Memuat...
Persimpangan jalan setelah hujan reda.
Permukaan jalan yang masih basah di sana-sini memantulkan sinar matahari dan berkilau.
Lampu lalu lintas berganti. Kereta bayi yang menyeberang ke arah sini tertangkap oleh mataku. Tanpa sadar aku merasa cemas dan mengawasinya dengan pandangan mata. Akan tetapi, sang ibu mengambil jarak dari sekelilingnya, dengan lihai menghindari gelombang lautan manusia, dan menyeberang sampai tuntas dengan santai. Karena sudah terbiasa dengan pergerakan orang-orang, mungkin beliau orang lokal sini. Saat saling berpapasan, mataku bertatapan dengan bayi di dalam kereta bayi yang kanopinya diangkat. Begitu aku melempar senyum padanya, dia menatap ke arahku dan tersenyum lebar.
Bisa melihat dengan jelas berarti dia bukan bayi yang baru lahir.
Namun bagiku, perasaan seperti 'kalau berusia sekian bulan berarti sudah tumbuh sampai ukuran sekian' masih belum kumiliki. Apakah setengah tahun, ataukah 1 tahun? Ngomong-ngomong, aku bahkan tadinya tidak tahu kalau kereta bayi itu terbagi menjadi dua jenis besar: Tipe A dan Tipe B.
Lampu lalu lintas berganti, pejalan kaki terputus, dan deretan mobil mulai bergerak.
Saat melirik menoleh ke belakang, mobil-mobil menginjak dan merusak gambar langit biru yang terlukis di genangan air. Terdengar suara syaaa dari genangan air yang terpercik. Pejalan kaki yang berjalan di bahu jalan buru-buru menghindar.
Di atas bangunan gedung, langit biru yang sama seperti yang terpantul di genangan air tadi membentang luas seperti pemandangan cermin yang saling berhadapan.
Aku melewati gerbang tiket dan naik kereta. Sambil menuju Lucca Design. Studio tempat magangku, aku memikirkan draf rancangan selebaran yang terus-menerus ditolak dan diberi koreksi pedas.
Sampai sekarang aku masih belum bisa berpikir memakai sudut pandang anak-anak.
Secara logika aku merasa sudah memahaminya, tapi jika ditanya secara konkret apa dan bagaimana cara mencapainya, dalam 1 minggu ini aku masih belum berhasil menangkapnya. Sudah terkonfirmasi secara pasti dan jelas bahwa aku tidak akan mengejar batas waktu pertama, dan Yume-san sambil tersenyum jahil seolah ingin bilang kan, apa kubilang, berujar: "Karena ini latihan, kerjakan terus sampai kamu bisa, ya." Menyebalkan.
Aku mencoba menyadari perbedaan sudut pandang. Orang dewasa punya sudut pandang orang dewasa. Anak-anak punya sudut pandang anak-anak. Jika itu bayi, maka ada dunia yang terlihat dari sudut pandang bayi.
Contohnya, saat pikiranku berkelana aku baru menyadarinya. Anak di dalam kereta bayi tadi sebenarnya tidak bisa melihat langit biru yang ada di genangan air. Karena berada dalam posisi berbaring telentang, langit setelah hujan reda mungkin memang terlihat olehnya, tapi karena pandangannya terhalang, pemandangan genangan air di bawah kakinya tidak akan terlihat.
Secara harfiah, jarak pandangnya berbeda.
Hanya karena diriku sendiri bisa melihatnya, belum tentu orang lain juga bisa melihat hal yang sama.
Apa yang sebenarnya terlihat oleh orang itu—
Ini bukan sekadar masalah jarak pandang (visual field). Manusia akan menangkap dengan jelas hal-hal yang menarik minatnya, sedangkan untuk hal-hal yang kurang diminati, biarpun tertangkap oleh mata, mereka tidak akan memperhatikannya sehingga tidak mengingatnya. Itu sama saja seperti tidak kelihatan. Contohnya Yuta yang tidak begitu tertarik dengan fashion, jadi biarpun manekin di show window berganti baju, dia tidak akan menyadarinya sama sekali.
Meskipun berada di tempat yang sama, bukan berarti melihat hal yang sama. Bukan berarti mendengar suara yang sama. Sensasi yang kudapatkan adalah milikku seorang, dan biarpun orang lain memiliki organ sensorik yang serupa, hal yang didapatkan akan berubah sesuai dengan posisi, situasi, dan kepribadian masing-masing.
Sekali lagi saat ini aku menyadari hal itu dengan sangat kuat.
Di kursi tepat di depanku yang sedang berpegangan pada tali pegangan kereta, duduk seorang anak berusia sekitar tingkat SD. Dia sedang bermain sambung kata (shiritori) tanpa henti dengan suara pelan bersama ibunya yang duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat aku mendengarkannya tanpa berniat mengintip, tapi sepertinya itu adalah sambung kata non-genre—alias kata apa saja boleh—namun anak itu kelihatannya sangat menikmati dan merasa senang.
Tampak senang secara tak terduga? Tidak... Itu salah, aku langsung menyadarinya kali ini.
Alasan orang dewasa merasa permainan sambung kata non-genre itu membosankan adalah karena menganggapnya terlalu mudah. Sebab orang dewasa punya perbendaharaan kata yang jauh lebih banyak. Jika tidak ada batasan, kata-kata akan mengalir keluar sebanyak apa pun.
Akan tetapi, tidak begitu bagi anak-anak. Mereka masih belum tahu mayoritas dari jumlah nama yang tak terhitung banyaknya yang disematkan pada dunia ini. Jika anak-anak seumuran di depanku ini, karena jumlah nama yang dihafal masih sedikit, biarpun non-genre pasti mereka tetap merasa kesulitan. Makanya mereka merasa itu menarik dan seru.Begitu rupanya, sebuah kilatan ide mendadak muncul.
Ada satu hal yang terlintas di kepalaku.
Tadinya aku berusaha menjelaskan "seberapa serunya lokakarya tersebut" di dalam selebaran.
Itu salah. Anak-anak tidak akan mau bergabung hanya gara-gara itu adalah lokakarya yang kelihatannya seru.
Itu adalah sudut pandang dari orang yang sudah berulang kali mengikuti lokakarya. Jika sudah sering berpartisipasi, mengikuti lokakarya itu sendiri sudah menjadi hal yang biasa, makanya mereka menuntut lokakarya yang seru.
Tapi, lokakarya untuk orang tua dan anak yang diberikan padaku sebagai tugas ini berbeda.
Acara itu ditujukan untuk anak-anak tingkat SD kelas rendah. Di usia segitu, bahkan sangat diragukan apakah mereka pernah mengikuti acara semacam lokakarya atau belum. Makanya, selebarannya tidak boleh berfokus pada "lokakarya seperti apa yang kelihatannya seru", melainkan harus berupa selebaran yang menyampaikan "ikut serta dalam lokakarya itu kelihatannya seru"...
Untuk mencapai hal itu—
Mendekati jam selesai kerja hari itu, aku memperlihatkan hasil kerja hari ini kepada Yume-san.
Meskipun bimbingan Yume-san dikategorikan sebagai tugas resmi yang diperintahkan oleh Ibu Ruka, aku tetap punya tugas sekretaris dan Yume-san pun punya pekerjaannya sendiri, jadi waktu latihan secara alami dialokasikan dengan memanfaatkan waktu-waktu luang. Meski begitu, fakta bahwa beliau mengizinkanku memotong jam kerja resmi adalah bantuan yang sangat besar bagi seorang pemula seperti diriku. Kesempatan untuk belajar sembari dibayar seperti ini tidak akan ada di mana-mana.
Lalu, soal draf rancangan selebaran untuk orang tua dan anak. Hari ini adalah batas waktu 1 minggu pertama yang dipasang di awal.
Yume-san yang hebat tentu saja sudah menyerahkannya, dan draf kasarnya bahkan sudah mendapatkan kata 'OK' dari pihak klien. Beliau tersenyum manis sambil bilang kalau pemeriksaannya selesai lebih cepat dari perkiraan. Aku iri dengan kalimat yang terdengar begitu luwes dan santai itu. Ngomong-ngomong, sesuai perkiraan Yume-san, begitu draf kasarnya lolos, batas waktunya dimundurkan 1 minggu lagi. Makanya saat ini Yume-san sedang membuat draf cetak final (final proof). Menyebalkan.
Yume-san menatap draf selebaran yang kuberikan dengan dahi berkerut.
Biasanya di saat-saat seperti ini beliau akan memiringkan kepalanya pelan lalu memasang muka kenapa bisa begini?, tapi hari ini berbeda. Di dalam ketajaman pandangan matanya yang menatap draf tersebut, ada binar ketertarikan seolah berkata aku menemukan sesuatu yang menarik nih—atau setidaknya terasa seperti itu.
"Boleh juga~ Kamu menyejajarkan foto raut wajah anak-anak yang sedang tenggelam penuh keseruan saat membuatnya, dengan foto mereka yang memamerkan mobile yang sudah jadi dengan bangga, untuk memvisualisasikan apa yang bakal didapatkan oleh anak-anak jika mereka ikut bergabung di sana, ya"
Ugh, napasku tertahan.
Dalam sekejap niat dan tujuanku berhasil dibaca dan dianalisis secara tepat olehnya.
"Emm. Mengikis kerumitan, lalu mengolah gambar dan foto dalam ukuran besar agar mudah dilihat oleh anak-anak juga dipikirkan dengan baik. Menurutku ini bagus."
Berhasil!
"Kalau untuk target anak-anak, ya."
"Eh..."
"Tapi. Kali ini, bagian yang sebelah sini malah telantar, lho Kalau begini, orang tuanya bisa merasa cemas."
Sambil berbicara, Yume-san menaruh jarinya di atas bagian penjelasan selebaran lalu mengetuk-ngetuknya pelan.
"Orang tua... Kenapa begitu? Menurutku aku sudah memasukkan informasi yang dibutuhkan dengan benar, kok."
"Saki-chan ini memikirkan kecemasan orang tua secara terlalu fisik (physical), ya"
"Memikirkan secara terlalu fisik—maksudnya bagaimana?"
"Orang tua itu bukannya cuma mencemaskan masalah biaya atau durasi waktu saja, tahu."
"Anu... Tapi, keterangan seperti 'tidak sampai larut malam' kan menunjukkan kalau kita memperhatikan keamanan..."
"Yah, hal-hal seperti itu memang penting sih. Soal itu, penyelenggara juga pasti sudah membukanya dengan mempertimbangkan hal itu dengan benar, kan. Tapi, ada hal yang jauh lebih krusial yang terlewat."
"Haa."
"Saat mau mengikutkan anak ke acara seperti ini, sebenarnya apa sih yang diharapkan oleh orang tua?"
"Perkembangan anak yang sehat."
"Maksudnya apa tuh?"
Saat ditanyai kembali, aku mendadak bungkam tak bisa menjawab.
"Anu... Makanya, itu. Anu, p-pendidikan karakter (emotional/aesthetic education)?"
Kepalanya miring pelan. Itu adalah gestur yang biasa dilakukan Yume-san. Kalau gestur ini keluar, artinya beliau sedang menunjukkan bahwa aku belum paham. Ini adalah 'Gestur Yume' saat ada celah dalam pola pikirku.
"Yah, hal seperti itu mungkin ada juga sih"
Berarti bukan cuma itu saja, ya.
Aku menundukkan pandanganku kembali ke draf selebaranku.
Materi foto dari lokakarya yang pernah diadakan sebelumnya yang disediakan oleh pihak penyelenggara. Aku memilih foto yang kelihatannya bagus dari sana lalu menempelkannya ke selebaran kali ini.
Apakah ini di semacam aula pertemuan? Apakah fasilitas umum, ataukah ruang sewa milik swasta?
Di dalam ruangan seluas setengah ruang kelas sekolah, ada sekitar 10 pasang orang tua dan anak yang berpartisipasi. Di belakang sosok anak dengan senyum lebar yang di-zoom in, terlihat beberapa anak seumuran berada di sana. Apakah yang terpantul di belakang itu saudara kandung, mereka terlihat menempel dengan akrab sambil membuat mobile. Karena tidak fokus reaksinya agak kabur, tapi kesan bahwa mereka bersenang-senang sangat tersampaikan.
Seandainya Yuta adalah kakak kandungku, apakah aku bisa berpartisipasi dengan akrab dalam lokakarya seperti ini? Jika begitu, kami akan menjadi kakak-adik yang tidak bisa menjadi sepasang kekasih, tapi aku berpikir pasti itu juga ada keseruannya tersendiri, sehingga fakta bahwa tidak adanya masa lalu seperti itu membuatku merasa sedikit kesepian. Kesenangan yang menjadi bayaran dari keberhasilan kami menjadi sepasang kekasih, ya. Tapi, kesepian di masa kecil pasti akan memudar jika ada seorang kakak...Tunggu. Tadi sepertinya aku melihat sesuatu.
"Jangan-jangan, kalau tujuannya cuma 'bisa mendapatkan pengalaman seru bersama orang tua dan anak', acara lokakarya dengan jumlah peserta banyak sebenarnya tidak dibutuhkan?"
Saat kata-kata itu lolos pelan dari mulutku, Yume-san mengukir senyum manis di wajahnya.
"Kalau tersampaikan bahwa lokakarya tersebut juga merupakan wadah untuk bisa bermain dengan anak-anak peserta lain di sekitarnya, pasti ada orang tua yang menganggap hal itu sebagai nilai tambah yang bagus."
"Berarti ada orang tua yang punya harapan seperti itu juga, ya..."
Dibandingkan membiarkan anak bermain gim sendirian di rumah sambil menunggu orang tua pulang, ada beberapa orang tua—walau jumlahnya sedikit—yang menyuruh anaknya ikut bimbingan belajar dengan alasan agar anak bisa menghabiskan waktu bersama kawan seumuran.
Bagi anak yang ingin bermain gim sendirian mungkin itu hal yang mengganggu, tapi orang tua adalah sosok yang mengkhawatirkan apakah anaknya bisa membaur dengan lingkungan sekitarnya atau tidak. Dan dalam banyak kasus, isi hati orang tua sering kali tidak dipahami oleh anak. Begitu pula sebaliknya. Eh, pembahasannya melenceng.
"Tapi kalau begitu, berarti harapan orang tua itu ada beraneka ragam, kan. Rasanya mustahil kalau harus menjejalkan semuanya ke dalam 1 lembar selebaran..."
"Yup. Mustahil."
Yume-san mengangguk dengan sangat santai.
"Tapi biarpun begitu, tidak mengimajinasikan sosok penerima selebaran itu tidak boleh."
"Ugh."
"Memikirkan cuma satu sudut pandang penerima selebaran itu sebenarnya masih gampang, lho. Begitu paham logikanya sekali saja, kamu bisa membuatnya sampai tingkat tertentu seperti karya Saki-chan kali ini. Tapi, selebaran itu masih punya tingkatan di atasnya."
"Maksudnya membayangkan beberapa sosok penerima selebaran secara bersamaan...?"
"Yup, betul~ Mengimajinasikan sudut pandang yang berbeda dari diri sendiri, lalu membuat desain yang ditujukan ke sana. Kalau ini disebut sebagai Tahap Pertama, maka desain periklanan semacam ini punya tahap selanjutnya. Yaitu memenuhi beberapa sudut pandang yang berbeda secara bersamaan."
"Sulit sekali, ya..."
"Tapi di dunia desain, kalau hal seperti itu tidak bisa dilakukan secara wajar justru bakal gawat. Pernah mendengar istilah 'Universal Design' tidak, nya?"
"Boleh aku cari tahu dulu?"
"Silakan~"
Aku menyambar ponselku dari atas meja lalu mengetikkan kata kunci di kolom pencarian.Universal Design... Emm, sepertinya maknanya adalah 'pola pikir untuk mendesain sejak awal agar sedapat mungkin bisa digunakan oleh semua orang'. Contohnya, botol sampo dan kondisioner dibuat agar bisa dibedakan mana isinya hanya dengan menyentuhnya saja. Bagian pencetan atau samping botol yang punya tekstur gerigi/tonjolan adalah sampo, sedangkan kondisioner permukaannya mulus.
Dibuat dengan mempertimbangkan agar orang dengan keterbatasan penglihatan pun tidak salah ambil. Ini adalah contoh di mana target desain bukan cuma orang yang bisa melihat, tapi juga dipikirkan secara matang jika targetnya adalah orang yang tidak bisa melihat. Dengan kata lain, didesain dengan berdiri di sudut pandang orang dengan keterbatasan penglihatan.
"Maksudnya desain yang dibuat dengan penuh kesadaran untuk menyerap perbedaan sudut pandang, ya."
"Betul. Ada pola pikir seperti itu. Bukunya juga ada diterbitkan, coba baca deh? Bisa jadi referensi. Nah, soal draf selebaran ini. Memikirkan perbedaan antara apa yang diinginkan orang tua dan anak itu penting, tapi kalau sudah sampai di sana, coba pikirkan juga bahwa tuntutan orang tua terhadap apa yang diharapkan dari lokakarya ini pun ada beberapa jenis!"
"Kalau diingat-ingat, di dokumen ada poin 'Tujuan Acara'. Seperti menyediakan wadah interaksi orang tua dan anak. Di sana tertulis: agar anak-anak bisa menghabiskan waktu yang menyenangkan. Tertulis untuk anak-anak (plural), bukan cuma untuk anak (singular)..."
Seolah ingin bilang jawabannya dari awal sudah kutaruh di depan matamu lho, Yume-san mengukir senyum mirip detektif ternama saat membeberkan analisanya.
"Orang tua itu ada berbagai macam tipe. Tentu saja ada tipe yang mengkhawatirkan keselamatan anak, tapi ada juga orang tua yang mengkhawatirkan apakah anaknya bisa mendapatkan pengalaman yang bagus atau tidak. Ada juga orang tua yang mengkhawatirkan apakah anaknya bisa akrab dengan sekelilingnya atau tidak. Pembuat desain harus mempertimbangkan sebanyak mungkin sudut pandang secara bersamaan. Dari sana, barulah memilih hal yang akan dituangkan ke dalam 1 lembar selebaran..."
"Maksudnya, kalau tidak memilih dan nekat menjejalkan semuanya itu hal yang mustahil, ya."
"Menurutku sih mustahil. Soalnya selebaran yang mau menyenangkan semua pihak (cater to everyone) itu tidak akan sampai ke hati siapa pun, nye. Tapi yah, kalau kamu merasa sanggup, boleh dicoba kok. Segalanya adalah latihan, nyo."
Hanya suara "P-paham..." yang sanggup kusuarakan dengan susah payah.
Hari itu pun draf selebaranku tidak berhasil lolos dari pemeriksaan Yume-san.
Bulan Juli telah tiba.
Sabtu pertama. Pukul 3 sore di awal petang.
Sebuah momen santai yang sudah lama tidak kurasakan: minum teh berhadapan dengan seorang teman.
Tapi fakta bahwa kami tidak bertatap muka di toko fast food maupun family restaurant, melainkan janjian di sebuah kafe, membuatku merasakan adanya perbedaan dibanding masa-masa SMA dulu. Bagaimanapun juga, nominal uang yang dikeluarkan untuk 1 cangkir kopi sudah berbeda. Meminum kopi dengan harga menembus satu koin 500 yen tanpa beban seperti ini, jika dilihat dari sudut pandang masa SMA dulu terasa seperti puncak kemewahan, tapi begitu memasuki tahun ke-2 kuliah, hal ini sudah terasa biasa saja.
Aku punya firasat kalau kelak sudah jadi pekerja kantoran hal ini bakal berubah lagi.
Adapun sosok teman yang menjadi kawan janjianku di kafe ini adalah—
"Akhirnya bisa ketemu juga ya~ Saki sih belakangan ini dingin banget sama sekali tidak mau diajak jalan."
Aku menyampaikan kalau aku sibuk dengan tugas kuliah, magang, dan membantu mengurus Akari. Sampai-sampai tidak punya banyak waktu untuk bertemu teman.
"Ya ampun, kalau itu sih memang sibuk luar biasa, ya. Hari ini aman?"
"Yah. Akhir pekan ini pekerjaan magang tidak ada—bukan berarti tidak ada sama sekali sih, tapi bisa dikerjakan di rumah, lalu laporan kuliah... rasanya bakal aman. Karena tidak terlalu sulit. Harusnya apa yang kukerjakan jauh lebih gampang dibanding tempatnya Maaya."
Bagaimanapun juga, universitas tempat sahabat di depanku ini—Narasaka Maaya—menuntut ilmu adalah universitas negeri yang tergolong paling sulit ditembus di Jepang. Ditambah lagi, jurusan rumpun sains.
"Menurutku tempatku dan tempat Saki tidak ada bedanya, ah."
"Nggak, nggak."
"Sama saja, kok. Cuma beda isinya cuma perempuan semua atau kampus campuran saja. Halo, Taman Bunga Lily!"
Mendengar gurauan Maaya, aku membentuk bibirku menjadi garis lurus horizontal sebagai bentuk pernyataan tidak terima.
"Wah, wah. Kelihatannya lumayan terpojok, ya? Emm, perkuliahan tidak terlalu sulit berarti masalahnya di tempat magang? Atau pengasuhan anak?"
"Dua-duanya... Eh tunggu, jangan sebut pengasuhan anak dong, nanti memicu kesalahpahaman. Adik. Aku cuma membantu merawat adik perempuan yang baru lahir, tahu."
"Nah yang itu! Itu kan tema utama hari ini! Perlihatkan fotonya, dong~"
Sambil berbicara, Maaya membalikkan dango memakai jepitan. Dango dengan empat bulatan yang ditusuk sate itu menampulkan warna kecokelatan yang terbakar di atas kisi-kisi panggangan shichirin, memancarkan aroma wangi yang menggugah selera. Di atas meja bermotif serat kayu indah yang dikelilingi olehku dan Maaya, terdapat satu teko kaca berisi teh berwarna cokelat, dua buah gelas kaca, sebuah panggangan shichirin kecil untuk membakar dango, serta piring kecil berisi saus bumbu manis gurih. Kami saat ini sedang berada di tempat yang dinamakan Kafe Tradisional Jepang (Wa-Cafe).
Bagian dalam tokonya sepertinya merupakan renovasi dari rumah tua era Showa, lantainya terbuat dari kayu, dan tiang penyangganya terbuat dari kayu tebal. Aku tidak menyangka kafe dengan nuansa klasik dan sejuk seperti ini ada di kawasan perkotaan Jakarta—eh, maksudku Tokyo, bahkan di Shibuya. Lebih tepatnya di Omotesando, sih. Yah tapi kan masih area Distrik Shibuya. Masih dalam jarak tempuh jalan kaki.
『Sudah lama tidak ketemu, jalan-jalan ke kafe yuk』
Pesan ajakan dari Maaya itu masuk dua hari lalu.
Saat itu, awalnya aku berniat menolaknya dengan alasan sibuk.
Namun mendadak terlintas di dalam benakku. Tunggu sebentar. Maaya kan punya banyak adik laki-laki yang jarak usianya jauh dengannya. Waktu Maaya masih SMA dulu, adik pertamanya saja masih SD, dan adik di bawahnya kalau tidak salah masih TK atau PAUD, kan?
Meskipun dari penampilannya yang menggemaskan dan tindak-tanduknya memberikan kesan seperti anak bungsu, pada kenyataannya Maaya inilah sosok 'kakak perempuan sejati'. Dia banyak membantu kedua orang tuanya yang sama-sama bekerja untuk mengurus adik-adiknya, makanya saat masa SMA dulu dia sama sekali tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler maupun organisasi siswa. Gadis yang supel dan suka bergaul dengan orang lain ini, begitu bel sekolah berbunyi justru langsung merangsek pulang ke rumah sebagai anggota klub pulang ke rumah.
Dengan kata lain, Narasaka Maaya adalah sosok kakak perempuan berdarah murni. Mungkin sulit dipercaya, tapi ini adalah kenyataan. Mahasiswi dengan rambut lembut bergelombang dan senyum mengembang di depanku ini adalah The Professional Sister-nist.
Saat pemikiran itu meresap di kepala, secara refleks aku membalas pesannya.
『Boleh. Ada beberapa hal yang ingin kukonsultasikan juga』
Maaya selalu menghadapi adik-adiknya yang memiliki kepribadian berbeda secara bersamaan. Dengan kata lain, dia juga seorang profesional dalam hal bagaimana menjawab berbagai tuntutan yang berasal dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Sebagai sosok tempat berkonsultasi, rasanya tidak ada orang yang memiliki pengalaman sejitu dirinya.
Makanya kami berdua janjian di Kafe Tradisional Jepang ini. Untunglah Sabtu minggu ini pekerjaan dari tempat magang sedang libur. Ngomong-ngomong, yang memilih toko ini adalah Maaya.
Setelah selesai memesan dan dango yang diantarkan mulai dibakar (di toko ini pengunjung bisa membakar dangonya sendiri!), Maaya langsung memberondongku: "Ada apa? Muka kamu kelihatan capek banget ya," hingga berlanjut ke percakapan tadi.
Yah, lagipula ini bukannya tidak ada hubungannya dengan apa yang ingin kukonsultasikan. Aku menyerahkan diri dan memanggil data foto di ponselku. Album foto Akari. Karena memperhitungkan situasi seperti ini, aku sudah mengekstrak data foto yang berkaitan dengan Akari dan menjadikannya sebuah pustaka album khusus.
"Boleh kamu lihat sesukamu. Tidak ada foto yang dilarang untuk dilihat di sana."
Ucapku sambil meluncurkan ponsel ke arah Maaya.
"Oho! Album foto adik perempuan! Saki yang itu bisa-bisanya punya barang yang terkesan seperti orang tua yang kelewat bucin anak begini!"
"Kalau mau mengejek, kembalikan."
"Ih, jahat"
"Itu godaan erotis era kapan coba. Maaya, kamu tidak sedang memalsukan umur, kan?"
"Jahatnya Uhuuun~ Bakkaaann"
Semuanya itu sudah jadul, tahu.
"Kamu tidak tahu tren Showa Retro dan Heisei Awal Retro? Ketinggalan zaman banget sih"
"Kalau maksudmu nuansa warna gambar atau keindahannya sih mungkin memang lagi tren, tapi gaya Maaya itu beda dari istilah retro..."
Tapi sepertinya sanggahan kecutku tidak masuk ke telinga Maaya. Maaya sedang menjelajahi album foto Akari yang kuperlihatkan dengan senyum merekah penuh di wajahnya.
"Uwah, kecil banget! Seriusan nih. Beneran baru banget lahir."
"Foto-foto di bagian awal itu yang diambil pas aku bergegas ke rumah sakit bareng Yuta."
Album foto itu dimulai dari foto sewaktu aku bergegas ke rumah sakit bersama Yuta. Sejak saat itu sudah sekitar 1 bulan berlalu, dan karena aku mengusahakan mengambil setidaknya 1 foto setiap hari, jumlahnya sudah lumayan banyak. Harusnya aku mem-backup-nya sebelum kapasitas penyimpanan awan (cloud storage) penuh. Kalau dibiarkan begini, bisa dipastikan kapasitas penyimpanan bakal membundel penuh oleh foto dan video Akari.
Begitu berpikir kalau ini bisa jadi referensi saat giliran diriku kelak, aku jadi berpikir pokoknya kumpulkan saja dulu sebanyak-banyaknya, nanti tinggal diseleksi belakangan.
"Siapa namanya?"
"Akari. Ditulis memakai kanji 'pelita' dan 'desa'."
"Akari-chan, ya. Nama yang bagus. Oho, Saki lagi menggendong bayi! Kelihatan tegang banget!"
"Takut kalau sampai menjatuhkannya."
"Pipinya sampai ketarik tegang begitu~ Tapi yah, di masa-masa ini lehernya belum tegak jadi wajar kalau takut. Kepalanya bisa bergoyang-goyang kencang sampai tidak dipercaya, kan."
Aku refleks mengangguk kencang. Memang benar. Rasanya seperti mau copot dan sangat mengerikan.
"Oho, kalau yang ini foto two-shot nempel pipi. Emm, rasanya agak lumayan mirip ya."
"Mirip... kah?"
"Yah, biarpun wajah bayi kalau sudah tumbuh besar bakal berubah lagi sih. Tapi coba lihat, bagian sekitar matanya mirip banget."
"Aah... Iya, aku juga sempat berpikir kalau bagian matanya mirip Ibu."
Tadinyaku kira itu cuma penilaian subjektifku saja, tapi kalau dilihat dari sudut pandang Maaya pun kelihatan begitu, berarti memang benar begitu. Genetika itu memang luar biasa. Bagian mata Akari mirip Ibu. Bentuk telinganya rasanya mirip Yuta. Artinya mirip Papa Taichi.
"Kalau bersandingan begini beneran kelihatan seperti kakak-beradik, ya. Eh, begitu ya, Saki sekarang sudah jadi seorang kakak perempuan, ya."
"Maaya... Obrolan dari tadi kamu dengarkan tidak, sih?"
"Dengar, dengar kok!"
Maaya yang menggeser foto satu per satu sambil heboh berteriak wah-kyaa melontarkan kata "dengar" paling tidak meyakinkan sepanjang sejarah.
"Begitu ya~ Saki akhirnya... Selamat datang di Aliansi Kakak Perempuan! Mulai hari ini kamu juga kawan sesama kakak perempuan!"
Emm... Apakah aku harus merasa senang?
"Yah, kenyataannya memang begitu, sih. Makanya, itu... ada hal yang ingin kutanyakan pada Maaya sebagai senior sesama kakak perempuan."
Akhirnya bisa masuk ke topik utama.
"Yup?"
"Ah, tidak, kamu boleh tetap melihat fotonya kok."
"Yup."
"Anu. Emm... Maaya waktu pertama kali punya adik laki-laki dulu, bagaimana perasaanmu?"
Mungkin merasakan nada suaraku yang menyelipkan keseriusan, jari Maaya yang sedang menggeser foto terhenti lalu dia mendongakkan wajahnya.
"Bagaimana maksudnya. Ya senang, sih."
"Bukan itu, maksudku... apakah tidak merasa kesulitan atau kerepotan?"
Saat ditanyai begitu olehku, Maaya menarik jarinya dari layar ponsel yang sedang dilihatnya.
Dia menaruh ponselnya di atas meja.
Lalu menyambar dango yang hampir hangus dan memakannya dengan lahap.
Melihat Maaya yang sedang mengunyah di dalam mulutnya, aku teringat kalau saat menyantap hidangan manis, dia memang selalu kelihatan seperti seekor tupai seperti ini.
Ada rasa sedikit kesepian menyadari ingatan masa-masa SMA dulu perlahan-lahan mulai memudar.
"Kesulitan, ya..."
Aku tersentak dan mengembalikan pandanganku pada Maaya.Tidak boleh, padahal aku sendiri yang bertanya tapi malah melamun.
"Makanya, seperti berpikir apakah alasan si bayi tidak mau berhenti menangis saat digendong itu gara-gara cara menggendongku yang buruk, atau semacamnya."
"Bukankah itu gara-gara kamu bukan ibunya?"
"Tapi waktu digendong Papa Taichi dia bisa berhenti menangis, makanya menurutku bukan karena itu."
"Oho~ Di tempat Saki bayinya bisa berhenti menangis kalau digendong ayahnya? Di tempatku sih kalau sama Papa tidak mempan~ Tapi yah, mulai dari adik kedua, akulah orang yang paling jago menimang dan membujuknya!"
Sambil berbicara, Maaya memperagakan gerakan menimang bayi imajiner di udara.
"Maaya tidak membuat bayinya menangis, ya. Hebat banget."
"Tinggal dinyanyikan lagu langsung mempan sekali tepuk! Soalnya di rumahku Ayah dan Ibu sama-sama sumbang (pitch deaf)."
...Bukankah itu artinya dia berhenti menangis bukan gara-gara Maaya, melainkan gara-gara kemampuan bernyanyimu?
"Adik-adikmu itu, yang paling tua bukannya sudah SD, ya?"
Maaya mengangguk.
"Yang paling tua sebentar lagi masuk SMP."
"Eh. Sejak kapan..."
"Dengar ya, Saki. Sejak kita pertama kali bertemu, sudah 5 tahun berlalu, lho?"
Mendengar hal itu, aku merasakan pusing akibat betapa cepatnya laju sang waktu. Sudah sepanjang itu?
"Kalau begitu, adik-adikmu apakah tidak mulai memikirkan hal-hal seperti privasi?"
"Mikir banget. Mereka sudah mulai bergaya sok dewasa punya rahasia dari Kakaknya yang hebat ini, lho. Hampir setiap hari mengeluh mau punya kamar sendiri."
Ucapnya, lalu melepaskan bulatan dango terakhir dari tusukannya memakai gigi.
"Tapi memang benar sih tubuh adik-adikku sudah makin bongsor, dan kasihan juga kalau disuruh terus-terusan berbagi satu kamar berdua, makanya orang tuaku bilang apa sebaiknya pindah rumah saja ya. Tapi menurutku bakal jauh lebih cepat kalau aku saja yang keluar dari rumah."
"Pindah keluar... maksudmu tinggal sendirian (ngontrak/indekos)?"
Aku terkejut. Karena aku tidak punya bayangan ke arah sana sama sekali.
"Itu cuma salah satu opsi saja, tahu. Tapi bagaimanapun juga, anak-anak itu dipikirkan dari sudut mana pun tubuhnya pasti bakal makin membengkak besar dari yang sekarang. Lagipula kalau sudah masuk masa pubertas, anak cowok kan punya banyak hal yang ingin disembunyikan, kan?"
"Kan? Maksudmu... meminta persetujuanku pun aku bingung."
"Anak cowok itu kan butuh banyak harta karun rahasia yang tidak boleh diperlihatkan pada anak cewek, kan?"
"Makanya kubilang jangan minta persetujuan dariku."
Apakah Yuta juga dulunya begitu, ya?
...Tunggu. Makanya kan bukan 'kesulitan' di area sensitif semacam itu yang kumaksud.
"Aku mau mengembalikan pembahasannya—"
"Oho? Emm. Kembalikan, kembalikan. Bawa ke sini"
"Makanya itu. Jika adik-adikmu punya sesuatu, emm, menyimpan rahasia lalu ingin mengaku padamu. Di saat seperti itu, bagaimana caramu mendengarkan obrolan mereka?"
Ah, Maaya secara langka mendadak freeze. Kelihatan raut wajah bingung dari Maaya adalah hal yang sangat langka.
"Eeh? Yaah, mana aku tahu, mereka kan tidak punya rahasia."
"Biarpun Maaya tidak punya, bisa saja adik-adikmu punya, kan."
"Contohnya rahasia kalau adik-adikku sebenarnya punya Kakak Perempuan rahasia yang diajak berpacaran, begitu?"
Apa-apaan itu.
"Yaah tapi kalau yang itu sih tidak bisa kumaafkan, ya. Punya Kakak Perempuan lain selain aku, Kakak yang ini tidak akan memaafkannya, tahu. Membuat Kakak Perempuan baru tanpa sepengetahuan Kakak adalah hal yang tidak boleh dilakukan!"
Kenapa sih harus sengaja memakai pilihan kata yang bikin makin rumit begitu.
"Tidak kamu maafkan?"
"Kalau mereka mau mengaku, bakal kumaafkan. Kalau Kakak barunya imut, bakal makin kumaafkan. Kalau mereka bisa menemukan Kakak Perempuan yang baik, beban kerjaku kan jadi berkurang!"
Tidak bisa, kalau bicara ke arah sini topiknya pasti bakal melenceng ke arah yang makin aneh. Aku mengamati pilihan kata Maaya yang absurd dan teringat pada seorang senior tempat kerja paruh waktu di toko buku, lalu memutuskan untuk melakukan mundur secara strategis dari topik ini.
Sepertinya lebih baik mengubah setting situasinya.
"Coba lihat, adik-adikmu kan makanan kesukaannya beda-beda satu sama lain, kan? Kalau yang satu mau makan ini dan yang satu mau makan itu beda-beda, bagaimana caramu mengaturnya?"
"Obrolan tentang makanan?"
"Iya, betul. Seingatku, kamu pernah bilang kalau yang memasak makanan buat adik-adikmu itu kamu, kan."
Karena kedua orang tuanya sama-sama bekerja, aku pernah mendengar sebelumnya kalau yang menyiapkan makan malam adalah Maaya.
"Aah, iya. Benar juga. Makanan yang tidak disukai semua orang memang beda-beda, sih. Yang paling tua benci wortel, anak kedua benci paprika, yang seperti itu ada banget. Banyak banget malah."
"Nah, yang itu. Di saat seperti itu, apa yang kamu lakukan?"
Saat kutanyakan begitu, barulah Maaya melipat kedua tangannya dan mulai berpikir. Pandangannya jatuh menatap meja, menatapnya lekat-lekat seolah-olah ada lubang di sana. Saat memasang raut wajah seperti ini, Maaya sedang berada dalam mode yang dinamakan perenungan mendalam (deep contemplation). Walau sangat jarang bisa dilihat, sih.
"Pertama, sebagai premis utama itu tergantung ada alergi atau tidak, sih"
"Begitu, ya. Itu hal yang penting."
Emm, Maaya mengangguk.
"Soalnya alergi itu kan berhubungan dengan nyawa. Akari-chan aman dari atopi atau semacamnya?"
"Untuk saat ini sih aman."
"Kalau makanan baru nanti, ya."
Memang benar begitu. Makanan yang memicu alergi sepertinya baru bisa dites sedikit demi sedikit setelah memasuki masa MPASI (Makanan Pendamping ASI). Maksudnya secara bertahap mulai usia sekitar 5 bulan.
"Kalau sudah ketahuan punya alergi pada sesuatu, mau tidak mau ya harus disesuaikan. Tapi hal itu kan sama saja seperti saat Saki menghadapi Asamura-kun dan yang lainnya, kan?"
Aku mengangguk.
Kalau diingat-ingat kembali, waktu pertama kali aku bilang ingin memasak dulu, biarpun itu Papa Taichi maupun Yuta, sebenarnya ada kemungkinan mereka melontarkan 'sebenarnya aku alergi udang jadi masakan udang tidak boleh'. Untunglah dua orang di keluarga Asamura—Yuta dan Papa Taichi—tidak memiliki alergi makanan apa pun. Jika dipikir-pikir sekarang, itu adalah sebuah keberuntungan yang sangat besar, dan dari sudut pandang pembuat masakan, fakta bahwa 'segalanya bisa dimakan' adalah hal yang sangat disyukuri.
Dan aku kembali menyadari bahwa hal ini belum berlaku untuk Akari. Akari masih menyimpan kemungkinan ketahuan punya makanan yang tidak boleh dikonsumsi di masa depan. Jika saat itu tiba, tidak ada cara lain selain menghindari makanan yang dilarang satu per satu.
"Nah, di luar masalah alergi seperti itu, aku rasa yang ingin Saki tanyakan adalah bagaimana menghadapi selera suka dan tidak suka, kan."
Nah, yang itu. Maksudku hal-hal seperti bisa dimakan tapi tidak terlalu disukai. Biarpun keluarga, selera setiap orang pasti beraneka ragam, jadi bagaimana cara menghadapi selera suka dan tidak suka dari adik-adiknya. Bagian itulah yang bikin aku penasaran.
Aku belum pernah mendengar ada masakan yang dibuat agar bisa memenuhi selera semua orang seperti Universal Design, sih.
Begitu kuucapkan hal itu, Maaya membelalakkan matanya.
"Saki ini belakangan ini suka melontarkan hal-hal aneh, ya~ Pengaruh dari Asamura-kun?"
"Rasanya ini tidak ada hubungannya dengan Yuta."
Lagipula bukan hal yang 'aneh', kan.
"Bukan, menurutku itu pola pikir yang aneh, tahu. Maksudmu itu kan 'Masakan Sempurna' (Ultimate Dish), kan? Masakan pamungkas yang dibuat agar sesuai dengan selera semua orang."
"Ada? Masakan seperti itu."
"Tidak ada!"
Ditegaskan dengan sangat mantap. Sudah kuduga.
"Coba dipikirkan sebentar saja kan langsung paham. Kalau secara konsep sih 'Versi Sempurna' dari segala hal itu memang ada. Novel Sempurna, Musik Sempurna, Masakan Sempurna. Sebuah hiburan pamungkas yang jika ada satu hal itu saja sudah sanggup memenuhi seluruh preferensi seleramu."
"Terlalu enak di kita!"
"Iya, kan~ Lagipula, kalaupun ada justru bakal merepotkan."
"Merepotkan?"
Padahal menurutku kalau ada justru bakal praktis.
"Coba bayangkan. Contohnya nih, 'Kekasih Sempurna'."
"...Haa."
Emm, maksudnya bagaimana? Maksudnya asal ada satu orang itu saja, dia memiliki seluruh kualifikasi yang dituntut dari seorang kekasih, semacam kekasih pamungkas begitu?
"Kita andaikan Si Sempurna-kun itu ada. Kekasih yang Sempurna tidak akan pernah membuatmu merasakan ketidakpuasan sedikit pun. Karena dia sempurna. Dia tidak akan tidur molor sampai siang cuma gara-gara hari libur, dia tidak akan merasa terganggu kalau babi asam manis dimasuki nanas, dan dia tidak akan berceramah tentang ilmu-ilmu sci-fi tanpa henti padahal kamu sudah mengantuk."
Siapa yang sedang dibicarakan ini?
"Lalu sekarang, Dewa muncul dan sebagai ganti dari Kekasih Riil milikmu yang tercebur ke dalam mata air, beliau menyodorkan Si Sempurna-kun di depan matamu sambil berkata 'Apakah kekasih yang kamu jatuhkan adalah orang ini?'. Kalau Saki, apakah kamu bakal menukarnya?"
Bukankah pola pikir Maaya yang justru aneh? Apakah dia sedang terpengaruh oleh seseorang?
Sambil memikirkan hal itu, aku mencoba membayangnkannya secara bersungguh-sungguh. Kekasih Sempurna yang disodorkan sebagai pengganti Yuta yang tercebur ke mata air, ya...
"Rasanya, tidak mau, deh."
"Kenapa?"
Sambil menaruh kedua sikunya di atas meja dan bertopang dagu, Maaya berbicara dengan senyum jahil di wajahnya.
"Soalnya, orang itu kan bukan Yuta."
"Iya, kan"
Sambil mengucapkan hal itu, Maaya langsung telungkup merebahkan diri di atas meja. Karena takut rambutnya bakal hangus terkena panggangan shichirin, aku menjauhkannya, dan dari mulutnya yang terbekap meja terdengar gumaman "Iya, kan" sekali lagi.
Saat itulah aku menyadarinya.
Aku menanggapi ajakan minum teh darinya karena ingin mendengar pendapat Maaya sebagai seorang kakak perempuan yang setiap hari menghadapi berbagai sudut pandang—selera adik-adiknya yang beraneka ragam. Tapi kalau dari sisi Maaya, kenapa dia sampai bilang ingin bertemu denganku, ya?
"Ada masalah dengan Maru-kun?"
Bahu Maaya yang sedang telungkup seketika gemetar tersentak.
"...Sudah 3 hari kami tidak saling bicara. Ada sedikit... bentrokan."
"Aah..."
"Anak itu, terlalu kelewat sungkan padaku."
"Mau kudengarkan ceritanya?"
"...Emm."
Isi cerita yang dibeberkan oleh Maaya sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa langka, melainkan cuma sebatas perbedaan pendapat sepele yang bisa terjadi pada sepasang kekasih mana pun. Sama seperti yang pernah terjadi antara diriku dan Yuta. Sambil mendengarkan ceritanya dalam diam, aku merasa heran pada diriku sendiri. Apakah Ayase Saki ini adalah tipe orang yang mau mendengarkan keluh kesah temannya dalam diam begini...? Lagipula jika itu diriku di masa-masa SMA dulu, apakah aku bakal melontarkan kalimat seperti "Mau kudengarkan ceritanya?"...
Aku bertanya pada Maaya yang masih telungkup.

"Tapi, Maaya juga tidak mau menggantinya, kan?"
"Aku mau Tomo-kun."
"Iya, kan."
Kali ini aku yang mengucapkan kalimat itu, lalu tanpa sadar menatap kosong ke luar jendela. Langit berawan yang membentang di balik area teras seolah menyuarakan bahwa akhir musim hujan masih sangat jauh.
Meskipun tahu di balik awan mendung yang kelam itu terdapat langit biru, perasaan yang terlanjur muram tidak lantas menjadi cerah begitu saja.
Punya kekasih itu ternyata tidak cuma berisi hal-hal yang menyenangkan, ya.
Meski begitu, biarpun terjadi kesalahpahaman, aku tetap tidak mau menggantinya dengan 'Kekasih Sempurna'. Orang itu mungkin memang sempurna, tapi dia adalah orang lain.
Keunikan masing-masing mau tidak mau harus dijadikan sebagai premis dasar.Ah. Seketika aku tersentak. Begitu rupanya, perbedaan itu pada dasarnya mau tidak mau harus dijadikan sebagai premis dasar. Kalau ditelusuri sampai ke akarnya, bisa dibilang desain yang sanggup memikat semua orang tanpa terkecuali itu memang tidak pernah ada.
"...Kalau dituntut lebih dari sekadar 'makanan yang bisa dimakan', ya jelas tidak sanggup..."
Gumam suara Maaya terdengar pelan. Itu adalah jawaban atas pertanyaanku sebelumnya. Emm, ringkasnya, jika dalam dunia desain, karya yang tidak bisa menyampaikan pesan jelas berada di luar konteks, tapi jika di luar itu, kita perlu mempersempit targetnya—kira-kira maknanya seperti itu. Fakta bahwa dia tetap membalas pertanyaanku dengan setia biarpun sedang telungkup membuat rasa bersalah muncul lebih dulu di dalam hatiku. Kalau aku cuma merepotkannya terus, ini tidak akan jadi give and take, kan.
"Mau nambah dango-nya? Aku yang bayar."
Dia seketika menegakkan kepalanya kencang dan berbicara dengan wajah yang mendadak cerah.
"Mau!"
Emm, sudah kuduga.
"Iya, iya. Saus dango-nya mau yang mana?"
Aku membalikkan lembaran menu dan memperlihatkannya padanya.
"Aku mau yang agak langka, ah. Tadi kan cuma saus standar yang aman-aman saja. Emm, ada wasabi, plum, terus... kayu manis!"
"Menantang banget pilihanmu."
"Tenang saja. Dango itu enak, sausnya juga enak. Maksudnya kalau digabung bakal jadi makin enak!"
"Babi dan nanas dua-duanya enak, tapi kalau digabung kan tidak boleh menurut Maru-kun."
Saat aku refleks menyemprotnya begitu, pipinya mendadak mengembung.
"Soalnya masakan itu kan penampilan juga mempengaruhi rasa, tahu~ Soalnya sebelum makan dia sudah memasang muka masam duluan."
"Begitu rupanya."
Apakah ini bisa disebut category mistake (kesalahan kategori), ataukah cengkeraman schema (skema pemikiran)?
Manusia jika sudah mengategorikan suatu hal di dalam otaknya bahwa 'ini adalah barang jenis A', konon akan menunjukkan reaksi penolakan jika merasakan hal yang melanggar pengategorian tersebut. Daging adalah lauk, sedangkan nanas adalah pencuci mulut. Begitu otak menilai demikian, dia akan menolak jika keduanya dicampur.
"Kalau gabungan daging sama buah kan Saki pasti paham kalau rasanya cocok, kan?"
"Yah, kan ada 'Daging Bebek Rebus Jeruk' atau 'Daging Asap Melon'. Katanya gabungan antara lemak dan rasa asam sitrus itu justru makin menonjolkan rasa dagingnya."
"Nah, benar kan! Anak itu kalau dihancurkan terus dicampur pasti tidak akan sadar, deh. Dia itu sama saja seperti adik-adikku, tahu. Mau itu paprika atau wortel, kalau dihancurkan pakai food processor lalu dicampur ke adonan steak hamburg, mereka bakal makan dengan lahap sambil bilang 'enak, enak!' kok!"
Begitu rupanya, jadi begitu toh cara penanganan Maaya.
Menyembunyikan hal yang tidak disukai agar tidak kelihatan, lalu menutupinya memakai benang merah kesamaan yang dinilai 'enak'...
Aku merasa sepertinya ada petunjuk yang tersembunyi di sini.
"Terima kasih."
"Emm? Aku tidak terlalu paham, tapi aku baru saja melakukan sesuatu, ya?"
"Iya, kamu membantu banget."
"Sip. Kalau begitu, imbalannya boleh pakai foto asli Akari-chan, ya."
Nuntut apa coba.
"Ah, kalau bisa pas momen three-shot bareng Asamura-kun sekalian."
"...Tidak mau. Kamu kan cuma berniat menggoda kami."
"Saki yang kelewat peka begini tidak seru, tahu?"
Tolong jangan memandagku seperti orang dungu begitu.
"Yah, kalau begitu tinggal berharap untuk masa depan saja kali, ya~"
Sambil mengabaikan igauan temanku itu, aku mengangkat menu dan memanggil pelayan.
Saus yang kupilih untuk dango adalah zunda (pasta kedelai hijau), juruh gula merah (kuromitsu), dan pasta kacang merah (anko).
Maaya sempat menyemprotku "Lho, bukannya sama saja seperti yang tadi", tapi karena aku menganggap saus inilah yang paling cocok untuk dango, maka aku akan tetap bertahan dengan pilihan ini.