sudah tiba lebih dulu.
Dia sudah tiba, tetapi penampilannya benar-benar berbeda dari yang kemarin.
"...Bagaimana?"
Gaya rambut kepang dua dan kacamata, cukup berbeda dari Hidaka yang biasanya.
Kenapa bisa jadi begini?
"Langkah pencegahan. Dengan ini, bahkan jika seseorang dari SMA Hirasaka datang, mereka tidak akan menyadari kalau ini aku."
Kamu tahu apa itu kartu nama? Ada kartu nama bertuliskan "Hidaka" dengan jelas di dadamu. Bagaimana persisnya caramu menyembunyikan identitasmu dengan hal itu?
"Bagaimana?"
Pertanyaan yang sama lagi. Dia tampaknya sedang menunggu balasanku.
"Um, aku pikir itu sangat cocok untukmu."
"Mm."
Mungkin merasa puas dengan balasan itu, Hidaka membuat tanda peace (pose V) tanpa banyak perubahan pada ekspresinya.
Dia kemungkinan besar... merasa senang, kurasa.

"Seragam ini cocok untukmu juga."
Apakah dia sedang membicarakan seragam minimarket ini? Meskipun dipuji, aku tidak terlalu senang sih.
"Terima kasih. Um, mari kita berjuang bersama mulai hari ini."
"Mm."
Apakah aku benar-benar bisa melewati hari ini dengan selamat?
◇ ◇ ◇
"——Seperti itu, tempatkan produk baru di belakang dan produk lama di depan."
"Dimengerti." "Baik."
Pada hari pertama pelatihan, aku dan Hidaka menerima penjelasan tentang pekerjaan dari manajer toko wanita paruh baya.
Mulai dari penataan produk, pembersihan toilet, cara membuat bakpao (nikuman) dan gorengan, hingga cara menggunakan mesin kasir.
"Untuk saat ini, fokus saja pada mesin kasir hari ini. Untuk merek rokok, kalau kalian tidak tahu, bilang saja pada pembeli untuk menyebutkan nomornya dan itu akan baik-baik saja."
Ada lebih dari 100 jenis rokok yang berjejer di belakang mesin kasir.
Apakah pegawai minimarket veteran juga mengingat semua nama-nama itu?
Dengan semua itu, hari pertama kerja paruh waktuku dimulai, tapi...
"Pelanggan berikutnya, silakan ke sini!"
Ketika aku mengatakan itu, beberapa pelanggan pria datang ke kasirku dengan wajah yang sangat enggan.
Mereka sama sekali tidak berusaha menyembunyikan perasaan "Kenapa sih kamu malah melakukan hal yang tidak perlu?" milik mereka.
Minimarket ini memiliki total tiga mesin kasir. Satu saat ini sedang tidak beroperasi, tetapi di dua kasir yang tersisa, aku dan Hidaka masing-masing berdiri. Dan hampir semua pelanggan pria, saat mereka melihat Hidaka, langsung menuju ke kasirnya alih-alih ke kasirku. Berkat itu, fenomena langka terjadi di mana kasirku benar-benar kosong sementara kasir Hidaka memiliki antrean panjang.
"Terima kasih!"
"Terima kasih kembali!"
"Hei, kalau kamu mau, nomor kontakm——" "Hei, kalau sudah selesai, cepat singkir dari sana!" "——Sialan!"
"Te... terima kashih!"
Meskipun ini hari pertamanya, Hidaka, yang tiba-tiba harus menangani pelanggan dalam jumlah besar, sepertinya mengalami masa-masa sulit.
Dia sepertinya tidak mengerti mengapa hanya kasirnya yang penuh sesak dan memasang ekspresi bingung saat dia secara bersemangat memindai kode batang di kasir.
"Ini adalah perundungan karyawan baru..."
Bukan, bukan begitu kok.
Sementara itu, aku sedang menangani seorang pelanggan lanjut usia.
"My Sen Super Light."
"Maaf. Tolong sebutkan nomornya."
"Ah, nomor 27."
Aku pergi mengambil rokok untuk nomor 27 setelah mendengar nomor itu dari pelanggan, dan meskipun tertulis Super Light, produk itu berlabel Mebius, bukan sesuatu seperti My Sen.
Bagaimana bisa nama itu berubah menjadi My Sen? (singkatan dari Mild Seven)
Ada banyak misteri dengan rokok, peko.
Dengan semua itu, sekitar dua jam setelah memulai tugas kasir, manajer toko datang dan berkata, "Hidaka-san, silakan istirahat," dan Hidaka, yang telah menangani pelanggan tanpa henti, menuju ke ruang kantor.
Saat kami berpapasan, dia berbisik pelan, "Berjuanglah," jadi aku membalas, "Terima kasih."
Mikir kalau Hidaka bakal menyemangatiku... Apakah dia orang lain?
Tiga puluh menit kemudian, setelah menyelesaikan istirahatnya, Hidaka kembali, jadi aku bergantian dengannya untuk istirahat.
Sebagai ucapan terima kasih atas dukungannya tadi, aku memberi tahunya, "Berjuanglah juga," dan hanya mendapat balasan "Mm" yang kecil.
Kantor minimarket jauh lebih sempit dari yang kubayangkan, berukuran sekitar dua tikar tatami, dengan setengahnya ditempati oleh meja dan komputer.
Jadi, aku duduk di sudut agar tidak mengganggu pekerjaan dan memeriksa ponsel pintarku.
『Bagaimana kerja paruh waktunya?』
Mengonfirmasi pesan dari Yuzu, wajahku secara tak sadar mengembang menjadi cengiran lebar.
Ah, betapa luar biasanya adik perempuanku, mengkhawatirkanku seperti ini.
Tunggulah aku, Yuzu. Gaji paruh waktu Kakak akan ditabung dengan benar untuk persembahan untuk Yuzu dan jika terjadi masalah di masa depan.
『Berjalan sangat lancar! Kamu mau oleh-oleh apa?』
『Ayah sudah membelikannya untukku jadi tidak usah. Kalau aku minta ke Kazu, Kakak bakal beli dalam jumlah tumpuk seperti waktu itu lagi.』
Kuh! Menunjukkan perhatian yang tidak perlu!
Sangat imut! Adik perempuanku benar-benar sangat imut!
Saat aku tersenyum lebar sambil melihat ponsel pintarku, manajer toko berbicara padaku.
"Nfufufu. Ishii-kun, wajahmu kelihatan bahagia sekali~. Pacar?"
"Bukan, ini adik perempuanku."
"Oh, begitu rupanya. Kalian berdua akur sekali ya~."
"Ya. Bahkan jika dunia berakhir, kali ini aku pasti akan melindungi adik perempuanku."
"Kalimat itu diutarakan seolah kamu pernah mengalami akhir dunia saja..."
Aku pernah mengalami akhir dari keluargaku, bagaimanapun juga.
Justru karena itulah, di kehidupan keduaku, aku berniat bermanuver agar tidak gagal.
Tapi segalanya telah menjadi cukup aneh.
Baru empat hari berlalu sejak kehidupan keduaku dimulai, namun perkembangan yang berbeda dari kehidupan pertamaku sudah terjadi.
Tentu saja, aku mengerti itu karena aku mengambil tindakan yang berbeda dari kehidupan pertamaku.
Menghindari persahabatan dengan Amada dan acara kumpul-kumpul kelas berjalan sesuai rencana.
Hidaka bekerja di tempat kerja paruh waktu yang sama denganku adalah hal yang tidak terencana.
Apakah ini yang mereka sebut sebagai butterfly effect (efek kupu-kupu)?
Yah, terserah deh. Daripada menyesali apa yang sudah terjadi, mari kita pikirkan tindakan pencegahannya sekarang.
Untungnya, sepertinya Hidaka akan merahasiakan fakta bahwa kami bekerja di minimarket yang sama.
Tapi bagaimana aku harus berinteraksi dengannya di sekolah? Haruskah aku menyapa Hidaka?
Tidak. Itu terlalu berbahaya. Jika aku menyapa Hidaka, Amada pasti akan menyusul, dan di hari dia tahu kami berada di tempat kerja paruh waktu yang sama, Amada akan datang ke minimarket ini untuk segala macam alasan.
Jika komedi romantis terungkap di sana sambil menyeretku masuk, kemungkinan terjadinya event kehancuran terburuk sangatlah tinggi. Ah, hanya mengingatnya sekarang membuat seluruh tubuhku merinding.
Wanita busuk itu sepertinya telah mempersiapkan secara cermat untuk menjebakku, dan bahkan ketika aku mencoba mencari bukti ketidakbersalahanku, aku tidak dapat menemukan apa pun. Aku diajari teror seorang wanita yang kepalanya dipenuhi dengan romansa dengan tubuhku sendiri.
Lagipula, Amada seharusnya percaya padaku setidaknya sedikit. Kami bergaul dengan cukup baik, jadi jangan mendatangiku dengan gaya tidak mendengarkan apa pun sejak awal. Aku tidak pernah ingin mengalami itu lagi.
◇ ◇ ◇
17:00. Kerja paruh waktu berada di tahap akhir, dan aku akhirnya akan bebas dalam satu jam lagi.
Bagian tersulit dari pekerjaan minimarket adalah berdiri di kasir pada saat pelanggan sedikit.
Cuma tidak ada yang bisa dilakukan dan itu membosankan.
Meski begitu, bahkan jika aku mencoba membunuh waktu dengan obrolan santai, orang yang bersamaku adalah Hidaka dan sulit untuk berbicara dengannya, dan mengobrol selama bekerja bagaimanapun juga bisa berujung pada komplain.
Jadi, aku membunuh waktu dengan mengisi ulang rokok, menata produk dengan rapi secara tidak perlu, dan mengisi ulang bakpao yang sedikit berkurang.
Sementara itu, Hidaka menatap tajam ke arah rokok, berusaha keras menghafal merek-mereknya.
Pelanggan yang memesan rokok secara garis besar dibagi menjadi tiga tipe: memesan berdasarkan nomor, nama lengkap, atau singkatan, dengan yang paling menyusahkan adalah mereka yang memesan berdasarkan singkatan.
Dimulai dengan singkatan yang tidak masuk akal seperti My Sen, ada Kinmaru, Setter, Ame Spi, Ronpi.
Terkadang ketika rokok yang sama dipanggil dengan singkatan yang berbeda, aku bakal bingung, tidak mengerti maksudnya.
Bagaimanapun juga, hari pertama kerja dengan selamat berada di tahap akhir. Tinggal sedikit lagi dan aku akan bebas.
Saat aku berpikir begitu, pintu otomatis toko terbuka dan wajah yang tidak asing masuk.
"............Ah! ...Yaho~."
Saat dia memergokiku, pria paruh baya yang ceria itu tersenyum bahagia dan melambaikan tangannya sedikit. ...Itu Ayah.
Ngomong-ngomong, beliau menunjukkan ekspresi sedikit terkejut saat melihat Hidaka di kasir sebelah, tapi segera menguasai diri, mengambil beberapa produk, dan datang ke kasir tempat aku berdiri.
"Tolong ya!"
"Apakah ingin pakai kantong plastik?"
"Tolong ya~!"
Beliau sedang bersemangat tinggi. Astaga, Ayah memang tidak bisa dibiarkan.
"Terima kasih sudah datang, Yah."
"Ayah cuma datang karena Ayah ingin~. Ayah harus datang melihat Kazuki-kun bekerja keras! Terlepas dari itu, rekan kerjamu adalah gadis yang luar biasa cantik! Apakah dia pacar Kazuki-kun?"
"Bukankah Ayah pikir itu buruk menggoda rekan kerja di hari pertama?"
"Itu benar sih~. Itu mungkin sama buruknya dengan memiliki jas yang ditambahi air mata, ingus, dan air liur di pagi hari."
Aku sangat minta maaf untuk waktu itu...
Saat aku mencoba memasukkan keripik kentang, jus, dan beberapa camilan yang dibeli Ayah ke dalam kantong plastik, Hidaka, yang entah bagaimana telah datang ke sampingku, mengambil kantong itu dariku.
"Aku yang kemasi kantongnya. Kamu lakukan proses pembayarannya."
"Ah, iya... Terima kasih..."
Aku telah diberi tahu untuk membantu membungkus ketika aku punya tangan luang, tetapi tidak ada pelanggan yang berbaris, jadi kupikir tidak perlu membantu... tapi Hidaka pasti luang juga. Dia secara diam-diam mengemasi produk ke dalam kantong.
Entah kenapa, sambil secara kuat memamerkan dadanya ke arah Ayah. Apakah ini honey trap (jebakan wanita)?
"Namamu Hidaka-san, kan. Apakah kamu berteman dengan Kazuki-kun?"
"Untuk saat ini."
Apakah Hidaka dan aku berteman? Dan "untuk saat ini"?
Apakah itu berarti kami akan berhenti berteman di masa depan dan dituntun menuju kehancuran?
"Kazuki-kun, kamu berhasil!"
Tidak ada yang perlu dirayakan, jadi aku kesulitan. Apa yang membuat Ayah begitu bersemangat?
"Hidaka-san, tolong jaga Kazuki-kun ya. Dia punya beberapa sisi aneh, tapi dia anak yang benar-benar baik."
"Ya. Ayahanda (Otou-sama)."
Entah kenapa, aku merasa ada banyak penekanan yang dimasukkan ke dalam kata "Ayahanda", tapi itu pasti cuma perasaanku saja.
Setelah menyelesaikan pembayaran dan menerima produk dari Hidaka, Ayah berkata "Berjuanglah, kalian berdua" dengan wajah puas dan meninggalkan toko.
Ada tiga puluh menit tersisa dalam shift kerja paruh waktu. Ayah sudah pulang, dan setelah menyelesaikan pembungkusan, kupikir Hidaka akan kembali ke kasirnya, tetapi dia masih berdiri di sampingku. Kemudian pelanggan berikutnya datang.
"Apakah ingin kantong?"
"Tidak perlu."
"............Apa!"
Ketika diberi tahu oleh pelanggan wanita bahwa dia tidak membutuhkan kantong, Hidaka memasang wajah yang sangat kecewa dan berjalan gulai kembali ke kasirnya.
◇ ◇ ◇
Pukul 18:00 tiba, dan setelah menangani pelanggan terakhir, hari pertama pelatihan untukku dan Hidaka berakhir. Kami berdua kembali ke kantor, melepas seragam kami, dan berganti pakaian kembali ke pakaian kasual.
Kemudian, manajer toko berbicara kepada kami dengan semangat tinggi.
"Kerja bagus, kalian berdua. Ini pertama kalinya bagi kalian jadi pasti berat dengan segala macam hal, kan? Santai saja dan istirahatlah hari ini."
"Ya. Terima kasih banyak."
"Ya."
"Kalau kalian lapar, kalian boleh makan bento yang dibuang (kadaluarsa). Sebenarnya itu tidak boleh, tapi selama kalian tidak membawanya pulang, tidak apa-apa, kurasa. Pada akhirnya, kami cuma akan membuangnya juga."
Kupikir makan bento buangan secara gratis adalah salah satu keutamaan kerja minimarket, tapi ternyata itu dilarang. Yah, rumahku dekat jadi aku tidak membutuhkannya.
"Ah, aku tidak usah."
"Aku juga tidak usah."
"Hee~. Itu langka. Sebagian besar anak-anak yang datang bekerja di sini menantikan hal ini."
Manajer toko yang ramah benar-benar disyukuri.
Jika dia adalah orang yang keras, aku akan merasa sedikit enggan untuk bekerja, tetapi dengan orang ini, sepertinya aku bisa bekerja dengan tenang. Menyampingkan sumber kecemasan luar biasa besar lainnya.
"Um, kalau begitu kami permisi. Terima kasih untuk hari ini."
"Kerja bagus, Ishii-kun, Hidaka-san. Sampai jumpa besok juga~!"
"Ya... Tunggu, huh? Hidaka juga?"
"Mm. Aku bekerja besok juga."
Begitu rupanya. Jadi aku bekerja di shift yang sama dengan Hidaka besok juga.
Jika demikian, haruskah kami menuju ke tempat kerja paruh waktu bersama dari sekolah? Jangan bodoh deh.
"Mari kita berdua melakukan yang terbaik."
"Mm."
Lagipula, mengabjaknya pergi bersama dari sekolah kemungkinan akan menjadi masalah bagi Hidaka juga.
Bagaimanapun juga, Hidaka menyukai Amada. Tak peduli bahwa kami pergi ke tempat kerja paruh waktu yang sama, dia pasti tidak ingin cowok yang disukainya melihatnya pulang sendirian dengan cowok yang tidak disukainya.
Setelah menilai hal itu, aku dengan cepat meninggalkan minimarket.
◇ ◇ ◇
Dibutuhkan waktu sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumahku ke minimarket ini.
Ada minimarket sekitar lima menit berjalan kaki dari rumahku, tetapi bekerja di toko terdekat dari rumah rasanya entah bagaimana canggung, jadi aku memilih yang sedikit lebih jauh.
Bagaimanapun juga, itu tidak masalah. Yang perlu kupikirkan adalah Hidaka.
Mengapa Hidaka memulai pekerjaan paruh waktu yang sama denganku? Situasi tidak normal seperti itu tidak terjadi di kehidupan pertamaku, jadi pasti ada alasan tertentu.
Kemungkinan yang paling besar adalah sesuatu yang berhubungan dengan Amada.
Pola terburuk adalah Hidaka meminta kerjasamaku karena dia ingin menjadi kekasih Amada.
Di kehidupan pertamaku, itulah penyebab keluargaku menemui akhir terburuk, dan aku sendiri kehilangan nyawaku. Justru karena itulah aku sama sekali tidak akan membantu romansa Hidaka...
"...Tunggu."
Bukankah bakal tidak apa-apa dengan Amada yang sekarang, dan jika pihak lainnya adalah Hidaka?
Laki-laki itu adalah seorang Shujinkou rom-com yang luar biasa, tetapi pada titik ini dia belum menjadi seorang Shujinkou.
Para heroine yang muncul satu demi satu tidak menyimpan perasaan cinta apa pun terhadap Amada pada titik ini.
Selain itu, tak peduli berapa banyak heroine yang mendekatinya, Amada hanya setia secara tulus hanya kepada Hidaka.
Jika demikian, bukankah aku harus menyatukan mereka berdua sekarang saja?
Melangkah ke dalam komedi romantis Amada sendiri adalah tindakan yang cukup berbahaya, tetapi jika itu hanya menyampaikan informasi, aku bisa mengamankan batas keselamatan yang masuk akal.
Lagipula, Amada dan Hidaka menjadi kekasih adalah situasi yang layak untuk mempertaruhkan bahaya bagiku.
Jika itu terjadi, bahkan jika Amada bertemu heroine lain, perisai sempurna bernama "memiliki pacar" akan lahir, jadi ada kemungkinan mereka bahkan tidak akan mengembangkan perasaan cinta sejak awal.
Terlebih lagi, bahkan jika wanita sampah selokan yang menjatuhkanku ke neraka itu meminta dukungan asmara dariku, aku bisa menolak dengan pembenaran yang kuat berupa "Aku tidak ingin mengganggu seseorang yang sudah punya pacar."
Itu dia! Ya! Nothing ventured, nothing gained (tidak ada usaha, tidak ada hasil)!
Jika aku menyatukan Amada dan Hidaka mulai dari sekarang, semuanya akan terselesaikan!
Sekarang setelah diputuskan, besok aku akan——
"Hei, punya waktu sebentar?"
"Hyaaai!"
Aku terkejut. Aku pikir aku tiba-tiba mendengar suara dari belakang, dan di sana ada Hidaka.
Kenapa Hidaka ada di sini? Bukankah stasiun berada di arah yang benar-benar berlawanan? Yah, terserahlah. Ini kebetulan yang nyaman.
"Ha... Hai, Hidaka... Aku baru saja berpikir ini waktu yang tepat. Sebenarnya, ada sesuatu yang penting yang ingin kubicarakan denganmu."
"Pembicaraan penting?"
Hidaka memalingkan wajahnya ke arah lusa, seolah-olah dia benci bahkan untuk menatapku.
Sangat dibenci seperti ini rasanya agak membuat depresi.
"Diberi tahu kalau itu pembicaraan penting dari Ishii-kun membuat jantungku berdebar-debar, tapi apakah kamu paham hal itu?"
"Um, tidak terlalu. Ngomong-ngomong, nada bicaramu..."
Bukankah sikapnya cukup berbeda dari yang tadi?
Selama bekerja, Hidaka sering memberikan balasan singkat atau berbicara dalam kalimat pendek.
Tapi Hidaka yang sekarang berbicara dengan cukup jelas.
"Aslinya aku memang seperti ini. Tapi tergantung orangnya, melihat wajah mereka membuatku tegang dan tidak bisa berbicara dengan baik, jadi itulah poin refleksiku yang terbesar dari kemarin dan hari ini. Makanya aku mengejarmu untuk meminta maaf."
Dengan kata lain, melihat wajahku membuatnya jengkel dan menyebabkannya berbicara dalam kalimat pendek, jadi sekarang dia memastikan untuk tidak menatapku sama sekali... Tindakan itu sendiri menyakiti perasaan.
"Aku tidak keberatan kok, jadi tidak apa-apa."
"Terima kasih. Juga, sebelum pembicaraan penting Ishii-kun, bisakah aku menanyakan satu hal?"
"Apa itu?"
"............Apakah Ishii-kun punya pacar?"
"Tidak punya tuh?"
Sebenarnya apa yang dikatakan orang ini?
Namun, mungkin balasanku tidak memuaskannya, karena Hidaka memasang ekspresi... tidak, cemas. Seperti biasa, tanpa menatapku sama sekali.
"Tapi dalam perjalanan pulang setelah upacara penerimaan siswa baru, ada seorang gadis yang kamu gandeng tangannya, kan?"
"Itu adik perempuanku. Yuzu, adik perempuanku. Dia adalah adik perempuan paling imut di dunia bagiku! Ah! Kalau kamu mau, mau lihat fotonya? Dia sebenarnya sangat benci, tapi aku memohon dengan putus asa dan dia mengizinkanku mengambilnya!"
"Sampai di situ saja cukup kok. Begitu rupanya, jadi gadis itu adalah adik perempuanmu. Ya, kalau kamu menyebutkannya, memang ada kemiripan..."
Hidaka mengembuskan napas lega dengan senyuman lembut.
Kamu tidak boleh membuat gestur seseduftif itu. Itu akan menyebabkan cowok-cowok salah paham.
"Aku merasa lega. Kalau begitu, bisakah aku mendengar pembicaraan penting Ishii-kun?"
Oh, giliranku akhirnya tiba. Baiklah, kalau begitu langsung saja...
"Hidaka, kamu bekerja di minimarket itu karena cowok yang kamu sukai, kan?"
"............!"
Ketika aku menunjukkannya secara jelas, wajah Hidaka memerah secara jelas.
Sesuai dugaan, prediksimu benar.
Hidaka ingin dekat denganku, yang duduk di dekat Amada, karena dia ingin menjadi kekasih Amada. Mungkin alasan dia melewatkan acara kumpul-kumpul kelas juga karena itu.
Ini adalah menembak kuda daripada sang jenderal, tetapi romansa adalah hal yang berputar-putar.
Bagi diriku, yang terus menonton komedi romantis dari pinggir lapangan, itu sudah jelas. Master dari romansa tanpa campur tangan adalah aku.
"I... Itu... tidak... benar... kok?"
"Jangan dipaksakan. Kamu sama sekali tidak membodohi siapa pun tahu?"
"~~~~~~!"
Ohh, seorang gadis yang jatuh cinta punya reaksi yang sangat imut.
Lalu? Mau bagaimana lagi, jadi haruskah aku menyajikan kata-kata yang sangat membahagiakan untuk Hidaka-san seperti itu? Dia mungkin akan sangat bahagia hingga gunung berapi meletus.
"Perasaanmu bertepuk sebelah tangan yang saling berbalas (mutual), jadi tenang saja."
Ya. Misi selesai. Aku tidak akan melakukan apa pun lebih dari ini.
Aku benar-benar tidak akan membantu membuat situasi ungkapan cinta atau semacamnya.
Bagaimanapun juga, aku adalah laki-laki yang hanya bertindak dalam keselamatan mutlak. Kata-kata saja sudah aman.
"Eh? Eh? Eh? Eeeeeee!!"
Bukankah aku orang pertama di dunia yang melihat Hidaka terkejut sejauh ini?
Sepertinya aku telah menjadi peraih medali emas dalam kontes kejutan Hidaka. Sungguh merepotkan.
"Benarkah!? Apakah ini benar-benar saling berbalas!?"
Sampai sekarang dia tidak mau menatapku sama sekali, tetapi begitu dia mendapat informasi bahwa itu berbalas, dia mendekatkan wajahnya secara luar biasa dekat dengan kekuatan yang dahsyat. Ini praktis jarak ciuman, tetapi dengan kesadaran diri bahwa aku bukan objek kasih sayangnya, bahkan gadis cantik seperti ini tidak membuat jantungku berdebar keras.
"Ya. Ini pasti berbalas. Jadi cepatlah ungkapkan cintamu."
"——! Ishii-kun, paksaanmu luar biasa! ...Tapi itu juga benar-benar bagus!"
Begitu rupanya. Yah, karena dia sebahagia ini, ada gunanya memberi tahu padanya.
Sekarang, pulanglah segera dan ungkapkan cintamu pada Teruhito Amada.
Keberhasilan romansamu akan menyelamatkan duniaku. Cinta menyelamatkan dunia. Meskipun ada penggelapan sesekali.
"Aku mengerti. Aku akan melakukan seperti yang kamu katakan. Dengan perkembangan yang senyaman ini, aku tidak punya pilihan lain."
Kan? Ini adalah perkembangan yang sangat nyaman bagiku juga, jadi ini benar-benar win-win solution.
Ketika aku sampai di rumah, aku akan mencurahkan semua cintaku pada Yuzu——
"Ishii Kazuki-kun, aku menyukaimu. Maukah kamu pacaran denganku?"
"................................Apa?"
"Membuatku mengatakannya lagi, seperti yang diduga Ishii-kun memang pemaksa! Tapi bagus! Bagus, bagus!"
Um, permisi, Hidaka-san. Bisakah kamu tidak bersemangat sendirian begitu?
Kamu tahu, aku pikir kamu menyimpan perasaan cinta terhadap Teruhito Amada-kun...
Ini pasti cuma perasaanku saja. Tentunya ini adalah perasaanku atau halusinasi pendengaran. Harus begitu.
"Ishii Kazuki-kun, aku mencintaimu. Ayo kita menikah."
"Levelnya melonjak naik secara drastis!"
Hei, tunggu sebentar! Sebenarnya apa yang terjadi di sini!?
Mengapa sang Permaisuri Es, Mikoto Hidaka, mengungkapkan cintanya padaku, seorang mob character di antara para mob character!?
"Saling mencintai terasa seperti mimpi! Mungkinkah ini mimpi? Tapi bahkan jika ini mimpi, ini bagus! Jika ini mimpi, aku bisa memanjakan hasratku hingga batas maksimal! Kalau begitu, satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah mempraktikkannya sambil mengonfirmasinya! ...Ini aku datang!"
"Tunggu sebentar!"
Karena dia mencoba memelukku dengan wush, aku secara refleks mendorok bahunya dengan kuat untuk menghentikannya.
Hidaka menatapku dengan mata yang sangat tidak puas.
"...Aku tidak paham."
"Aku juga tidak."
Situasi yang tidak terduga terus terjadi, tetapi ini adalah situasi tidak terduga yang terbesar.
Hidaka menyukaiku? Apakah aku membangun Skytree yang terbuat dari kebajikan di kehidupanku sebelumnya atau semacamnya?
Tidak, di kehidupanku sebelumnya aku dihadapkan pada perundungan yang mengerikan dan meninggal.
Apakah itu bisa dinilai sebagai kehidupan sebelumnya atau bukan adalah hal lain.
Ini gawat... Aku telah membuat kesalahpahaman yang luar biasa dan pilihan terburuk.
Aku yakin dia menyukai Amada, jadi ketika aku mendesak "Ungkapkan cintamu," aku malah yang kena tembak.
Aku pikir aku berada di zona keselamatan mutlak, tetapi aku berada di pusat ledakan yang luar biasa besar.
Normally, aku harusnya sangat gembira dan menari-nari atas perkembangan rom-com menerima ungkapan cinta dari gadis tercantik nomor satu di sekolah untuk pertama kalinya. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Karena aku tahu masa depan.
Jika... jika Hidaka dan aku mulai berpacaran di sini, hubunganku dengan Amada pasti akan menjadi tegang. Terlebih lagi, aku kemungkinan besar akan menerima rasa dendam yang luar biasa dari Tsukiyama.
Bahkan ada kemungkinan event penghakiman terjadi karena aku dipandang sebagai musuh...
"Apakah kamu tidak salah mengenalku dengan orang lain?"
"Aku tidak salah. Aku sudah menyukai Ishii-kun sejak lama. Bolehkah aku memanggilmu dengan nama depan?"
Sepertinya ini bukan kesalahpahaman. Caranya memperpendek jarak sangat tidak masuk akal.
"Ah, ah~. Maaf, tapi bisakah aku mengonfirmasi beberapa hal?"
"Tentu saja, Kazupyon."
Dia melompati panggilan ke nama panggilan tanpa izin. Ini agak misterius.
"Mengapa kamu tidak berpartisipasi dalam acara kumpul-kumpul kelas?"
"Karena Kazupyon tidak berpartisipasi. Pergi ke suatu tempat tanpa Kazupyon akan membuang-buang waktu."
"Mengapa kamu memilih pekerjaan paruh waktu itu?"
"Karena aku pikir Kazupyon akan bekerja di sana."
"Mengapa kamu berpikir begitu?"
"Karena kamu bilang di kelas kalau kamu akan bekerja di minimarket."
Gadis ini dilengkapi dengan pendengaran yang mengagumkan. Mampu mengutil obrolanku dengan Amada.
"Hanya dari itu, kamu tidak mungkin bisa menentukan minimarket spesifik itu, kan?"
"Dalam perjalanan pulang setelah upacara penerimaan siswa baru, kamu mampir bersama adik perempuanmu dan melihat poster rekrutmen kerja paruh waktu, kan? Pada saat itu, aku pikir kamu punya pacar dan sangat terkejut. Aku bahagia itu cuma kesalahpahaman. Bagus. Bagus, bagus, bagus!"
Sekarang setelah dia menyebutkannya, Yuzu memang mengatakan sesuatu tentang orang yang sangat cantik yang menatapku...
Lagipula, benar juga!
Baru saja, Hidaka entah bagaimana tahu tentang tindakanku setelah upacara penerimaan siswa baru!
Mungkinkah gadis ini...
"Hidaka. Apakah kamu mengikutiku dalam perjalanan pulang setelah upacara penerimaan siswa baru?"
"Aku tidak mengikuti. Dalam perjalanan pulang setelah upacara penerimaan siswa baru, hari berikutnya, dan kemarin, aku cuma mengantarmu dengan pandangan sampai kamu tiba di rumah."
"Itu sih namanya stalking tingkat parah!"
"Bukan begitu kok. Aku ini cuma orang yang berusaha secara agresif, tahu?"
Apakah ada negara hukum di mana sesuatu seperti ini diakui sebagai orang yang berusaha keras?
"Tapi tidak apa-apa, kan? Karena ini kan berbalas."
"Ugh!"
Ya... Benar juga...
Dalam masalah ini, aku ketakutan oleh ungkapan cinta tak terduga dari perilaku stalking Hidaka, tetapi orang yang membuat kesalahan fatal adalah diriku sendiri. Aku salah paham bahwa Hidaka menyukai Amada dan mendesaknya untuk mengungkapkan cinta.
Jika aku tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu, Hidaka kemungkinan besar tidak akan mengungkapkan cintanya, dan akan melanjutkan perilaku stalking-nya secara diam-diam tanpa mengungkapkan cinta. Tidak, itu bakal bermasalah juga sih.
"Kazupyon?"
Apa yang harus kulakukan? Sebenarnya apa yang harus kulakukan?
Haruskah aku menyembunyikan kebenaran dan menjadi kekasih Hidaka seperti ini?
Yah, karena dia memiliki kecantikan sejauh ini, menjadi kekasihnya akan menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan.
Ini juga akan menjadi pembalasan dendam terhadap Amada, yang membuaatku menderita begitu banyak di kehidupanku sebelumnya.
Event kehancuran juga mungkin bisa dihindari jika aku mendapat kerja sama dari Hidaka.
Namun fakta bahwa aku bahkan berpikir seperti ini memperjelas bahwa aku tidak memiliki perasaan cinta yang dicari oleh Hidaka. Hidaka bukanlah sebuah trofi melainkan seorang gadis yang seutuhnya.
Jika demikian...
"Aku minta maaf! Aku salah paham!!"
Aku menekan kepalaku sepenuhnya ke tanah dan melakukan dogeza (bersujud meminta maaf).
Karena aku dipaksa melakukan dogeza berkali-kali di kehidupan pertamaku, tidak ada cela dalam bentuk sujudku.
Aku tidak pernah berpikir keterampilan ini akan berguna dalam situasi seperti ini.
"Ke... Kesalahpahaman?"
Hidaka mengeluarkan suara gemetar.
"Maaf! Aku pikir orang yang kamu sukai adalah Amada! Jadi aku pikir jika Amada juga menyukai Hidaka, kalian berdua menjadi kekasih akan sangat bagus... Aku benar-benar minta maaf!!"
"────! Ka... Kalau begitu, Kazupyon tidak menyukaiku?"
Suara sedih seolah-olah dijatuhkan dari puncak kebahagiaan ke dasar jurang maut.
Rasa bersalah atas apa yang telah kulakukan terus menumpuk tanpa henti.
"Kalau kamu bertanya apakah aku menyukaimu atau tidak, aku menyukaimu! Kalau untuk penampilan luar, kamu sempurna dan gadis yang ideal! Tapi hanya sebatas itu! Aku pikir ada perbedaan yang jelas antara 'suka' milikku dan 'suka' milik Hidaka! Karena aku hanya menyukai penampilan luarmu, akan sangat tidak sopan untuk berpacaran denganmu, Hidaka! Yah, aneh bagiku, yang melakukan sesuatu yang bahkan lebih tidak sopan karena kesalahpahaman, untuk mengatakan itu! Bagaimanapun juga, aku minta maaf!"
Jika ini adalah kehidupan pertamaku, aku pasti sudah mulai berpacaran dengan Hidaka.
Tapi sekarang berbeda. Karena aku telah melihat neraka setelah terjebak dalam komedi romantis, aku memahami ketakutan akan wanita dengan baik. Itulah mengapa aku sama sekali tidak bisa berpacaran dengan seseorang hanya berdasarkan penampilan luar, dan aku tidak ingin menghadapi seseorang yang mengarahkan perasaan serius padaku dengan emosi setengah hati.
"............Begitu rupanya."
Hidaka bergumam pelan.
"Tidak terelakkan kalau ada kesalahpahaman, kan. Aku juga salah paham kalau Kazupyon punya pacar..."
Aku bersyukur dia mengatakan itu, tetapi kecelakaanku berada di tingkat yang berbeda.
"Hei, Kazupyon. Angkat kepalamu."
"Ah, iya..."
Saat aku mengangkat kepalaku seperti yang diberi tahu, di sana ada Hidaka dengan air mata di matanya.
Air mata itu diterangi oleh lampu jalan, dan terlepas dari situasinya, aku berpikir itu sangat indah.
"Aku senang kamu memberi tahuku secara jelas. Berpikir bahwa kamu melihat diri dalamku dengan benar alih-alih penampilan luarku, aku berpikir Kazupyon itu luar biasa. Meskipun dipikir menyukai keju membusuk yang lengket itu sangatlah mengesalkan."
Kamu tidak perlu pergi sejauh itu untuk mendeskripsikan Amada, kan?
"Ini sedikit berbeda dari yang direncanakan tapi tidak apa-apa. Aslinya, aku memang berencana mengungkapkan cinta pada Kazupyon hari ini bagaimanapun juga."
"Padaku?"
"Ya. Aku baru saja menetapkan cara untuk me... mengunjungi kamarmu, jadi aku berencana mengungkapkan cinta di kamarmu."
Dia tadi hampir bilang "menerobos masuk", kan?
"Aku benar-benar kecewa, tapi tidak apa-apa. Aku bahagia bisa berbicara banyak dengan Kazupyon, dan lagipula..."
"Lagipula?"
"Jika kamu menyukai penampilan luarku, maka yang tersisa hanyalah membuatmu menyukai diri dalamku, kan?"
"............!"
Bahkan dengan memperhitungkan rasa takut, senyuman Hidaka pada saat itu sangatlah memikat.
Jika dia tersenyum seperti itu, bukankah pria di seluruh dunia akan jatuh cinta?
"Wajahmu memerah. Kalau begitu masih ada banyak kesempatan."
"Tidak, Hidaka. Um, kamu tahu............!"
Kemudian, sensasi lembut mengalir di pipiku.
Karena Hidaka, Mikoto Hidaka yang itu, mencium pipiku.
"Ap... ap... apapapapapap......!"
"Aku akan menahan diri dengan ini untuk hari ini. Ah... Sampai jumpa besok juga! ...Dah!"

Setelah mengatakan itu, Hidaka berlari menuju stasiun dengan wajah memerah terang.
Menatap kosong pada sosok Hidaka yang seperti itu, aku secara tak sadar bergumam.
"Teman masa kecil sang tokoh utama datang dengan sangat gencar padaku, sang mob character figuran..."
TL/N: HIDAKA PUNYA ADMINNN!!!!