Memuat...
Melihat warna awan yang menggelayut rendah, aku berpikir hujan tampaknya akan segera turun.
Aku melangkah masuk ke kafe yang baru saja buka di lantai 1 "Gedung Utama Timur", gedung perkuliahan di Kampus Timur.
Hal pertama yang tercium adalah aromanya yang khas. Entah itu bau cat atau aroma dari bahan bangunannya sendiri, yang jelas tercium aroma khas dari bangunan yang baru selesai didirikan.
Di dalam ruangan bergaya minimalis yang dipadukan dengan warna-warna cokelat menenangkan, meja-meja ditata dengan jarak yang cukup renggang. Di sudut ruangan, terdapat booth seat yang dipisahkan oleh partisi. Di kursi paling dalam, ada sosok yang kukenal. Kikuchi. Dia tampaknya menyadari keberadaanku, tapi tidak melambaikan tangan atau semacamnya. Kikuchi memang punya kepribadian yang agak kurang suka menonjolkan diri.
Padahal dia menempati meja kapasitas 4 orang sendirian, tapi mengingat kondisi kafe yang sedang sepi melompong seperti ini, harusnya tidak masalah. Jumlah mahasiswa yang tertangkap pandanganku tidaklah banyak. Memang wajar saja, karena saat ini sedang berlangsung jam kuliah sesi kedua. Kafe atau kantin di dalam kampus memang jauh lebih sepi dan bisa dipakai bersantai di jam-jam seperti ini.
Begitu aku duduk di hadapannya, barulah Kikuchi menyapaku.
"Keterlaluan, Asamu~. Kamu sampai terlambat begini, kondisi badanmu aman?"
"Maaf, maaf. Tapi sampai dikhawatirkan kondisinya cuma gara-gara terlambat 2 menit sih... padahal anggota yang lain juga belum pada datang."
"Justru itu makanya aneh. Padahal kamu biasanya disiplin banget."
"Tadi waktu mencari bahan perpustakaan ketagihan sampai lupa waktu, sih."
Mendengar balasanku, dia menghela napas panjang—haaah.
"Minta tolong dikerjakan bareng dong dari situ. Kan kita satu tim."
"Sama sekali tidak terpikirkan... Mungkin mencari buku sendirian sudah jadi kebiasaanku dari dulu, ya."
"Dasar orang aneh. Mana bikin rugi diri sendiri lagi."
Disindir begitu, aku cuma bisa melempar senyum kecut. Begitu menurunkan pandangan ke ponsel yang kutaruh di atas meja, kebetulan masuk notifikasi dari aplikasi pesan singkat. Dua pesan beruntun muncul dalam bentuk pop-up.
Tampaknya dua orang sisanya juga bakal segera bergabung.
"Tapi dipikir-pikir, aneh juga ya kita berempat bisa sama-sama tidak ada jadwal kuliah di jam segini."
Saat aku melontarkan hal itu, Kikuchi memasang raut wajah heran, seolah ingin bilang 'apaan sih yang diomongin anak ini'.
"Malah jam segini ini waktu di mana semua orang paling luang, tahu. Kuliah yang ada di jam segini itu isinya dosen killer semua. Asamu~ juga sengaja menghindari kelas itu, kan?"
"Aku sih cuma kebetulan tidak ada mata kuliah yang ingin kuambil saja."
"Haaah..."
Kenapa juga dia harus sampai membelalakkan mata mendengarnya?
"Yah, tapi ini juga dihitung seperti kuliah sih, ya."
Kikuchi mengibas-ibaskan berkas materi yang terbeber di atas meja.
Benar juga. Toh di jam-jam kosong begini pun kami tetap berkumpul untuk menyusun strategi.
"Karena ini pertama kalinya format seminar (zemi), jadi terasa masih belum terbiasa, ya."
"Menarik sih, tapi merepotkan~"
Sambil menyetujui ucapanku, Kikuchi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu meregangkan badan.
Kami berdua, ditambah dua orang yang baru saja mengirim notifikasi di ponsel tadi, genap berempat sedang mengerjakan tugas zemi dari Profesor Mori.
Fakultasku tidak memiliki mata kuliah yang dinamakan seminar dasar di tahun pertama seperti yang ada di Fakultas Ekonomi tetangga. Selama tahun pertama, waktuku sepenuhnya dihabiskan untuk menuntaskan mata kuliah dasar. Yah, ini mungkin karena fakultasku tergolong fakultas baru.
Lalu, barulah di tahun kedua ini seminar semester awal dimulai.
Profesor Mori adalah salah satu alasanku memilih Universitas Ichinose. Sebelum masuk kuliah, aku tidak sengaja bertemu dengannya, dan penjelasan beliau mengenai fakultas ini berhasil memicu rasa tertarikku. Karena berkesempatan belajar di bawah bimbingan Profesor Mori, pada bulan April lalu sewaktu tahu aku masuk ke kelas zemi dengan beliau sebagai dosen pembimbingnya, rasa senanglah yang paling pertama membuncah...
Namun bagi diriku yang sebelumnya cuma tahu format pelajaran sekolah menengah atas, metode pembelajaran berbasis latihan kelompok kecil yang disebut zemi ini menyimpan banyak hal yang membingungkan. Kami tidak lagi cuma duduk mendengarkan penjelasan dosen secara satu arah, melainkan para mahasiswalah yang menjadi pemeran utama untuk meneliti, mempresentasikan, dan mendiskusikannya. Formatnya seperti itu.
Di Fakultas Social Data Science, mulai dari tahun kedua, materi latihan yang menangani masalah sosial riil hingga fieldwork turun ke lapangan langsung sudah disisipkan ke dalam kurikulum. Di zemi Profesor Mori ini pun, mulai dari bulan Juni para peserta dibagi menjadi kelompok beranggotakan 4 orang, lalu setiap kelompok diminta menetapkan topik permasalahannya masing-masing sebagai persiapan menuju fieldwork.
Dan mengenai "topik permasalahan" yang menjadi poin krusial itu—
"Bukankah tema ini... terlalu berat?"
Gumam Kikuchi sambil mencolek-colek berkas materi dengan jarinya.
"Yah, walau yang memilih tema ini kan kita sendiri, sih."
『Anak-Anak yang Terisolasi di Dalam Rumah』
Ada anak-anak yang kehilangan tempat beralih dan terisolasi di dalam rumahnya sendiri.
Penyebab paling umumnya mungkin adalah ketidakharmonisan keluarga. Misalnya hubungan suami istri yang buruk, atau yang lebih parah lagi sampai berujung perceraian. Tentu saja ada juga kasus di mana hubungan kedua orang tuanya harmonis, tapi perlakuan mereka terhadap anak sangat buruk sampai tidak layak disebut orang tua. Bahkan ada juga kasus yang penyebabnya bersumber dari hubungan dengan kakek-nenek.
Alasannya bermacam-macam, tapi karena anak-anak adalah sosok yang belum bisa bertahan hidup sendirian, timbul masalah begitu mereka terisolasi. Jika situasi seperti itu nyata keberadaannya secara sosial, maka hal itu berubah menjadi masalah sosial, dan menjadi tantangan sosial yang wajib diselesaikan.
Kalau dibilang berat, tema ini memang berat. Namun keputusan memilih tema ini dari beberapa opsi kandidat yang ada merupakan hasil mufakat 4 orang di Kelompok D. Kalau mau mengeluh, berarti kami harus berkaca pada diri sendiri.
"Aku juga tahu soal itu, kok..."
Kikuchi tampaknya benar-benar merasakan betapa sulitnya topik ini, sampai-sampai desahan napas berulang kali lolos dari mulutnya.
Tapi bagiku pribadi, tidak ada penyesalan telah memilihnya. Sebab tema ini bukanlah sesuatu yang sama sekali terlepas dari masa laluku.
Dalam kasusku, situasinya memang tidak sampai menjadi parah hingga dikategorikan sebagai masalah, tapi sebelum aku menemukan 'buku' sebagai sahabatku, kalau ditanya apakah aku sama sekali tidak merasa kesepian saat Ibu pergi meninggalkan rumah... jawabannya tentu bohong.
Bagi diriku, ini adalah tema yang tidak bisa kuabaikan begitu saja.
Ditambah lagi... Ini berkaitan dengan rencanaku dan Saki yang berniat mengakui hubungan kami kepada orang tua di awal Agustus nanti, sehingga ketidakharmonisan keluarga juga merupakan sebuah ketakutan yang nyata di depan mata. Saat ini aku memendam ketakutan bahwa pengakuan itu kelak akan merenggangkan keharmonisan di dalam rumah.
Jika hubungan antar-anggota keluarga merenggang, tidak menutup kemungkinan Akari juga bisa terisolasi di dalam rumah—
Tunggu, tunggu sebentar. Aku menggelengkan kepala sendirian, menyadari imajinasiku sudah melompat terlalu jauh.
"Ada apa, Asamu~?"
"Tidak ada apa-apa. Cuma kebiasaan imajinasi liar yang mendadak melompat jauh ini mungkin menular dari seseorang."
"Ha? Yah, terserah deh."
Di hadapan Akari, aku dan Saki tidak ingin memperlihatkan sosok yang penuh kebohongan. Kami ingin Akari yang baru saja lahir percaya bahwa dunia ini dipenuhi oleh hal-hal yang hangat. Kalau dipikir-pikir dari sudut pandang kami sewaktu SMA dulu yang memandang dunia secara agak miring, perubahan ini sungguh luar biasa. Namun begitu melihat Akari yang didekap di dalam pelukan Ibu Tiri Akiko di rumah sakit dulu, pandangan miring seperti itu seketika sirna tak berbekas.
Adik perempuan kami sangat lucu. Benar, aku menyadarinya secara polos dan tulus. Tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.
Akan tetapi, meski begitu, mengimajinasikan bahwa begitu aku dan Saki mengaku berpacaran lalu ketidakharmonisan keluarga langsung dimulai saat itu juga—jelas-jelas merupakan lompatan pemikiran yang terlalu berlebihan.
Pikiranku melantur terlalu jauh. Mari bersikap tenang.
Bagaimanapun juga, mungkin justru karena ini adalah tema yang menarik perhatianku, makanya aku sampai bela-belain pergi ke perpustakaan untuk melakukan riset awal sebelum rapat kelompok dimulai.
Profesor Mori pernah menyampaikan di awal perkuliahan zemi: Hal yang terpenting adalah menyusun pertanyaan yang bagus. Saat itu, kami diminta untuk menuliskan fenomena sosial yang menarik minat kami masing-masing.
Fenomena sosial yang menarik perhatian itu contohnya seperti—
Hal-hal yang belakangan ini terasa mengganjal.
Hal-hal yang ingin dilihat dalam bentuk angka nyata.
Atau hal-hal yang terasa memiliki pergeseran antara opini publik dan kenyataan riil di lapangan.
Hal-hal semacam itulah.
Mahasiswa diminta menuliskan poin-poin tersebut, lalu setelah mendiskusikan area minat yang dikumpulkan, barulah topik permasalahan kali ini ditentukan.
"Aku mencoba meminjam buku yang membahas tentang organisasi NPO yang sempat kita bahas untuk dikunjungi nanti. Ini bukunya..."
Aku mengeluarkan buku yang baru saja kupinjam dari perpustakaan dari dalam tas, lalu menaruhnya di atas meja.
"Bahkan sampai ada 3 buku."
Hembusan napas berat kembali lolos seolah ingin bilang betapa suramnya hal ini, lalu jarinya mengusap poni rambut yang menutupi matanya. Gestur semacam itu memang sangat cocok untuk sosok seperti Kikuchi.
Padahal Kikuchi sendiri sempat mengaku kalau dia masuk ke zemi ini karena memang tertarik, tapi begitu membayangkan betapa sulitnya tugas dan proses fieldwork nanti, wajar jika mentalnya terasa berat.
Namun, ini adalah hal yang memang diperlukan.
Di dunia ini, ada anak-anak yang terluka akibat ketidakharmonisan keluarga. Contohnya, orang tua yang tidak lagi mau membuatkan makanan untuk mereka.
Di zaman modern saat ini, organisasi untuk menolong anak-anak semacam itu nyata keberadaannya.
Mengingat temanya, mengunjungi organisasi semacam itu untuk menggali informasi rasanya memang sangat dibutuhkan. Lagipula ada sekitar dua atau tiga organisasi yang markas pusatnya berlokasi cukup dekat dari kampus—
"Tempat yang mau kita kunjungi ini sepertinya organisasi yang punya sejarah lumayan panjang, ya. Begitu kubaca sekilas, anu—"
Aku melihat deretan poin catatan di aplikasi pesan ponselku.
"Fasilitas short stay yang menargetkan anak-anak sampai tingkat kelas 6 SD—maksudnya tempat penitipan sementara, sih. Lalu ada juga layanan konsultasi untuk wali murid. Katanya ada psikiater klinis atau psikolog terlisensi... yang bersiaga di sana. Soal detail pekerjaan mereka nanti harus kucari tahu lagi, sih. Orang-orang itu bersiaga di Pusat Bantuan Keluarga dan Anak ini—"
"Tunggu, tunggu, tidak sanggup menghafalnya. Lagipula percuma juga kalau cuma menjelaskan ke aku saja, kan."
"Aah... benar juga, ya."
"Tuh, sepertinya mereka sudah datang."
Pandangan Kikuchi melewati bahuku, tertuju ke arah pintu masuk kafe. Aku ikut menoleh mengikuti arah pandangannya. Dua orang sisanya dari Kelompok D zemi Profesor Mori tampak baru saja melangkah masuk melewati pintu otomatis.
Sesi zemi semester awal berikutnya berlangsung 3 hari kemudian.
Perkuliahan dilaksanakan di ruang latihan kelompok kecil yang biasa kami pakai. Kapasitas zemi memang tergolong sedikit, jadi aku merasa ukuran ruangan ini sangat pas untuk berdiskusi.
Hari itu tidak ada yang absen, seluruh anggota berkumpul di ruang latihan.
"Kalau begitu, emm, baiklah. Mari kita dengarkan ide-ide yang sudah kalian pikirkan sebagai pendekatan terhadap tema masing-masing. Bagaimana kalau kita mulai gilirannya secara berurutan dari Kelompok A?"
Sesi presentasi mengenai apa yang akan diteliti oleh masing-masing kelompok saat fieldwork pun dimulai.
Di atas papan tulis putih besar di depan ruang latihan, poin-poin mengenai apa dan bagaimana cara mereka meneliti saat fieldwork mulai dituliskan. Begitu satu presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dan setelah itu berganti ke giliran kelompok berikutnya.
Hingga akhirnya giliran kelompok kami pun tiba.
"Meskipun temanya adalah anak-anak yang terisolasi di dalam rumah, kenyataannya ada berbagai macam situasi yang sangat beragam."
Entah kenapa, dengan alasan tak jelas bahwa suaraku adalah yang paling lantang dan jelas, tugas mempresentasikan diserahkan padaku. Sedangkan tugas menuliskan poin di papan tulis diserahkan pada Kikuchi dengan alasan tulisan tangannya rapi.
"Oleh karena itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu situasi seperti apa saja yang dihadapi oleh anak-anak yang terisolasi ini. Jika tidak memulai dari sana, penelitian tidak akan bisa berjalan. Begitulah pemikiran kelompok kami."
Mencari tahu kondisi yang dialami anak-anak yang terisolasi. Inilah yang menjadi tujuan penelitian kami.
Oleh karena itu, kami berpikir untuk mengunjungi organisasi yang diperkirakan memahami situasi sosial semacam itu guna melakukan wawancara. Poin-poin yang ingin diteliti dan digali oleh kami berempat adalah 3 hal berikut:
・Di tahap mana keluarga yang membutuhkan bantuan akhirnya bisa menjangkau bantuan tersebut.
・Sebaliknya, di tahap mana bantuan itu gagal menjangkau mereka hingga mereka terabaikan.
・Bagaimana lalu lintas informasi yang terjadi di antara pihak-pihak terkait: pemerintah, sekolah, NPO lembaga bantuan, keluarga, hingga warga sekitar.
Hal-hal inilah yang ingin kami ketahui.
Di saat yang sama, kami juga ingin mencoba menyebarkan kuesioner kepada anak-anak yang sedang menerima bantuan dari organisasi tersebut.
Wawancara terhadap pihak organisasi, serta kuesioner untuk anak-anak yang dibantu oleh organisasi tersebut. Inilah rencana fieldwork dari kami, Kelompok D.
Profesor Mori yang menyimak presentasi kami dalam diam mendadak mengacungkan tangannya.
"Jika kalian sudah memikirkan poin-poin kuesionernya, bisakah tolong sertakan juga di sana?"
Kami berempat seketika saling bertatap muka. Kami belum sempat berdiskusi sampai ke detail isi kuesioner. Bagaimana ini? Kami saling memberi isyarat mata.
"Sebagai bahan draf kasar saja tidak apa-apa, kok. Bisakah tuliskan satu atau dua poin di sana?"
Jika sudah diminta seperti itu, kami tidak punya celah untuk kabur. Kikuchi bergumam "Ya sudah, kucoba tulis seadanya dulu..." sambil menuliskan pertanyaan pertama. Aku dan dua orang sisanya ikut menambahkan poin pertanyaan yang terlintas di kepala kami masing-masing.
Di atas papan tulis putih, empat kalimat pertanyaan berjejer rapi ditulis memakai tulisan tangan Kikuchi yang halus.
・Apakah kamu pernah merasa tidak memiliki tempat beralih di dalam rumah?
・Apakah kamu pernah merasa tidak ingin pulang ke rumah?
・Apakah kamu pernah berada di situasi tidak bisa makan dengan cukup?
・Apakah kamu memiliki masalah/keluhan yang tidak bisa dikonsultasikan kepada orang tua?
Apa yang ingin ditanyakan kepada anak-anak. Jika memikirkan hal itu, isi pertanyaannya tentu sangat bisa dipahami.
Namun, saat membaca ulang pertanyaan-pertanyaan yang tertulis di papan tulis itu beberapa kali, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal dan mengendap di dalam hatiku.Apakah pertanyaan seperti ini pantas ditanyakan kepada anak-anak tingkat SD?
Kalau diingat-ingat, aku sendiri tidak punya ingatan pernah merasa sampai 'terisolasi'. Paling mentok cuma merasa 'kesepian', dan yang terpenting aku tidak pernah terlibat pertengkaran hebat dengan Ayah. Ibu pun tidak pernah melakukan kekerasan padaku. Beliau cuma meratapi kegagalanku saat ujian masuk dan memasang raut wajah kecewa.
Namun, seandainya diriku di masa lalu disodori pertanyaan seperti ini, aku yakin diriku tidak akan merasa nyaman.
Setelah Ibu pergi dari rumah, meskipun aku tidak sampai kelaparan, kalau ditanya apakah aku suka duduk makan sendirian di meja makan yang sepi... jawabannya tentu tidak. Yah, walau begitu sejak aku mulai membaca buku, perasaan negatif semacam itu tidak pernah kurasakan lagi. Jujur saja saat itu aku cuma ingin makan dengan cepat lalu segera kembali ke dunia buku.
Tapi, tidak semua anak punya dunia tempat melarikan diri seperti diriku.
Sebagai poin kuesioner, ini memang krusial. Aku memahaminya.
"Dari segi isi, saya bisa memahami apa yang ingin Anda ketahui demi kepentingan penelitian."
Profesor Mori mulai berbicara dengan nada suara lembut yang menyelipkan sedikit ketegasan.
"Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlalu blak-blakan (too direct)."
Terlalu blak-blakan.
Dengan kata lain, kalimat itu terlalu menanggalkan kehalusan bahasa dan hiasan kata, hingga terlalu menancap tepat di inti masalah. Kalimat itu disusun tanpa menyisakan ruang bagi responden yang ditanyai untuk melarikan diri.
"Kalimat seperti itu berpotensi menyudutkan responden."
Seketika raut wajah semua orang berubah terkejut.
"Lokasi penelitian, sebelum menjadi objek penelitian kalian, adalah ruang hidup (living space) bagi seseorang. Bukankah tujuan kalian di sini justru bergeser hanya demi mendapatkan data?"
Seorang mahasiswi yang duduk di kursi paling dekat dengan papan tulis mengangkat tangannya dengan ragu-ragu lalu berbicara.
"Anu... Profesor Mori. Saya ingin mengonfirmasi bagian tentang 'potensi menyudutkan responden' tadi. Apakah maksudnya, pertanyaan seperti 'Apakah kamu pernah merasa tidak memiliki tempat beralih di dalam rumah' justru akan membuat anak tersebut semakin tersadar bahwa dirinya memang tidak punya tempat beralih di rumah, sehingga membuat mereka memandang situasinya secara jauh lebih negatif?"
Profesor Mori mengangguk.
"Mengerikan sekali..."
Seseorang berbisik pelan.
Profesor Mori mengedarkan pandangannya menatap wajah seluruh mahasiswa satu per satu lalu melanjutkan.
"Saya tidak menampik adanya tipe individu bermental kuat yang justru sanggup bangkit begitu memahami secara pasti situasi yang dihadapinya. Namun, emm... Jangan lupa bahwa pihak yang memegang jawaban yang dicari oleh Asamura-kun dan kawan-kawan adalah anak-anak tingkat SD. Mereka bukanlah orang dewasa."
Mahasiswi yang mengangkat tangan tadi mengangguk setuju.
"Selain itu, pertanyaan yang terlalu blak-blakan seperti ini tidak selalu sanggup memancing jawaban yang jujur. Karena ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab."
Beberapa orang kembali mengangguk menyetujui ucapan tersebut.
Di belakangku, Kikuchi berbisik pelan.
"Pihak yang bertanya mungkin bisa bertanya dengan santai, tapi belum tentu pihak yang ditanyai merasakannya begitu... ya."
Sangat masuk akal, batinku menyetujui.
Di sinilah letak perbedaannya dengan eksperimen fisika atau kimia. Objek dari fieldwork adalah manusia hidup... Manusia bernyawa yang memiliki perasaan. Kita bertanya karena ingin tahu. Kita bertanya karena butuh. Itu semua hanyalah kepentingan egois dari sisi peneliti saja.
Di sana, bisa saja tercipta sebuah pertanyaan yang bagi manusia bernyawa terasa sangat eksploitatif dan menyakitkan.
"Pertanyaan seperti ini harus dikemas dan dirapikan sedemikian rupa agar responden dapat menjawabnya tanpa memberikan tekanan psikologis. Selalu sadari siapa sosok yang sedang kalian tanyai itu."
"Siapa sosok yang sedang ditanyai... ya."
Gumamankualami yang lolos tanpa sadar itu direspons langsung oleh Profesor Mori.
"Benar sekali, Asamura-kun. Penyampaian kata harus selalu memperhitungkan siapa pihak yang diajak bicara. Sebab dengan kata yang sama pun, cara penerimaannya bisa berubah tergantung siapa yang mendengarnya. Dengan kata lain, kita perlu memakai bahasa yang disesuaikan dengan lawan bicara."
Lalu, setelah berdeham pelan sekali, Profesor Mori melanjutkan.
"Sebagai draf awal, Kelompok D sudah memberikan contoh kasus yang sangat bagus. Ini adalah draf yang dipaksa keluar sebelum sempat didiskusikan, jadi ini sudah sangat cukup. Nah, semuanya, seandainya kalian diminta memperbaiki kalimat kuesioner ini, menurut kalian kalimat seperti apa yang bagus? Coba kalian pikirkan sebentar."
Mulai deh, batin semua orang serempak.
Tujuan Profesor Mori bukanlah untuk mencari-cari kesalahan. Beliau yang sangat mengagumi keaktifan mahasiswa dalam berpendapat akan memuji terlebih dahulu keberanian kami melontarkan ide. Namun beliau tidak menghentikannya di sana, melainkan memperluas obrolan dan menuntut mahasiswa untuk berpikir lebih dalam.
Gara-gara hal inilah setiap kali sesi zemi berakhir, seluruh mahasiswa selalu mengakhirinya dengan kondisi lelah luar biasa.
Bukan fisik yang lelah, melainkan otak. Begitu selesai, perut bahkan benar-benar terasa lapar. Merasakan secara nyata bahwa fisik, mental, dan intelektual itu saling terhubung erat—itulah ciri khas zemi Profesor Mori.
Seluruh mahasiswa mulai menatap tajam ke arah papan tulis dan berpikir.
Keheningan melingkupi ruangan.
Orang pertama yang mengangkat tangan adalah aku.
"Anu..."
"Silakan, Asamura-kun."
"Daripada bertanya secara langsung apakah mereka punya tempat beralih di rumah atau tidak, bukankah akan lebih baik jika ditanyakan seperti: apakah setelah pulang sekolah atau di hari libur ada tempat yang bisa membuat mereka merasa aman dan tenang?"
Aku bukannya punya rasa percaya diri penuh, tapi Profesor Mori menganggukkan kepala.
"Bagus sekali. Alih-alih menggali pengalaman negatif secara langsung, Anda justru mempertanyakan ada atau tidaknya tempat yang membuat tenang. Dengan begitu, beban psikologis responden bisa sedikit dikurangi."
Jujur saja aku merasa lega. Mungkin karena jawabanku menjadi pemicu awal, Kikuchi ikut mengangkat tangan dan melempar ide perbaikan dengan berujar "Kalau begitu...", dan dari sana muncul berbagai macam pendapat lainnya.
Melihat para mahasiswa zemi saling bertukar pendapat, Profesor Mori mengawasinya dengan sorot mata tajam yang menyelipkan binar kelembutan.
Pada akhirnya, kuesioner berhasil dirangkum menjadi kalimat-kalimat seperti berikut:
・Apakah ada tempat yang membuatmu merasa aman dan tenang setelah pulang sekolah atau di hari libur?
・Apakah ada orang dewasa yang bisa diajak berkonsultasi saat kamu mengalami kesulitan?
・Apakah ada tempat yang membuatmu merasa rileks selain di rumah?
・Apakah ada hal yang membuatmu merasa cemas mengenai makanan atau tidur?
・Saat merasa pusing/cemas memikirkan masalah rumah, kepada siapa kamu ingin berkonsultasi?
"Yup. Sangat bagus. Tapi, poin ketiga masih bisa diperbaiki lagi, lho. Frasa 'selain di rumah' sebenarnya boleh dihapus. Sebab jika kita melihat jawaban yang masuk apakah itu rumah atau bukan, pihak pengumpul data tinggal menyaring jawaban rumah, dan secara otomatis sisanya adalah 'selain di rumah'."
Ah, semua orang mendadak menganga.
Memang benar, jika sejak awal ditanyai "selain di rumah", anak yang tidak memiliki tempat tenang di rumahnya akan makin tersadar akan kenyataan pahit itu. Permasalahan awal tadi ternyata masih tersisa. Padahal hal itu bisa dihindari hanya dengan pihak pengumpul data menambah sedikit kerepotan di proses penyaringan.
"Tapi secara keseluruhan menurut saya ini sudah sangat bagus."
Memang benar, hanya dengan menggeser sedikit sudut pandang pertanyaannya, kesan yang diterima dari kalimat-kalimat itu tidak lagi terasa sekeras dan setajam awal tadi. Kesan mengganjal yang sempat dirasakan hatiku sebelumnya telah sirna. Kalimatnya tidak lagi menyudutkan dan menancap keras, melainkan memberikan celah jalan keluar bagi responden.
Profesor Mori menjelaskan bahwa pola pikir seperti ini merupakan pendekatan yang diakui dalam bidang pemasaran, wawancara, maupun psikologi, lalu menyebutkan beberapa literatur pustaka. Aku mencatatnya dengan sekuat tenaga.
Sebagai penutup, Profesor Mori memberikan satu kalimat pengantar sebelum memulai fieldwork, lalu berbicara dengan nada suara pelan:
"Jangan sampai kalian hanya terburu-buru mengejar kumpulan data semata. Jangan sampai kalian dipermainkan oleh angka."
Meskipun disampaikan bukan dengan nada menegur yang keras, melainkan dengan penyampaian yang tenang dan lembut, ucapan itu sanggup membuat semua orang terhenyak menyimak.
Begitu dikonversi menjadi angka, hal-hal abstrak sering kali lenyap dan terabaikan, padahal pihak yang melahirkan fenomena sosial tersebut adalah manusia bernyawa, bukanlah benda mati.
"Di balik setiap fenomena tunggal, ada manusia hidup yang bernapas, dan apa yang muncul di permukaan sebagai fenomena sosial adalah hasil dari dinamika kehidupan mereka."
Profesor Mori berulang kali menyampaikannya dengan berbagai perumpamaan agar kami tidak melupakannya saat turun fieldwork sosilogi nanti. Bahwa di balik deretan angka yang kita olah, ada hati manusia yang terbaring di sana. Jangan pernah melupakannya dan memandangnya cuma sebatas gumpalan data belaka.
Meskipun ini adalah bentuk teguran atau wanti-wanti untuk mahasiswa, mungkin karena gaya penyampaian Profesor Mori yang tenang, kata-kata yang diucapkan dengan suara lembut itu dapat meresap masuk ke dalam hatiku dengan sangat mulus. Semua orang yang ada di sana pun memasang raut wajah bersungguh-sungguh sambil mengangguk beberapa kali, menandakan ucapan itu meresap ke dalam hati mereka dengan cara yang sama.
Rasanya lebih mirip sebuah doa ketimbang sebuah wanti-wanti.
"Penelitian bukanlah proses merebut jawaban secara paksa. Melainkan proses menciptakan ruang tempat lawan bicara dapat menjawab dengan nyaman."
Profesor Mori mengucapkan hal itu lalu mengakhiri sesi zemi.
"Memang tidak salah aku memilih masuk ke sini. Benar-benar sangat menarik."

Aku menyetujui ucapan Kikuchi sambil membalas, "Tapi, urusan yang harus dikerjakan makin bertambah, ya."
Buku yang harus kubaca bertambah lagi.
Di minggu yang sama, aku juga ada jadwal rapat dengan Torigoe-san dari tempat magangku.
Torigoe-san adalah orang yang mempekerjakanku di perusahaan penyuntingan (editor production). Saat ini aku bekerja sebagai asistennya.
Berkat kebaikan Torigoe-san, saat ini beliau mengizinkanku melakukan pekerjaan tersebut secara daring. Sebab aku ingin membantu urusan di rumah utama. Kalau mau dibilang pakai bahasa keren, semacam remote work.
Hari itu pun aku sedang rapat bersama Torigoe-san lewat panggilan video dari kamarku sendiri di rumah utama.
"Mengenai dokumen yang saya unduh ini..."
Karena menyesuaikan jumlah hari dari jadwal sebelumnya terbilang perlu dilakukan, aku bertanya kepada Torigoe-san yang tampil di layar panggilan video. Rasanya mustahil bisa mengejar batas waktu penyerahan draf yang ada di lembar jadwal operasional.
"Aah, iya. Saya sudah bersiap-siap kalau misalnya bakalan terlambat 1 hari, kok. Mau seberapa keras pun sang penulis berusaha, sepertinya mustahil minta beliau menyelesaikannya lebih cepat dari hari itu. Kalau sampai kesehatannya tumbang, malah makin amburadul nanti."
Kalau begitu...
"Penyerahan drafnya berarti hari Jumat, ya..."
"Yah, berhubung saya dari awal sudah memasang batas waktu pada hari Kamis sebagai buffer 1 hari lebih cepat, rasanya bakal pas-pasan terkejar, sih. Tapi kalau sampai hari Jumat tidak bisa diserahkan, terpaksa mundur ke hari Senin, deh."
Tolong jangan melontarkan ramalan yang membawa kesialan.
"Kalau begitu... gawat juga, ya."
"Nggak, aman kok. Keterlambatan segini sih belum masuk kategori gawat. Situasi baru dibilang gawat kalau mesin cetak sudah disuruh berhenti dan tim di lapangan harus menerima draf hitungan menit lalu langsung menjejalkannya di tempat—nah, yang begitu baru gawat namanya."
Itu sih sudah melewati batas imajinasiku dalam berbagai hal...
"Yah, tapi situasi se-ekstrem itu sudah tidak pernah saya alami dalam beberapa tahun terakhir ini, sih. Jumlah penulis yang menaati jadwal dengan bersungguh-sungguh sudah makin bertambah—eh, tunggu?"
Uwah, aku panik.
Aku refleks mematikan mikrofon (mute). Walaupun aku menghentikan perekaman suara dari sisiku, sepertinya Torigoe-san tetap sempat mendengarnya.
Alasan Torigoe-san mendadak menghentikan obrolannya adalah gara-gara suara tangisan Akari yang tertangkap oleh mikrofonku. Sepertinya dia baru saja terbangun dan mulai menangis karena tidak merasakan keberadaan ibunya. Suara tapak kaki Ibu Tiri Akiko yang bergegas berlari dari dapur menuju kamar tidur terdengar sampai ke luar kamarku.
"Bayi?"
"A... iya."
Aku menyalakan mikrofon lalu memberikan jawaban. Setelah itu aku menekan tombol mute lagi. Suara Ibu Tiri Akiko yang sedang menimang Akari terdengar dari luar. Perlahan-lahan suara tangisannya mulai mereda.
"Adik perempuanmu, kan?"
Aku mengangguk ke arah layar. Saat meminta izin untuk remote work kepada Torigoe-san dulu, aku sudah menjelaskan secara garis besar mengenai situasi dan alasan keluargaku.
Memperhitungkan suara Akari yang sudah tidak terdengar lagi, aku menyalakan mikrofon kembali.
"Iya. Adik perempuan saya."
"Siapa namanya?"
"Akari. Ditulis memakai kanji 'pelita' dan 'desa'..."
"Nama yang bagus, ya."
"Terima kasih banyak."
Soal namanya yang dipuji nanti bakal kuceritakan juga kepada Ayah dan yang lainnya.
Rapat mendadak terhenti di tengah jalan, tapi Torigoe-san tidak kelihatan terburu-buru. Beliau malah melemparkan topik tentang pengasuhan anak. Aku menjawab seadanya setiap kali ditanyai. Bahwa saat ini aku sedang berada di rumah utama, bahwa aku sesekali membantu merawat Akari, bahwa cara menggendongku saja masih belum luwes...
"Ayah saya tetap jauh lebih lihai, kalau saya yang menggendong dia tidak mau berhenti menangis."
Begitu aku mengeluh, Torigoe-san tertawa.
"Tidak perlu meratap sampai sejauh itu, kan. Jam terbangmu dan Ayahmu itu jelas berbeda."
"Yah, memang benar sih."
"Dulu waktu anak pertamaku lahir, aku juga dibuat pasrah kebingungan karena dia tidak mau berhenti menangis, kok."
"Torigoe-san juga begitu?"
Torigoe-san di balik layar mengangguk.
"Awalnya bagaimanapun cara kutimang, dia tidak mau berhenti menangis."
"Iya, kan."
"Pukulan mental banget rasanya. Padahal saat itu aku merasa sudah punya pengalaman yang lumayan sebagai orang kantoran, dan mengira diriku cukup jago dalam hal membaca serta menjaga suasana hati klien bisnis. Tentu saja berhubung ini anak pertama, aku sudah bersiap kalau segalanya tidak berjalan mulus, tahu? Tapi kalau mau dibilang begitu, istriku saat itu kan juga sama-sama baru pertama kali mengasuh anak."
"Itu... paham, sih."
"Niatnya aku mau menunjukkan kalau aku sanggup mengimbangi istriku. Tapi begitu menghadapi bayi, ternyata menjaga suasana hatinya jauh lebih sulit dibanding melayani klien bisnis. Di dalam pelukan istriku dia bisa tidur dengan tenang, tapi begitu berada di depanku dia malah menangis kejer seperti kebakaran."
"Soalnya kan sosok ibu sudah menghabiskan waktu bersama dalam arti kata yang sebenarnya selama 10 bulan bahkan sebelum si bayi lahir."
Seingatku Ibu Tiri Akiko pernah berkata begitu kepada Saki. Aku ingat sempat berpikir memang benar juga, ya.
Mau itu suara maupun detak jantung, semuanya sudah sangat familier bahkan dari sebelum dilahirkan.
"Kalau mau menyainginya, rasanya pihak laki-laki harus melakukan modifikasi tubuh dulu lalu mengambil alih dan membesarkannya di dalam perut selama sekitar 5 bulan, kalau tidak mana mungkin sanggup..."
Saat kubalas begitu, Torigoe-san sempat memasang raut wajah cengong sejenak sebelum akhirnya berkata dengan penuh kepasrahan:
"Asamura-kun ini suka melontarkan ucapan yang menarik, ya. Tapi yah, memang bisa dibilang begitu. Bayi itu kan sama sekali tidak mau memaklumi situasi kita, kan?"
Suaranya terdengar lebih seperti orang yang sedang bernostalgia ketimbang orang yang sedang mengeluh.
"Yah. Memang benar."
Kami berdua saling bertatap mata lalu sama-sama menggidikkan bahu.
"Aku baru mulai terbiasa sewaktu anak kedua lahir. Sebelum itu sih aku cuma memaksakan diri bersikap pasrah saja. Sampai sekarang pun aku tidak punya rasa percaya diri kalau aku sudah mengasuh anak dengan benar. Aku cuma melakukan apa yang bisa kulakukan saat itu semaksimal mungkin. Apalagi urusan membesarkan anak kan masih belum selesai."
Ucapan Torigoe-san membuatku merenung. Sejauh yang kudengar dari obrolannya, Torigoe-san setidaknya punya dua orang anak. Meski begitu, beliau tetap tidak memiliki perasaan bahwa pengasuhan anaknya sudah dinilai 'cukup'.
—Cuma melakukan apa yang bisa kulakukan saat itu semaksimal mungkin.
Mungkinkah... beliau sebenarnya sedang mencoba menyemangatiku?
Aku menyadarinya.
"Di generasi Asamura-kun pasti bakal terasa jauh lebih berat, ya."
Emm? Aku memiringkan kepala.
"Generasi... saya?"
"Di generasi kalian kan zaman di mana tidak ada bayi di sekitar kalian, kan? Tidak seperti zaman dulu di mana seorang wanita bisa melahirkan hampir 10 orang anak."
"10 orang anak itu kan zaman yang lumayan jadul, ya."
Katanya era dari zaman Meiji sampai Taisho adalah masa-masa di mana angka kelahiran di Jepang berada di tingkat tertinggi. Pada masa itu, dalam kasus wanita yang berumur panjang dan terus melahirkan sepanjang hidupnya, melahirkan dan merawat hampir 10 orang anak bukanlah hal yang langka. (Namun berhubung tingkat kematian bayi pada masa itu juga tinggi, biarpun melahirkan sebanyak itu, jumlah yang berhasil tumbuh sampai dewasa terbilang sedikit...). Walau itu cerita zaman kuno, pada era yang dinamakan baby boom pascaperang (sekitar 70-80 tahun lalu) pun rata-rata wanita melahirkan lebih dari 4 orang anak.
Memang benar jika di era seperti itu, kesempatan untuk melihat bayi dalam kehidupan sehari-hari pasti sangat banyak, dan kesempatan melihat proses pengasuhan anak milik orang lain pun pasti tidak sedikit.
"Kalau kamu anak sulung laki-laki atau perempuan, mengurus adik laki-laki atau perempuan yang jarak usianya jauh kan bukan hal yang aneh. Sama seperti Asamura-kun yang sekarang ini."
"Kalau itu, mungkin memang benar."
Begitu rupanya, jadi begitu maksudnya. Dulu aku mengira nilai pengalaman mengasuh anak cuma bisa didapatkan saat menghadapi anak kandung sendiri yang lahir setelah menikah, tapi di zaman yang sangat lampau, selama ada bayi yang lahir di dalam komunitas pemukiman, kesempatan untuk ikut merawatnya pasti selalu ada.
"Meskipun Jepang zaman sekarang dasarnya adalah keluarga inti, tapi zaman dulu di dalam satu rumah tinggal orang-orang dari berbagai rentang usia mulai dari yang paling tua sampai yang paling muda. Pada masa itu, tingkat kemungkinan bertemu bayi dari awal memang sudah tinggi. Kesempatan untuk belajar mengasuh anak pun tentu saja jauh lebih banyak. Dibandingkan masa itu, zaman sekarang terbilang merugikan, ya."
Jika dipikir-pikir seperti itu, timbul juga pemikiran di kepalaku: bukankah lingkungan zaman modern saat ini sebenarnya tidak cocok untuk membesarkan anak?
"Yah, demi adik perempuanmu yang lucu, semangat ya kerjanya."
Meskipun di akhir kalimat beliau mengucapkannya dengan nada bergurau, aku tetap merasa ini adalah bentuk dorongan semangat dari seorang senior dalam hal mengasuh anak.
Ini pertama kalinya aku berinteraksi dengan sosok 'seorang ayah' selain Ayahku sendiri. Perasaan yang kurasakan seperti itu.
Setelah menyelesaikan rapat dengan Torigoe-san dan memperbarui jadwal pekerjaan, aku melangkah menuju ruang keluarga.
Aku merasa cemas memikirkan Akari yang tadi sempat menangis.
Saat mengintip ke dalam ruangan, Ibu Tiri Akiko sedang duduk di sofa sambil menimang Akari.
"Maaf ya, Yuta-kun. Padahal kamu lagi kerja tapi tadi berisik, ya."
"Tidak apa-apa, kok. Situasi di sini juga sudah kujelaskan ke pihak sana."
Pandanganku mengikuti sosok Ibu Tiri Akiko, Akari, lalu Saki. Saki tidak berada di ruang keluarga, melainkan sedang duduk di kursi area ruang makan.
Aku menyadari ada satu orang yang seharusnya ada di sini tapi tidak kelihatan.
"Ayah ke mana?"
"Sedang pergi berbelanja bahan makanan untuk makan malam, kok."
Sudah jam segini, ya. Seandainya rapatku selesai sedikit lebih awal, harusnya aku bisa pergi berbelanja menggantikan Ayah.
Saat kembali menatap Saki, dia sedang bertopang dagu.Lho, batinku. Rasanya dia kelihatan kurang bersemangat. Sesekali pandangannya goyah menatap ke arah Ibu Tiri Akiko dan Akari, lalu menghela napas pelan.
Aku merasa kepikiran, tapi untuk saat ini aku harus menuntaskan percakapan dengan Ibu Tiri Akiko dulu.
"Kalau begitu, begitu Ayah pulang nanti aku akan buatkan makan malam, ya. Setelah itu baru aku pulang ke Hino."
"Kamu tidak ikut makan dulu?"
"Bagaimana, ya. Kalau pulang terlalu larut nanti ada persiapan untuk kuliah juga, sih."
"Kalau begitu Ibu tidak mau memaksakan, sih, tapi Akari pasti bakal merasa kesepian"
Sambil berkata begitu, beliau menunduk ke arah Akari di dadanya dan berujar, "Kamu mau makan bareng Kakak, kan?" Tidak, biarpun diajak bicara begitu kan dia belum paham... Lagipula jadwal makan Akari masih berbeda dengan jam makan malam kami, dan dia kan masih minum susu.
Pernyataan masuk akal semacam itu tentu saja tidak akan kuucapkan, karena hal itu akan merusak niat Ibu Tiri Akiko yang ingin membuat Akari merasakan kehangatan suasana kebersamaan keluarga.
Lagipula, melihat raut wajah Ayah yang tampak sangat bahagia saat menyantap makanan sambil mengawasi Akari di dalam ranjang bayinya, demi kedamaian keluarga Asamura, aku pun punya perasaan ingin makan bersama sebanyak mungkin.
"Kalau begitu, aku makan dulu saja, deh."
"Yup. Senangnya, ya, Akari."
Alasan beliau mengucapkan hal itu dengan suara yang agak ditahan adalah karena Akari di dadanya mulai menunjukkan tanda-tanda agak rewel. Sambil tetap menggendong Akari, Ibu Tiri Akiko berdiri lalu bergoyang pelan untuk membujuknya. Sambil terus menimangnya, beliau melangkah menuju kamar tidur.
Aku yang ditinggalkan sendirian mendudukkan diri di hadapan Saki.
"Kamu kenapa?"
"Emm? ...Aah."
Saki mendongak dan memasang ukiran senyum di wajahnya, tapi tetap saja kelihatan ada yang kurang bersemangat dari dirinya.
Saat aku menunggunya tanpa mengucapkan apa-apa, setelah melontarkan gumaman tak berati seperti Emm~ atau Aah~, dia mendadak berbisik pelan.
"Aku mendadak berpikir kalau sepertinya aku tidak bakal sanggup jadi seorang ibu."
Aah, begitu rupanya.
Karena aku sendiri sempat memikirkan hal yang mirip, tanpa perlu mendengar kelanjutannya pun di dalam hati aku sudah bisa memahami perasaan Saki. Namun saat hendak melontarkan hal-hal yang kupikirkan tadi, aku mengurungkannya begitu melihat raut wajahnya. Ada suara bisikan di dalam hatiku yang menahan: Tunggu sebentar. Aku mengarahkan wajahku agar masuk ke dalam jarak pandang Saki, mengangguk satu-dua kali, lalu menunggunya sampai dia sendiri yang mau mulai berbicara.
"Dengar ya."
"Emm."
"Tadi aku diminta 'Bisakah tolong jagakan sebentar mumpung Ibu lagi buat susu?'. Sepertinya hari ini ada rasa sakit di bagian putingnya. Makanya mau diselingi susu formula."
"Emm."
"Tapi, dia sama sekali tidak mau berhenti menangis. Mumpung Ibu lagi buat susu dia terus-menerus menangis... Tapi pikirku kalau dia lagi lapar kan mau bagaimana lagi."
"Emm."
Jangan terburu-buru. Perlahan-lahan saja.
"Tapi ya. Begitu selesai buat susu dan sebelum botol susunya menempel di mulut Akari, begitu Ibu bilang 'Terima kasih ya sudah dijagakan' sambil menggendong Akari, sekali tepuk dia langsung berhenti menangis."
Aku sedikit bisa memahaminya.
Aku tidak berniat bilang bahwa bagaimanapun kita berusaha, kita tidak akan bisa menang dari orang tua kandung.
Pada kenyataannya pasti ada saja orang tua yang tidak disukai anaknya, dan mungkin saja ada gadis SMA yang bisa dengan mudah membuat bayi berhenti menangis. Bahkan ada juga hubungan anak dan orang tua angkat tanpa ikatan darah yang mampu membangun hubungan keluarga yang sangat harmonis. Kenyataan itu terbilang rumit.
Lagipula kan ada masa-masa interaksi dua arah selama 10 bulan yang tadi itu. Saki tidak perlu meratap cuma gara-gara dirinya tidak bisa melakukan hal yang sama seperti Ibu kepada Akari saat ini.
Hal-hal seperti itu sebenarnya bisa saja kusamapaikan lagi padanya, tapi kalau disampaikan pun, apakah suasana hati Saki bakal kembali terangkat? Saki sendiri secara logika bukankah sudah memahaminya?
Dia tahu, tapi tetap saja merasa murung. Mungin kalimat yang lebih tepat adalah terlanjur merasa murung. Bukan lewat logika, melainkan lewat perasaan. Makanya tidak ada gunanya jika dijelaskan memakai logika. Dibandingkan kesan yang kuterima dari tindak-tanduknya sehari-hari, pada kenyataannya Saki ini sebenarnya punya kepribadian yang cukup kaya akan emosi—eh tidak ding, sebenarnya diriku sendiri juga sama saja, sih.
Aku menyadari Saki sedang menatap ke arahku sambil mengerucutkan bibirnya.
—Eh?
"Kenapa tertawa?"
"Nggak, kok, aku tidak tertawa."
"Bohong, bohong. Tadi kamu tertawa!"
Saki hampir menaikkan volume suaranya, sebelum akhirnya buru-buru menutup mulutnya sendiri memakai tangan. Setelah memastikan tidak ada suara tangisan Akari yang terdengar dari kamar tidur, barulah dia melepaskan tangan yang menutupi mulutnya. Dia menghela napas lega.
Lalu, dia melirik menatapku dengan tajam.
"Bukan, sungguhan... aku bukannya tertawa, kok. Cuma terpikir saja kalau kita ini ternyata jauh lebih dikendalikan oleh perasaan melebihi dari yang kita bayangkan."
Dia menatapku dengan mata yang seolah bilang apa maksudnya?
"Maksudku, kita tidak ada bedanya dengan Akari."
Begitu kuucapkan hal itu, Saki mencoba membalas dengan ujaran Tapi kan—.
"Dunia ini tidak secantik dan seramah itu terhadap orang dewasa, kan."
"Memang benar. Kalau bayi, asal menangis kan kapan saja bakal ada yang menggendong atau menolong, mereka bisa mengharapkan hal semacam itu. Sampai batas tertentu."
Biarpun bayi menangis, orang-orang di sekitarnya tidak akan membiarkannya begitu saja. Dunia belum berubah menjadi sekejam itu.
Untuk saat ini, masih belum.
"Makanya, kalau bertindak menuruti perasaan terus kan tidak boleh. Kalau mau jadi orang dewasa... kalau mau jadi seorang ibu."
Aku mengangguk. Dan hal itu juga berlaku untuk diriku sendiri.
"Tapi, munculnya perasaan semacam itu kan wajar, makanya tidak ada gunanya kalau ditolak."
Sambil berbicara dengan suara berbisik, aku mengintip ke arah kamar tidur. Dengan suara yang ditahan sesedikit ini, karena pintunya tertutup rapat, Ibu Tiri Akiko yang ada di dalam kamar tidur tidak akan mendengarnya.
"—Makanya, kamu boleh kok menaruh sedikit harapan padaku."
"Harapan?"
"Soalnya kalau mendengar suara tangisan Saki, aku berniat untuk bergegas datang dan menolongmu."
Begitu kuucapkan hal itu, rona merah tipis mendadak muncul di pipi Saki.
"Aku kan bukan bayi."
Meskipun diucapkan sambil memasang tatapan agak melotot, dia kelihatan sedikit senang.