Memuat...
Bulan Juli minggu kedua, fieldwork untuk mata kuliah seminar (zemi) resmi dimulai.
『Anak-Anak yang Terisolasi di Dalam Rumah』
Meskipun temanya berat, karena sudah diputuskan, aku berniat untuk mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Lagipula ini adalah hal yang menarik minatku.
Pertama-tama, diputuskan untuk mengunjungi kantor organisasi NPO yang berlokasi di dekat kampus. Begitu kuliah pagi hari itu selesai, aku melangkah keluar meninggalkan area kampus.
Yang pergi cuma aku dan Kikuchi berdua. Meskipun tim zemi beranggotakan 4 orang, tapi hari itu yang punya jadwal senggang cuma kami berdua. Lagipula mulai pertengahan bulan ujian akhir semester juga akan dimulai, jadi menurut kami lebih baik yang bisa pergi berangkat duluan selagi ada kesempatan.
"Ternyata lokasinya lumayan dekat, ya"
Gumam Kikuchi yang sukses membuatku tersentak. Tanpa disadari, kereta tampak baru saja meluncur masuk menepi di peron.
Hanya berjarak satu stasiun dari kampus, di situlah kantor organisasi yang menjadi tujuan wawancara kami berada. Keluar dari gerbang tiket, kami melewati kawasan pertokoan di depan stasiun. Sebuah gedung tua muncul di depan mata. Saat melihat papan nama yang terpasang di samping bangunan, lantai 1 diisi oleh toko laundry dan apotek, sedangkan di lantai 2 terpasang papan nama kecil berisikan nama NPO pendukung anak dan keluarga yang kami tuju.
"Sepertinya memang di sini tempatnya."
"Asamu kelihatannya sudah terbiasa banget, ya. Kalau aku sih lumayan tegang."
"Nggak mungkinlah aku terbiasa. Aku juga tegang, tahu."
Di bagian resepsionis, kami menyampaikan nama serta maksud kedatangan sambil memperlihatkan kartu mahasiswa. Karena sebelumnya sudah membuat janji temu (appointment), kami langsung dipersilakan masuk ke dalam kantor. Di dalam, interiornya ternyata terkesan hangat berbau kekeluargaan, membuatku terkejut. Padahal tadinya aku membayangkan tempat yang kaku dan dingin seperti kantor pemerintahan, tapi biarpun meja baja dan rak dokumennya terkesan kaku layaknya perkantoran, di sana terdapat rak buku rendah berisikan deretan buku cerita anak, beberapa kursi bulat kecil untuk anak-anak ditaruh di sana-sini, dan dindingnya dihiasi oleh hiasan lipatan kertas origami berwarna cerah yang tertempel rapi.
Hal itu menegaskan fungsi dan tujuan dari fasilitas kantor ini.
Di ujung pandangan mata, terdapat ruangan kecil yang tampaknya adalah ruang konsultasi, dengan papan bertuliskan "Sedang Digunakan" tergantung di pintunya.
Saat ini pun ada orang yang sedang datang berkonsultasi. Kenyataan itu sukses membuatku dan Kikuchi makin merasa tegang.
Staf yang menunggu dan menyambut kami sebagai penanggung jawab wawancara adalah seorang wanita berusia sekitar empat puluhan.
Di papan nama yang tersemat di dadanya tertulis nama "Aizawa".
"Selamat siang. Saya Aizawa yang bertugas menjadi penanggung jawab hari ini. Saya mendengar kalian ingin melakukan wawancara mengenai aktivitas organisasi kami."
Aku dan Kikuchi mengangguk secara bersamaan. Aizawa-san mengukir senyum ramah di wajahnya.
"Asamura-san dan Kikuchi-san. Kalian berdua adalah mahasiswa Universitas Ichinose, ya. Silakan tanyakan apa saja. Saya akan menjawab sebatas rentang area yang bisa saya jawab."
Ucapnya dengan nada suara yang sangat lembut.
Dan meskipun disampaikan dengan lembut, beliau tidak lupa memasang benteng pencegahan secara mantap dengan kata-kata "sebatas rentang area yang bisa saya jawab". Secara tersirat beliau ingin menyampaikan bahwa mengingat sifat organisasinya, hal-hal yang berkaitan dengan privasi tidak akan bisa dijawab. Bisa kutebak beliau pasti sudah bertahun-tahun berkecimpung di lapangan yang menangani masalah keluarga dan anak-anak. Aku mendapatkan kesan bahwa beliau adalah sosok yang sangat berhati-hati dalam mengolah kata-kata.
Atau mungkin, sikap semacam itu memang terasah secara alami jika menekuni pekerjaan seperti ini, ya?
"Sebelum menjawab pertanyaan dari kalian, saya berniat menjelaskan secara garis besar mengenai aktivitas organisasi kami terlebih dahulu. Dengan begitu kita bisa menghindari pengulangan penjelasan. Apakah tidak keberatan?"
Posisi inisiatif percakapan memang sepenuhnya dipegang oleh beliau, tapi bagi kami yang baru pertama kali melakukan fieldwork, hal ini justru sangat disyukuri. Kikuchi sampai menganggukkan kepalanya berulang kali seolah merasa sangat terbantu.
Bukan cuma mendengarkan, aku juga harus memastikan untuk mencatatnya. Aku mengeluarkan alat tulis dan buku catatan kecil khusus memo dari dalam tas.
"Di sini, saya juga sudah menyiapkan berkas materinya."
Sebuah brosur yang biasa dibagikan oleh organisasi tersebut diserahkan kepada kami. Kesannya seperti buklet kecil berisikan foto-foto.
"Kami menjalankan program kegiatan semacam ini demi memberikan bantuan kepada anak-anak dan keluarga di kawasan pemukiman sekitar—"
Aizawa-san membuka brosur di tangannya dan mulai menjelaskan sambil memperlihatkannya kepada kami. Di bagian riwayat organisasi, daftar program kegiatan yang pernah dilakukan serta aktivitas yang sedang ditekuni terbeber rapi. Sambil menunjuk bagian tersebut, Aizawa-san menyisipkan penjelasan singkat.
Kami memfokuskan pikiran mengikuti penjelasan Aizawa-san sambil menundukkan pandangan ke poin yang sama di brosur.
Tampaknya program kegiatan yang sedang berjalan saat ini terbagi menjadi dua kelompok besar.
Yang pertama adalah short stay untuk anak-anak. Maksudnya adalah penitipan anak jangka pendek. Sebuah sistem untuk menitipkan anak yang karena berbagai alasan sulit mendapatkan perawatan di dalam rumah.
Yang kedua adalah kerja sama terhadap operasional Pusat Bantuan Keluarga dan Anak yang merupakan lembaga resmi pemerintah. Maksudnya, permasalahan keluarga adalah hal yang harus ditangani dengan menembus sekat antara pihak pemerintah dan swasta.
Sebenarnya sampai batas garis besar seperti ini, aku sendiri sudah sempat melakukan riset awal sebelumnya.
Begitu selesai menjelaskan isi materi yang tertulis di brosur secara singkat, Aizawa-san membeberkan alasan kenapa organisasi seperti milik mereka justru sangat dibutuhkan, padahal lembaga resmi pemerintah pun sebenarnya nyata keberadaannya:
"Masalah keluarga itu sangat sulit terlihat dari luar. Tapi begitu masalah itu akhirnya terlihat di permukaan, biasanya kondisinya sudah berada di tingkat yang sangat parah. Makanya dibutuhkan sistem berlapis yang sanggup menghubungkan mereka dengan organisasi penolong sebelum kondisinya makin parah. Kami membutuhkan lebih banyak lagi wadah konsultasi yang bisa dijangkau dengan santai dan tanpa beban. Selain kami sebenarnya ada beberapa organisasi NPO lainnya, tapi jujur saja jumlah itu pun masih sangat kurang. Lagipula keberadaan aktivitas kami dari awal masih sangat sulit dibilang sudah dikenali oleh masyarakat luas, sih."
Kikuchi membuka suaranya untuk pertama kali.
"Padahal ada banyak, tapi tidak banyak diketahui, ya?"
Aizawa-san mengangguk sekali lalu melanjutkan obrolannya.
"Menurut saya hal ini berlaku untuk seluruh program bantuan secara umum, sih. Manusia itu sebelum dirinya sendiri menjadi pihak korban (pihak terkait langsung), tidak pernah berpikir bahwa dirinya bakal membutuhkan bantuan orang lain. Mereka tidak berpikir itu perlu, dan tidak mau berpikir kalau itu perlu. Dan manusia itu, tidak akan menangkap hal-hal yang tidak berniat mereka lihat."
"Kalau itu, mungkin memang benar."
Saat aku menyetujuinya, Aizawa-san menurunkan pandangan matanya sedikit lalu berbicara.
"Sebab organisasi seperti kami ini pada dasarnya adalah bentuk usaha yang diharapkan untuk 'tidak perlu ada'. Bisa dibilang saat tatanan masyarakat berjalan dengan baik, ini adalah organisasi yang tidak ingin dilihat orang-orang. Sebab begitu organisasi ini tertangkap oleh mata mereka, mereka akan tersadar bahwa di sana nyata ada sebuah permasalahan, bukan?"
Kikuchi memiringkan kepalanya sedikit.
"Tapi biarpun begitu, kalau sudah merasa terdesak kan mereka bakal mencarinya, kan? Tempat seperti ini kan dekat dari stasiun, rasanya gampang tertangkap mata."
Aizawa-san menghembuskan napas pelan.
Beliau menutup brosurnya lalu mendongakkan wajahnya sedikit.
"Di sinilah letak kesukaran dari masalah ini. Ada keluarga yang biarpun tahu tempat ini ada, tetap tidak bisa memanfaatkannya."
"Tahu tapi tidak bisa memanfaatkannya?"
Maksudnya bagaimana?
Aizawa-san mengarahkan pandangannya ke arahku merespons pertanyaanku.
"Asamura-san, menurut Anda apa hal yang dibutuhkan agar seseorang bisa meminta bantuan?"
Saat ditanyai secara lurus menatap langsung ke arahku, aku mendadak bungkam tak bisa menjawab. Otakku berputar keras mencari-cari jawabannya.
Di sampingku yang sedang kesulitan merangkai kata, Kikuchi melontarkan kalimat secara santai.
"Rasa mengalami kesulitan, atau semacamnya."
Mendengar hal yang sangat teramat wajar itu diucapkan, jalan pikiranku sempat terhenti sejenak.
Mengalami kesulitan "makanya" meminta bantuan. Karena dihubungkan oleh kata "makanya", berarti premis dasar dari meminta bantuan adalah mengalami kesulitan.
Memang benar begitu. Itu wajar—tapi bukankah itu terlalu teramat wajar?
Wanita di depan kami sama sekali tidak mengangguk mendengar jawaban Kikuchi. Artinya, jawaban itu dinilai belum cukup. Berarti ada hal lain yang dibutuhkan untuk bisa meminta bantuan. Dan hal itulah yang menjadi alasan kenapa biarpun tahu ada organisasi penolong, mereka tetap tidak bisa memanfaatkannya.
Hal itu adalah... Gawat. Aku sama sekali tidak paham.
Saat kami berdua bungkam dalam diam, Aizawa-san menyisipkan kata pengantar "Mungkin ini agak sulit dipahami, sih," sebelum akhirnya membeberkan jawabannya.
"Mengakui bahwa dirinya sendiri sedang mengalami kesulitan."
Begitu hal itu diucapkan, jujur saja aku dan Kikuchi dibuat tercengang.
"Anu... Tunggu sebentar. Maksudnya, meskipun pada kenyataannya mereka sedang mengalami kesulitan, tapi mereka sendiri tidak menyadari bahwa mereka sedang kesulitan, begitu?"
Beliau mengangguk menyetujuinya.
"Sebab menyadari bahwa diri sendiri sedang dalam kesulitan itu berarti mengakui kelemahan diri sendiri."
"Mengakui kelemahan diri sendiri..."
"Boleh juga diganti dengan istilah mengakui kekalahan, atau mengakui bahwa diri sendiri telah gagal. Jika diucapkan dengan istilah begitu, biasanya jauh lebih banyak orang yang bisa memahaminya."
Begitu rupanya...
"Kalau aku sih isinya kalah terus, tuh."
Gumam Kikuchi pelan.
"Mengakui kelemahan itu bukanlah hal yang gampang. Apalagi bagi orang-orang yang percaya bahwa hanya karena dirinya kuat, hanya karena dirinya tidak kalah, makanya orang-orang mau mengikutinya. Jika tidak menjadi sosok yang kuat maka dirinya tidak bernilai. Atau jika memperlihatkan kelemahan maka miliknya akan direbut. Jika memiliki nilai-nilai seperti itu, mengakui dan menyuarakan bahwa dirinya sedang dalam kesulitan pasti adalah hal yang sangat menyiksa untuk dilakukan, bukan?"
"Contohnya, begitu diakui, mereka percaya sangat kuat kalau orang-orang di sekitarnya bakal langsung pergi meninggalkannya. Maksudnya begitu, ya."
"Ada tipe orang yang sangat benci jika dirinya menjadi beban bagi orang lain."
"Tapi... pada kenyataannya kan mereka sedang dalam kesulitan, kan?"
Iya, beliau mengangguk.
"Mungkin bisa juga disebut sebagai tipe orang yang tidak jago dalam hal bergantung pada orang lain, ya."
—Tidak jago bergantung.
Mendengar hal itu, di dalam hati aku tersentak dan mengalirkan keringat dingin. Sebab aku punya ingatan mengenai hal itu pada diriku sendiri.
"Pertama-tama dibutuhkan kesadaran. Dan biarpun sudah mengakui bahwa dirinya dalam kesulitan serta berhasil menemukan organisasi bantuan terdekat, di tahap selanjutnya pun masih menyimpan kesukaran."
Aku menghentikan tanganku yang sedang mencatat memo lalu mendongak.
"Anu... itu maksudnya?"
"Menelepon, datang ke loket resepsionis, menjelaskan situasi, mengisi formulir dokumen. Bagi orang yang sehat dan segar bugar, hal-hal ini kelihatannya sangat gampang, tapi bagi orang yang benar-benar sudah terdesak, hal-hal ini terasa sangat teramat berat."
"Aku paham kalau itu merepotkan, sih. Tapi apakah sampai seberat itu, ya?"
Ujar Kikuchi.
Sambil menyisipkan kata pengantar "Pasti sulit untuk merasakannya secara nyata, sih", Aizawa-san memberikan penjelasannya:
"Saya ingin kalian tahu bahwa saat seseorang terdesak, setiap tindakan akan bertambah tingkat kesulitannya satu demi satu tahap. Hal yang 'Biasa' berubah menjadi 'Merepotkan', dan hal yang 'Merepotkan' berubah menjadi 'Sangat Berat'."
Hal yang biasa berubah jadi merepotkan, dan hal yang merepotkan berubah jadi sangat berat.
Saat mendengar istilah 'menerima bantuan', orang-orang cenderung membayangkan situasi serba dilayani. Berpikir bahwa biarpun tidak melakukan apa-apa, pihak lain akan menuntun dan menolong kita secara menyeluruh.
Kenyataannya tidaklah demikian. 'Bantuan' itu menuntut pihak penerimanya untuk memiliki tenaga demi bisa menerimanya. Untuk berteriak 'tolong' pun dibutuhkan tenaga fisik, pengetahuan, dan keberanian.
"Seperti butuh otot demi bisa latihan beban, begitu?"
"Sepertinya memang begitu maksudnya."
Aku mengangguk menyetujui perumpamaan Kikuchi.
Tindakan seperti 'berlari' kelihatannya bisa dilakukan oleh siapa saja, tapi saat tubuh benar-benar melemah akibat sakit, hal yang 'bisa dilakukan siapa saja' itu mendadak jadi tidak bisa dilakukan. Jika saat demam tinggi mendadak memaksakan diri berlari, suhu tubuh akan melonjak dan kita bakal tumbang.
Akan tetapi, saat sehat manusia cenderung tidak mengingat kondisi dirinya sewaktu sakit.
"Bagi orang-orang yang tidak sedang terdesak, kesukaran tindakan saat berada di kondisi terdesak itu tidak akan kelihatan. Berdiri di sudut pandang orang lain itu bukanlah hal yang gampang."
Itu adalah kalimat yang sangat berbobot.
Pada dasarnya, berbeda dari bayi, terhadap orang dewasa kita cenderung berpikir bahwa orang-orang di sekitar kita pasti sanggup mandiri seperti diri kita sendiri. Termasuk bagi si pemilik tubuh yang sebenarnya ingin berteriak meminta tolong sekalipun.
Justru karena saat ini aku sedang memperhatikan adik perempuanku yang baru lahir, aku jadi bisa menggeragap merasakannya secara samar-samar.
Bayi biarpun menangis tanpa kesadaran penuh, pasti akan ada orang yang datang mendekat. Akan tetapi, seiring bertumbuh besar, manusia dituntut untuk berdiri di atas kakinya sendiri, dan sebagai hasilnya mereka perlahan-lahan lupa cara untuk menangis.
Anak yang tersadar bahwa menangis pun tidak ada gunanya, lalu bagaimana caranya mereka meminta bantuan?
Jika mengingat kembali kasus diriku sendiri, jawabannya adalah "berhenti meminta bantuan".
Sebab aku tersadar bahwa biarpun aku menangis, Ibu yang pergi meninggalkan rumah tidak akan kembali lagi.
Dan tanpa disadari, aku menganggap hal itulah bentuk kedewasaan yang wajar.
"...Mungkin ada juga kasus di mana karena bergantung pada orang lain itu terasa menyiksa, makanya dia memilih untuk menganggap kalau dirinya sebenarnya sedang tidak berada dalam kesulitan, ya."
Mendengar ucapanku, Aizawa-san membelalakkan matanya sedikit.
"Benar sekali. Saya rasa ada juga kasus semacam itu. Bagaimanapun juga, justru karena adanya kesukaran semacam itulah makanya kita tidak bisa bersandar pada 'cukup menyediakan satu loket bantuan yang statis saja'. Menurut kami, hal yang terpenting adalah menyiapkan beberapa loket bantuan yang disesuaikan dengan situasi keluarga maupun anak-anak yang sedang dalam kesulitan."
"Berarti salah satu loket bantuan itu adalah tempat ini, begitu ya."
Ujar Kikuchi meminta persetujuanku, dan aku membalas "Sepertinya begitu". Aizawa-san mengangguk sambil tersenyum ramah.
Setelah melontarkan beberapa pertanyaan berturut-turut.
Aizawa-san berkenan memeriksa rancangan rencana penelitian yang kami susun. Pemicunya adalah usul Kikuchi yang melontarkan bahwa dia ingin mendengar masukan dari sudut pandang ahli.
Setelah menyimak secara menyeluruh apa yang berniat kami lakukan, Aizawa-san mengerutkan dahinya saat melihat isi kuesioner yang ditujukan untuk anak-anak.
Meskipun kuesioner ini sudah diracik ulang setelah mendengar masukan dari Profesor Mori, bagi Aizawa-san rupanya kuesioner ini masih menyimpan permasalahan.
"Pertanyaan seperti 'Apakah ada orang dewasa yang bisa diajak berkonsultasi' menurut saya sudah bagus. Tapi, jika cara bertanya hanya sebatas 'Ada' atau 'Tidak ada', itu terbilang agak terlalu kasar (kurang spesifik)."
"Kurang spesifik..."
"Jika pilihan jawabannya dipecah seperti: Keluarga, Guru Sekolah, Kerabat, Orang Tua Teman, Guru Les/Ekstrakurikuler, Media Sosial, atau Konsultasi Telepon, kenyataan riil di lapangan mungkin bakal jauh lebih kelihatan."
"Apakah mereka bisa paham ya dengan pemecahan pilihan seperti itu?"
Gumam Kikuchi secara santai, dan aku bergumam hmm menyetujui kekhawatirannya.
Jika pihak yang ditanyai adalah orang dewasa sih tidak akan ada masalah. Tapi jika contohnya disebutkan kata "Les/Ekstrakurikuler", jika dipikirkan ulang apakah kata itu bakal tersampaikan dan dipahami oleh anak SD yang masih kecil? Apakah itu pilihan kata yang bisa dimengerti oleh mereka? Memang betul mulai dari keterampilan seperti alat musik atau kaligrafi, olahraga, bela diri, hingga pembelajaran edukatif semuanya masuk kategori "Les", tapi...
Aizawa-san berpikir sejenak.
"Saya rasa itu sangat bergantung pada tingkat usia anak yang ditanyai. Bagi murid kelas 2 SD ke bawah, dibanding konsep abstrak, ada anak-anak yang masih mengingatnya sebatas nama spesifik dari tempat lesnya saja. Jika ditanyai apakah mereka ikut les sesuatu mereka tidak paham, tapi mereka mengingatnya secara spesifik seperti les piano atau les renang memakai nama tempatnya masing-masing."
"Tapi bukan berarti kita bisa menuliskan seluruh nama tempat les yang bertebaran di dunia ini ke dalam kuesioner, kan."
"Jika targetnya adalah anak-anak sekecil itu, cara bertanya yang agak kasar seperti 'Apakah ada orang dewasa yang bisa diajak berkonsultasi' mungkin justru jauh lebih bagus, ya."
Artinya pertanyaan harus diracik dengan menyesuaikan tahap perkembangan dari lawan bicara.
Aku tersentak.
"Ah, benar juga. Kalau begitu... anu, aku baru saja menyadarinya, tapi jika memakai pilihan kata 'Orang Dewasa' yang bisa diajak berkonsultasi, bukankah hal itu akan memaksa si anak untuk memikirkan batas mana seseorang dikategorikan sebagai 'Orang Dewasa' bagi mereka?"
"Benar... juga, ya. Memang betul."
Aizawa-san menaruh tangannya di depan mulut lalu mengangguk terkagum-kagum.
"Asamu~... ra, maksud ucapanmu itu bagaimana?"
Dia hampir memanggilku memakai nama panggilan seperti biasa, sebelum akhirnya teringat sedang berada di mana kami sekarang. Asamura itu siapa coba, kalau ada Nakamura di sini pasti dia sudah menyemprotnya memakai tsukkomi.
"Maksudku, kira-kira anak-anak itu menganggap orang di rentang usia berapa sebagai orang dewasa, ya?"
"...Kalau aku dulu sih dibanding usia, sepertinya aku menganggap semua orang yang berbadan bongsor besar sebagai orang dewasa, deh."
Itu adalah kalimat yang sangat cocok untuk sosok Kikuchi yang memiliki postur tubuh kurus dan tergolong mungil.
"Kalau begitu bukannya anak SMP atau anak SMA juga bakal ikut masuk kategori orang dewasa?"
"Kalau dari sudut pandang anak kecil kan sama saja. Selain anak SD rasanya mereka menganggap semuanya sebagai orang dewasa, deh."
Begitu rupanya, masuk akal juga.
"Permasalahan itu pun sepertinya bisa dipersempit dengan memasukkan pilihan jawaban ke dalam butir pertanyaan, ya."
Ujar Aizawa-san yang menyimak percakapan kami.
"Lewat pilihan jawaban?"
"Contohnya, pada poin 'Apakah ada orang dewasa yang bisa diajak berkonsultasi', kita sejajarkan pilihan jawaban seperti 'Ada di sekolah', 'Ada di tempat les', 'Ada di dalam rumah', 'Lainnya', lalu minta mereka meresponsnya cukup dengan memberikan tanda lingkaran."
Mendengar ide dari Aizawa-san, aku dan Kikuchi dibuat terkagum-kagum oleh kecermatan penyusunan butir pertanyaannya.
Jika murid yang bersekolah di SD memilih 'Ada di sekolah', maka sosok 'Orang Dewasa' tersebut secara otomatis adalah guru atau orang yang berposisi mirip guru. Sebab selain orang-orang itu, tidak ada orang dewasa lain di sekolah. Jika memilih 'Ada di dalam rumah', berarti ada kerabat keluarga yang dirasakan sebagai orang dewasa oleh anak tersebut. Meskipun sama-sama menjawab 'Ada', makna di baliknya berubah, tapi tugas penyaringan itu tinggal ditanggung oleh pihak penganalisis data.
Dan dibandingkan sekadar bertanya secara samar apakah ada atau tidak ada, jumlah informasi yang didapatkan jauh lebih banyak, padahal si anak cukup melingkari jawabannya saja sehingga beban mereka berkurang.
"Luar biasa, ya. Trik yang sangat lihai."
Kikuchi terkagum-kagum dan mengangguk berulang kali.
"Lalu sisanya... apakah 'Tempat yang membuat tenang' itu tidak selalu terbatas pada 'Tempat secara fisik'?"
Saat hal itu diutarakan, aku dan Kikuchi kembali tenggelam dalam pemikiran.
—Tempat yang bukan berupa lokasi fisik itu maksudnya apa?
"Gim, atau semacamnya?"
Ujar Kikuchi.
Aku tersentak.
"Aah, buku cerita, atau hiburan juga boleh, ya."
"Benar sekali. Asal itu adalah wadah melarikan diri bagi si anak, maka itu sah-sah saja. Karena di sini kita memikirkannya sebagai tempat di mana terdapat pihak yang bisa diandalkan, jika kita menyampingkan buku atau film, bagi beberapa anak, komunitas di dalam gim internet maupun media sosial pun bisa ikut terhitung. Bagian itu sepertinya perlu dipikirkan bagaimana cara mengolahnya, ya."
Saat ditegur begitu, aku merefleksikan diriku. Saat menyusun butir pertanyaan, gara-gara terseret oleh kata 'Tempat' yang mengindikasikan ruang, aku hanya memikirkan lokasi nyata yang ada di dunia riil saja.
Memang benar komunitas yang terhubung melalui internet pun jika dibilang tempat ya merupakan sebuah tempat. Hal yang terpenting bukanlah masalah ruang fisik, melainkan apakah seseorang bisa berada di sana tanpa merasakan tekanan stres atau tidak.
"Bagi anak-anak zaman sekarang, 'Tempat' itu tidak selalu terbatas pada ruang nyata di dunia riil saja, ya."
Ada gim online, ada juga media sosial. Di zaman modern saat ini, 'Tempat Beralih' tidak lagi terkunci pada batas rentang jarak yang bisa ditempuh oleh kaki si anak. Meskipun internet itu tergolong sangat luas, tapi dari sudut mana pun di Jepang kita bisa terhubung ke sana.
"Iya. Sesuai dugaan, mahasiswa Universitas Ichinose memang sangat cepat dalam hal pemahaman, ini sangat membantu."
Kami bahkan sampai disanjung begitu.
Lalu sebagai penutup, beliau mengakhiri percakapan dengan kalimat ini:
"Bagi kalian semua, menulis laporan penelitian yang bagus itu memang penting, tapi melebihi dari itu, saya ingin kalian selalu mengimajinasikan raut wajah anak-anak maupun wali murid yang berada di balik objek penelitian kalian. Sebab angka-angka, terkadang bisa membuat sosok manusia menjadi tidak kelihatan."
Aku menuliskan kalimat tersebut di sudut buku catatanku.Angka-angka, terkadang bisa membuat sosok manusia menjadi tidak kelihatan—
Kami memutuskan untuk kembali ke kampus terlebih dahulu.
Di dalam kereta dalam perjalanan pulang. Kami berdua duduk bersandingan.
Memasuki awal petang di dekat Stasiun Kunitachi, waktunya terbilang jauh dari jam berangkat maupun pulang kerja/sekolah, sehingga di sekeliling kami tidak terlihat sosok pekerja kantoran maupun mahasiswa. Rasanya seperti kami menempati deretan kursi luas berdua saja, bergoyang-goyang dengan bunyi gata-goto sambil diterpa sinar matahari musim panas yang tanpa ampun menusuk punggung dari balik langit akhir musim hujan.
Kikuchi bergumam pelan.
"Padahal aku dulunya juga begitu, ya."
Aku mengarahkan pandanganku ke arah kalimat yang lolos dari mulutnya itu.
"Soal tempat beralih itu."
"Aah... Kalimat yang diucapkan Aizawa-san di akhir tadi, ya."
Iya, yang itu, Kikuchi menganggukkan kepalanya sambil membisikkan cerita masa-masa SMP-nya dulu.
"Dulu pernah ada masa di mana aku tidak punya tempat beralih selain di dalam gim internet—"
Kikuchi?
"—makanya di butuh pertanyaan tadi, kudunya aku bisa tersadar lebih cepat kalau tempat beralih itu bukan cuma ruang di dunia riil saja..."
Tapi ternyata dia tidak bisa menyadarinya. Maksudnya begitu.
"Aku juga sama, kok. Kalau dipikir-pikir, aku dulunya juga bisa dibilang melarikan diri ke dalam buku."
"Asamu~ sampai sekarang kan juga masih begitu. Aku juga sih."
Bagaimanapun juga, berarti aku maupun Kikuchi di masa lalu adalah anak-anak yang pernah terisolasi di dalam rumah, ya. Cuma bedanya, kami tidak sampai ke tahap harus merepotkan fasilitas bantuan saja. Dan hal itu murni bisa saja gara-gara faktor keberuntungan belaka.
Kalau diingat-ingat, aku dan Kikuchi belum pernah saling menceritakan latar belakang kehidupan masing-masing. Ini mungkin gara-gara kepribadianku sendiri yang bukan tipe suka mengumbar cerita masa lalu. Bagaimanapun juga, isi dari sebuah percakapan sangat ditentukan oleh pemicu yang dilemparkan oleh salah satu pihak.
Meskipun dari awal aku memang sudah mengira kalau anak ini sepertinya punya masa lalu yang cukup beragam, sih.
"Makanya, kalau melihat anak yang kelihatannya beruntung punya orang tua yang bagus, jujur saja aku suka merasa sebal, tahu. Yah, murni kecemburuan sih."
Aku baru saja hendak menyemprotnya memakai argumen yang terkesan benar seperti pemandangan dari luar kan tidak bisa memperlihatkan isi dalamnya, tapi mulutku terhenti setengah terbuka lalu kututup kembali. Hal semacam itu pasti Kikuchi sendiri sudah memahaminya. Makanya dia tidak menggunakan kata "beruntung", melainkan "kelihatannya beruntung".
Pada kenyataannya, bahkan sebelum Ayah dan Ibu kandungku bercerai pun, tidak ada orang di sekeliling kami yang menyadari memburuknya keharmonisan hubungan mereka, dan aku pun di sekolah tidak pernah sampai dikhawatirkan mengenai masalah rumah. Meskipun aku cenderung pendiam, ini juga gara-gara aku tidak pernah memperlihatkan kekacauan di rumah ke luar. Tepat seperti yang diucapkan Aizawa-san: 'Masalah keluarga itu sangat sulit terlihat dari luar'.
"Waktu SMP dulu di kelas ada anak seperti itu, tuh."
Anak seperti itu... Maksudnya anak yang kelihatannya beruntung, ya.
"Aah, terus yang itu. Momen waktu tempo hari aku diajak Asamu~ pergi main gim itu."
"Gim...?"
"Kamu lupa, ya? Tuh, yang ada pacarmu juga."
Saki juga ada di sana... Aah, aku teringat.
"Gim meloloskan diri dari ruangan (Real Escape Game)?"
"Yup. Di acara kumpul-kumpul minum setelahnya kan ada satu orang, tuh. Cewek yang kesannya lembut dan santai."
Aku menguras ingatan mencoba mengingat nama dan wajahnya.
"Kaneko... Mayu-san?"
"Aah, yang itu. Sepertinya namanya memang semacam itu. Teman sekelas waktu SMP dulu juga tipe ceweknya seperti itu. Padahal sudah punya banyak hal, tapi kesannya masih menuntut mau lebih banyak lagi."
Aku bisa memahami apa yang ingin disampaikannya, tapi... Apakah dia menyadari kalau raut wajahku sedikit mengerut?
"Maaf, deh. Tidak seharusnya aku bicara jelek tentang temannya pacarmu. Lagipula Asamu~ kan paling benci menilai orang dari penampilannya saja, kan."
Aku sedikit terkejut mendengar kalimat terakhirnya.
"Aku?"
"Iya, kan. Menurutku Asamu~ selalu berusaha agar tidak menilai orang dari kesan luar saja."
—Lulusan SMA. Cantik. Bekerja di dunia malam. Kalau tiga syarat ini berkumpul bagaimana?
—Ya cuma sebatas orang lulusan SMA, cantik, dan bekerja di dunia malam saja, kan.
Percakapan masa lalu bersama Saki seketika melintas kilat di dalam ingatanku. Memang benar aku selalu mengusahakan hal itu di dalam hati. Aku mengusahakannya, tapi apakah aku benar-benar sudah bersikap seperti itu atau belum, diriku sendiri tidak mengetahuinya. Tapi dari sudut pandang Kikuchi, rupanya aku terlihat seperti itu.
"Yah, setidaknya aku berusaha melihat lawan bicara dengan membuang prasangka (bias) sebisa mungkin, sih."
Sebab itulah hal yang kupelajari dari membaca buku.
Kikuchi mengangguk sambil berkata.
"Tuh, kan. Kamu itu memang ada sisi mirip mesin uap yang dipasangi katup pengaman (safety valve)."
"Bisa tolong pakai perumpamaan yang sedikit lebih mendingan tidak."
Meskipun aku bisa memahami makna di balik perumpamaannya, sih.
Mesin uap memang merupakan penemuan besar yang mendorong Revolusi Industri, tapi keberadaan katup pengaman adalah pahlawan di balik layar yang menyokongnya. Jika kekuatan uap yang membara dilepaskan begitu saja tanpa kendali, hal itu akan berubah menjadi kekuatan yang menghancurkan dunia. Katup pengaman pada mesin uap bisa dibilang tidak beda jauh dengan keberadaan logika dan akal sehat di tengah dorongan emosi.
"Sejak dulu aku tidak pernah berpikir kalau bertindak menuruti emosi itu adalah hal yang bagus, sih."
Hanya saja...
"Belakangan ini aku berpikir kalau kesan luar maupun dorongan emosi itu sebenarnya adalah hal yang krusial juga. Karena manusia itu adalah makhluk emosional. Kita tidak akan bisa hidup dengan mengabaikan emosi yang mentah."
Proses itu terlihat oleh mataku.
Perasaan itu terlanjur muncul di dalam hati.
Membunuh emosi apa adanya yang muncul di dalam hati, belakangan ini aku berpikir bahwa hal itu terkadang justru berujung pada sikap tidak peduli terhadap lawan bicara.
Saat aku mengucapkan hal itu, Kikuchi pun mengangguk.
"Aah, aku paham. Asamu~ kalau kelewat menahan emosi terkadang memang kelihatan seperti tidak peduli, sih."
Aku tersenyum kecut.
Maru juga pernah mengatakan hal yang mirip padaku.
"Kalau emosimu kelihatan, rasanya jadi oh. Ternyata anak ini manusia juga, begitu."
"Selama ini aku diperlakukan seperti alien, ya."
"Kalau tidak mau diperlakukan begitu, coba deh perlihatkan emosimu sedikit lagi. Kalau diintimidasi pas main gim, geplak meja kek, baru namanya riil."
"Geplak meja?"
"Gini nih, tangan digeplak ke meja, Paaang!"
"...Kayaknya aku tidak akan melakukan hal itu, deh."
Meskipun emosi tidak boleh diabaikan, tapi menjadi emosional hingga memperlihatkan sifat kekerasan rasanya kelewat tidak sopan. Tapi jangan-jangan, justru hal itulah yang tergolong biasa bagi kebanyakan orang, ya?
Aku sebenarnya ingin memperdalam diskusi mengenai batasan boleh tidaknya mengeplak meja, tapi kereta yang hanya menempuh jarak 1 stasiun ini sudah meluncur masuk ke stasiun terdekat kampus, sehingga topik percakapan pun swallowed melenyap di dalam lautan pergerakan manusia.
Jarum jam telah menembus angka dua belas malam.
Ayah, Ibu Tiri Akiko, maupun Akari sedang terlelap dalam tidur singkat mereka.
Makanya suara "Aku pulang" dari Saki pun terdengar sangat amat halus antara terdengar dan tidak.
Meski begitu, suara itu masih sanggup merambat sampai ke kamarku yang berada paling dekat dengan pintu depan. Ini juga gara-gara aku sengaja menunggu dengan tidak menutup rapat pintu kamarku.
Meskipun kerja lembur di tempat magang sampai larut malam bukan cuma sekali dua kali terjadi, tapi hari ini adalah hari Sabtu.
Lagipula, sewaktu berangkat di siang hari tadi seingatku dia bilang mau bertemu dengan temannya. Tapi di sore hari masuk pesan darinya: 『Aku mau mampir ke kantor magang dulu sebelum pulang』.
Dan dia baru benar-benar sampai di rumah tepat baru saja.
"Selamat datang kembali. Mau kubuatkan minuman hangat?"
Ucapku dengan suara berbisik sambil menyodorkan kepala dari kamar ke arah koridor.
Saki mengangguk pelan lalu masuk ke kamarnya. Di antara jeda waktu dia menaruh barang bawaannya lalu melangkah menuju ruang makan, aku menyeduhkan teh hangat untuk Saki, lalu mendudukkan diri bersama cangkirku sendiri.
"Aku buatkan yang versi bebas kafein (non-caffeine), ya."
"Terima kasih."
Ujar Saki yang mendudukkan diri di hadapanku.
"Masih sibuk?"
"Sedikit lagi, sih. Rasanya titik terangnya sudah makin kelihatan. Daripada itu, tadinya kukira kamu sudah tidur. Kamu menunggu sampai aku pulang?"
"Yah, hari ini kan kita belum sempat mengobrol."
Meskipun aku mengusahakan untuk pulang ke rumah utama setiap akhir pekan, tapi jika tidak sengaja meluangkan waktu untuk mengobrol secara aktif, bisa-bisa seharian hanya diisi oleh pertukaran pesan singkat saja.
"Tapi syukurlah."
Mendengar kata-kata yang kulontarkan tanpa sengaja itu, Saki mendongak kaget—Eh? Yup, aku tidak salah lihat.
"Soalnya tadinya kulihat kamu agak terlalu memaksakan diri. Sekarang kelihatannya sudah sedikit lebih tenang, kan."
"Kamu bisa menyadarinya?"
"Ya, kurang lebih."
Sejak pulang di Jumat malam sampai Sabtu pagi hari ini, aku memang baru saja menikmati waktu bersantai di rumah utama setelah sekian lama, tapi di antara jeda waktu itu bukan berarti aku sempat mengobrol secara mendalam dengan Saki.
Meski begitu—
Raut wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibandingkan sewaktu kulihat di pagi hari tadi.
"Kamu beneran memperhatikan aku banget, ya."
Meskipun dia menyampaikannya dengan nada terkagum-kagum, diriku sendiri tidak begitu percaya pada ketajaman daya pengamatanku. Justru aku merasa persis seperti yang diucapkan Kikuchi. Aku ini tidak berusaha melihat sekelilingku. Kebiasaan yang terasah demi tidak melihat hal-hal yang tidak ingin kulihat tidak akan bisa berubah begitu saja dengan gampang.
"Tadi waktu mengobrol sama Maaya aku baru saja menyadari sesuatu, lho."
Aku menyimak dalam diam cerita yang dibeberkan Saki dengan suara berbisik yang jauh lebih kecil dari sekadar bisikan biasa.
Draf selebaran? Konon dia sedang terus-menerus membuatnya... Dan jalan keluar dari titik kebuntuan yang menyiksanya itu mendadak terlintas di kepalanya saat sedang mengobrol bersama temannya.
"Begitu rupanya. Makanya kamu jadi tidak sabar ingin langsung menuangkan ide yang terlintas itu ke dalam bentuk nyata, ya."
"Padahal tadi aku sudah bilang mau pulang cepat, maaf ya."
"Nggak, nggak usah minta maaf. Aku paham perasaannya, kok. Asal kamu tidak memaksakan diri sih tidak apa-apa. Lagipula itu kan pekerjaan di luar jam kerja resmi, kan."
"Ini sih bentuk latihan. Kalau tugas sekretaris—proyek 'Pameran Horor' milik Ibu Ruka—barang-barang pamerannya kan hampir semuanya sudah jadi, tinggal... ujian. Ujian kampus."
Seketika raut wajahnya berubah masam.
"Gawat. Hari ini aku belum sempat mengulang materi kuliah sama sekali."
"Ingin rasanya membantu, tapi apa yang kita pelajari di kampus kan beda banget, ya."
"Tidak apa-apa. Kalau diatur ulang jadwalnya, sehari sih masih..."
Mungkin dia sedang menyusun ulang jadwal belajar persiapan ujian di dalam kepalanya, pandangannya menatap tajam ke udara sambil tenggelam dalam pemikiran.
Sambil menunggu pembaruan daftar ToDo List di dalam otak Saki selesai, aku pun teringat hal yang kualami dan mulai bercerita.
"Tadi waktu mengobrol sama Kikuchi aku juga disadarkan akan sesuatu... ah, gara-gara itu aku jadi teringat. Teman kampus Saki yang... Kaneko-san?"
"Mayu?"
Tampaknya tebakan namaku benar. Aku berterima kasih pada daya ingatku sendiri.
"Itu... Aah, tunggu sebentar."
Kikuchi tadi secara sepihak menyimpulkan latar belakang kehidupan Kaneko-san hanya gara-gara kesannya mirip dengan wanita yang diketahuinya di masa lalu. Bagaimana fakta yang sebenarnya? Jika aku bertanyanya pada Saki mungkin aku bisa mengetahuinya, pemikiran itu sempat terlintas di kepalaku.
Namun aku menggelengkan kepala menolak pemikiran itu. Tidak, itu bukanlah cara pandang yang netral dan adil (flat).
Manusia tidak selalu bertumbuh persis seperti latar belakang kelahirannya. Terlahir kaya tidak otomatis membuat kepribadiannya menjadi dermawan dan luwes, dan kehilangan orang tua pun tidak selalu membuat kepribadiannya menjadi liar dan kacau. Alih-alih menilai seseorang dari asal-usulnya, menilai dari rentang area yang tertangkap langsung oleh mata kita sendiri barulah yang dinamakan cara pandang yang netral.
Jika begitu, apa gunanya aku menggali latar belakang Kaneko-san dari Saki di sini?
"Eh, anu..."
Aku kebingungan. Padahal aku yang membuka topiknya, tapi aku malah kehilangan arah ke mana harus memutar kemudi percakapan.
"Kikuchi itu, lho—"
Baru saja aku mengucapkan hal itu, sepertinya ada sesuatu yang saling terhubung di dalam kepala Saki.
"Kalau mau tahu tentang Mayu, tanya langsung saja ke Mayu."
Mendengar nada suara Saki yang sedikit meninggi dan tegas itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku teringat pada sosok Ayase-san di masa-masa SMA dulu.Sudah kuduga—pasti begini.
Ayase Saki bukanlah tipe orang yang suka bergosip membicarakan rumor orang lain.
Setelah mengucapkan kalimat dengan nada tegas tadi, raut wajah Saki seketika berubah. Dia buru-buru menutup mulutnya sendiri memakai kedua tangan. Sepertinya dia baru tersadar kalau suaranya tadi agak kelepasan membesar.
Sambil tetap menahan volume suaraku, aku meminta maaf.
"Maaf, kamu benar."
"Iya. Aku juga minta maaf, ya. Tapi, Kikuchi-kun? Sepertinya aku tidak akan bisa memberitahu hal-hal yang ingin diketahuinya, deh."
Tanpa disadari skema berupa 'Kikuchi yang ingin tahu tentang Kaneko-san' sudah terbangun dengan sendirinya, tapi di sini aku sengaja tidak mengoreksinya dan membiarkan kesalahpahaman itu diluruskan belakangan saja. Lagipula ini bukan hal yang pantas dibicarakan dengan suara keras di sini, dan yang terpenting Akari bisa terbangun nanti.
"Soalnya aku tidak begitu suka membicarakan masalah rumah. Dan aku juga tidak pernah bertanyanya ke dia."
Di kampus percakapan biasanya diisi oleh topik-topik umum yang aman atau topik seputar perkuliahan, dan mereka tidak pernah saling melangkah kelewat dalam ke area pribadi.
"Iya, sih."
Aku sendiri pun hampir tidak pernah membicarakan masalah keluarga bersama Nakamura maupun Kikuchi. Kalau diingat-ingat, aku bahkan tidak punya ingatan pernah menanyakan struktur susunan keluarga Maru. Jika ditanyai sekali biasanya aku bakal mengingatnya, tapi aku tidak pernah merasa perlu untuk menggali informasi seputar orang-orang di sekelilingku. Jika ini adalah karakter dalam novel, sewaktu membaca aku mungkin bakal memikirkannya.
Tapi di dunia riil, selama aku bisa memiliki rasa suka dan kesan baik terhadap sosok di depanku, bukankah itu sudah lebih dari cukup?
Saki yang tadinya tenggelam memikirkan sesuatu mendongakkan wajahnya.
"Kalau memang sungguhan ingin tahu, aku boleh kok membantu memberi alasan buat memfasilitasi pertemuan."
Bagi Saki, bukankah itu adalah bentuk kompromi dan toleransi yang paling maksimal? Aku sampai terkejut mendengarnya.
"Yah... nanti kucoba tanya Kikuchi dulu deh."
"Terus, satu lagi."
Sorot mata Saki berubah menjadi sangat serius. Dia menatap lurat menancap ke arah mataku.
"Yang penasaran sama Mayu itu beneran Kikuchi-kun, kan?"
"Iya, beneran."
"Bukan Yuta, kan?"
Eh, larinya ke sana?
"Sumpah, demi apa pun bukan aku."
Dalam remang-remang ruang makan yang hanya diterangi lampu pendar temaram, kami saling menatap tajam beberapa saat. Barulah akhirnya Saki mengalihkan pandangannya. Ketegangan di bahuku seketika luruh.
"Kalau begitu sih tidak apa-apa."
Iya. Semua aman kok.
Memasuki akhir bulan Juli, tepat setelah ujian akhir semester pertama usai.
Atas panduan dari Aizawa-san, kami berkesempatan untuk melakukan kunjungan studi ke Pusat Bantuan Keluarga dan Anak.
Kali ini bukan cuma aku dan Kikuchi saja. Dua orang sisanya dari kelompok fieldwork kami ikut bergabung, sehingga kami berkunjung berempat. Berbeda denganku dan Kikuchi yang ini merupakan pertemuan kedua bersama Aizawa-san, dua orang yang baru pertama kali ikut kelihatannya lumayan tegang, bahkan setelah masuk ke dalam gedung pusat bantuan pun jumlah kata yang keluar dari mulut mereka sangat sedikit.
Saat dituntun menuju area kantor, kami melewati sebuah pintu yang tertutup rapat.
Saat itu aku tidak tahu itu ruangan apa, tapi sewaktu hendak pulang kami diperlihatkan bagian dalam ruangan tersebut, dan barulah kami tahu kalau itu adalah playroom (ruang bermain) untuk anak-anak. Lantainya dilapisi matras empuk agar tidak sakit jika anak-anak terjatuh, deretan buku cerita, balok kayu susun, hingga boneka kain berjejer rapi. Di dekat jendela ditaruh akuarium kecil, memperlihatkan beberapa ekor ikan ikatan kecil (medaka) berenang di antara selipan tumbuhan air.
Agar anak-anak yang menghabiskan waktu di sini tidak merasa bosan sedikit pun.
Hanya saja, saat pertama kali melewati pintu itu tadi, yang tertangkap oleh mata kami hanyalah pintu yang tertutup rapat belakangan. Sebagai gantinya, dari balik pintu terdengar suara anak-anak.
Usianya mungkin masih tingkat SD. Melontarkan suara melengking tinggi yang bahkan tidak bisa dibedakan apakah itu anak perempuan atau laki-laki, beberapa anak kelihatannya sedang berlarian sambil tertawa ceria. Suara tapak kaki yang menghentak lantai bahkan bergaung sampai ke koridor.
Sambil mendengarkan suara itu di balik punggung kami, kami dituntun masuk ke area kantor di bagian dalam.
Di sana, hal pertama yang dijelaskan kepada kami adalah sistem yang dinamakan short stay.
Saat wali murid jatuh sakit. Saat ada urusan yang memaksa rumah ditinggalkan kosong seperti persalinan, acara keluarga, maupun pekerjaan. Atau saat rasa lelah akibat mengasuh anak menumpuk, sehingga secara temporer sulit untuk merawat anak di rumah. Dalam kasus-kasus seperti itulah, anak-anak akan dititipkan selama beberapa hari melalui sistem ini.
"Ruangan yang tadi kalian lewati itu adalah ruang bermain yang dipakai oleh anak-anak yang datang melalui program short stay, lho."
Tentu saja, tidak semua keluarga yang memanfaatkan tempat ini menyimpan permasalahan yang sangat parah. Ada juga yang murni gara-gara beberapa hari orang tuanya tidak bisa merawat anak akibat sakit atau urusan pekerjaan.
Hanya saja, di tengah berbagai latar belakang situasi, ada juga anak-anak yang menutup rapat hatinya, hingga di awal-awal datang ke pusat bantuan hampir tidak pernah melontarkan sepatah kata pun.
Anak-anak semacam itu, saat menghabiskan waktu sambil bermain bersama staf di ruang bermain, perlahan-lahan mulai melontarkan kata-kata sedikit demi sedikit.
Jika dihadapkan secara tatap muka langsung lalu ditanyai apa yang terjadi, mereka akan menutup rapat mulutnya. Akan tetapi, jika ada pihak yang duduk di sampingnya, menyentuh mainan yang sama, dan menatap objek yang sama, mereka bisa mengutarakan isi hatinya secara sukarela dari diri mereka sendiri.
Bukan berhadapan menatap lawan bicara, melainkan menatap ke arah yang sama.
Bukan menuntut sebuah jawaban, melainkan berada di sisinya sampai kata-kata itu keluar dengan sendirinya.
Penjelasan dari Aizawa-san membeberkan bahwa ada anak-anak yang membutuhkan bentuk pendekatan semacam itu.
Dan contoh yang diangkat oleh beliau adalah anak yang suaranya kami dengar tadi.
Anak yang kelihatannya tertawa begitu ceria dan berlarian ke sana kemari tadi, konon di awal-awal datang ke sini hampir tidak pernah membuka mulutnya sama sekali.
Keheningan singkat melingkupi kami berempat.
Suara yang terdengar dari balik pintu tadi dipenuhi oleh keceriaan tanpa beban sedikit pun. Jika cuma mendengarnya saja, tidak akan ada yang mengira bahwa itu adalah suara anak yang sedang memendam masalah dan membutuhkan bantuan.
Itu mungkin gara-gara tanpa disadari, di dalam pikiran kami, kami memisahkan antara 'bisa tertawa ceria' dan 'memendam masalah di dalam hati' sebagai dua hal yang bertolak belakang.
Suara tawa ceria yang membekas di telinga, serta bagian dalam hati yang tidak kelihatan dari luar.
Kesenjangan itu terasa agak sedikit berat di dada.
Sebab situasi individual dari masing-masing anak tidak bisa dibeberkan secara spesifik, Aizawa-san menjelaskan latar belakang seperti apa saja yang memungkinkan anak sampai terisolasi di dalam rumah sebagai sebuah teori umum (generalization).
Sambil menyimak, kami menuliskan poin-poinnya di buku catatan masing-masing.
Isi konsultasi ternyata jauh lebih luas dari yang kami bayangkan. Kekerasan fisik (abuse) yang jelas kelihatan. Memburuknya hubungan suami istri. Kesulitan ekonomi. Hingga penyakit maupun gangguan kesehatan mental dari wali murid.
Akibat berbagai macam alasan, anak-anak kehilangan tempat beralih biarpun mereka berada di dalam rumahnya sendiri.
Lalu, Aizawa-san melanjutkan bahwa short stay masih memiliki satu peran krusial lainnya:
"Meskipun cuma untuk jangka waktu yang singkat, terpisah antaram orang tua dan anak—jarak tersebut terkadang justru sanggup melindungi keharmonisan rumah tangga itu sendiri."
Jika keluarga maka harus tinggal bersama. Justru karena tinggal bersamalah makanya dinamakan keluarga.
Sebagai pandangan umum, aku rasa banyak orang yang berpikir demikian.
Akan tetapi, pandangan Aizawa-san yang menyatakan tidak selalu demikian, meresap masuk dengan sangat mulus ke dalam dadaku.
Seandainya tinggal bersama adalah satu-satunya syarat sebuah keluarga, maka diriku yang mulai tinggal sendirian ini berarti telah membuang Ayah dan yang lainnya.
Hubunganku dengan Saki pun demikian.
Kami memang telah berubah menjadi sepasang kekasih, tapi fakta bahwa kami adalah saudara tiri tidak lantas melenyap begitu saja. Hanya gara-gara lokasi tempat tinggal kami berbeda, bukan berarti kami berhenti menjadi sebuah keluarga.
Sosok yang menyeberangi Samudra Pasifik sendirian secara fisik memang berada dalam kesendirian. Meski begitu, konon dia sanggup bertahan karena percaya bahwa dirinya terhubung dengan seseorang yang jauh di sana.
Sebaliknya, biarpun tinggal di dalam satu rumah yang sama, ada kalanya seseorang tidak bisa lagi menganggap yang lainnya sebagai keluarga.
Hubunganku dengan Ibu kandungku adalah contohnya.
Sesaat sebelum beliau berpisah dengan Ayah, biarpun berada di dalam rumah yang sama, aku terus-menerus merasa terisolasi. Secara jarak fisik kami sangat dekat. Hampir setiap hari kami bertatap muka. Meski begitu, aku tidak lagi sanggup menganggap orang itu sebagai keluargaku.
Makanya, hal yang menentukan sebuah keluarga bukanlah jarak fisik.
Hal itu pada dasarnya sudah kuketahui dari pengalaman diriku sendiri.
Akan tetapi, aku belum pernah berpikir sampai ke pola pikir bahwa ada keluarga yang justru bisa terlindungi dengan mengambil jarak.
Orang tua yang kelelahan mengasuh anak, serta anak yang terus-menerus menampung rasa lelah dan emosi masam orang tuanya, jika dipaksa terus berada di dalam ruang yang sama, keduanya justru akan makin terdesak.
Terpisah hanya untuk beberapa hari saja.
Orang tua beristirahat, dan anak menghabiskan waktu di tempat yang aman.
Dengan memulihkan kembali ruang lega di dalam hati, ada keluarga-keluarga yang akhirnya sanggup untuk kembali hidup bersama sekali lagi.
Kisah terakhir yang disampaikan oleh Aizawa-san itu membekas sangat kuat di dalam kepalaku.
Terpisah bukan berarti menandakan kegagalan hubungan orang tua dan anak.
Justru, untuk menjaga agar hubungan tersebut tidak hancur dan bisa terus berlanjut, ada kalanya mengambil jarak sejenak adalah hal yang memang dibutuhkan.
Aku menuliskan kalimat ini di dalam buku catatanku:
『Terpisah, terkadang bukanlah sebuah kegagalan hubungan. Dengan mengambil jarak, ada hubungan yang justru bisa terus dilanjutkan』
Bahkan setelah selesai melakukan kunjungan dan melangkah keluar dari pusat bantuan, kalimat itu tidak mau pergi dari kepalaku.
Menyusuri jalanan yang masih menyisakan terik sinar matahari bulan Juli, kami berempat berjalan menuju stasiun. Sambil mendengarkan Kikuchi dan yang lainnya di depan membicarakan kesan kunjungan tadi, di dalam hati aku berulang kali merenungkan satu kalimat yang kutulis di buku catatan tadi.
Bukan cuma tinggal bersama yang sanggup menjaga sebuah hubungan.
Mengambil jarak pun bisa menjadi pilihan demi bisa terus bersama dengan pihak lain di masa depan.
Bagi diriku, itu adalah sebuah pola pikir yang sangat segar.
Tanpa disadari, musim di mana awan kumulonimbus bermunculan di langit telah tiba.
Musim panas di tahun kedua kuliah, jika kuingat-ingat kembali rasanya mirip seperti teknik pemotongan gambar dalam film yang dinamakan jump cut. Tanpa pergi berlibur ke mana pun, hanya berputar-putar di antara kampus, rumah utama, dan tempat magang untuk menuntaskan pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan secara remote—di tengah pemandangan yang tak pernah berubah di tiga lokasi itu, tanpa disadari situasi telah bergeser.
Alasan kenapa aku memendam sensasi seperti itu adalah karena sosok bayi yang baru lahir—sebuah objek dengan tingkat perubahan yang sangat besar—telah menjadi tolok ukur perjalanan waktuku.
Akari yang tadinya cuma bisa menangis menjerit dengan suara yang sama, perlahan-lahan mulai bisa melontarkan suara seperti "Aah" atau "Uuh", dan tak lama kemudian mulai bisa memalingkan wajahnya ke arah orang yang memanggilnya. Seiring bobot di dalam pelukan yang bertambah secara perlahan, jari-jarinya yang tadinya pendek dan membulat sedikit demi sedikit memanjang berubah menjadi bentuk tangan orang dewasa dalam versi mini.
Besarnya perubahan fisik yang terjadi pada seorang bayi sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan tubuh orang dewasa yang perkembangannya telah terhenti.
Akhir pekan di penghujung bulan Juli. Kepulanganku ke rumah utama setelah menyelesaikan urusan kampus disambut oleh sosok Ayah yang sedang menggendong dan menimang Akari.
Begitu sampai di rumah aku langsung menuju wastafel, mencuci tangan, dan saat melangkah keluar ke koridor, Ayah muncul sambil menggendong Akari.
"Selamat datang kembali."
"Padahal tidak usah repot-repot menyambutku keluar—"
Baru saja mau melontarkan kalimat itu aku tersadarkan.
"—Jangan-jangan Ibu Tiri sedang tidur?"
"Nggak, Akiko-san sedang pergi berbelanja, kok. Yang sedang tidur itu Saki-chan."
"Aah. Oke, paham. Berarti sebaiknya jangan bersuara kencang-kencang, ya."
Saki sepertinya baru saja melihat titik terang dari pekerjaan 'Pameran Horor'-nya, dan belakangan ini fokusnya sepenuhnya tercurah untuk ujian kampus. Karena konon setiap malam dia belajar sampai larut, begitu selesai wajar saja staminanya langsung habis.
"Padahal tinggal tersisa satu mata kuliah lagi, dan dia sempat minta dibangunkankan 30 menit lagi, sih."
Ternyata belum selesai sepenuhnya, ya.
"Bukankah lebih baik biarkan dia tidur sedikit lebih lama?"
"Saki-chan itu tipe orang yang kalau sampai tidak bisa bangun tepat waktu bakal menyalahkan dirinya sendiri, tahu. Harusnya kita bangunkan dengan benar lalu menyuruhnya tidur lebih awal nanti malam."
Paham banget ya beliau.
Aku mengarahkan pandanganku ke arah Akari yang didekap Ayah lalu menyapanya pelan, "Aku pulang." Ayah berbisik ke arah Akari di dekapannya, "Tuh, Kakak sudah pulang lho," lalu melangkah mendekat ke arahku. "Selamat datang kembali, Kakak," ucap Ayah menggantikan Akari.Suara dubbing itu beneran cocok tidak, sih?
Akari bergerak-gerak di dalam pelukan Ayah seolah sedang rewel.
Saat aku hendak mencolek pipinya yang berwarna merah muda seperti bunga sakura memakai jari, tangan kecilnya yang terjulur seketika menangkap dan menggenggam jariku erat-erat.
"Tuh lihat, dia menjabat tanganmu sebagai ucapan selamat datang. Akari pintar banget, ya"
"Aku rasa itu cuma refleks menggenggam, sih."
Ayah ini bukankah sudah lumayan kelewat bucin anak?
"Mirip banget sewaktu Yuta baru lahir dulu."
"Masa, sih?"
"Kamu dulu anak yang penurut, tapi sangat pintar, lho."
"Hentikan deh, malu tahu."
Karena dibeberkan cerita sewaktu aku belum punya kesadaran ingatan pun aku tidak bisa bertanggung jawab.
Sambil mengobrol dengan suara berbisik, kami melangkah menuju area ruang makan. Tempat itu lokasinya jauh dari kamar Saki.
Sambil mendudukkan diri di kursi ruang makan, Ayah berkata, "Zaman sekarang sudah jadi era yang enak, ya."
Di masa-masa sewaktu aku baru lahir dulu, tatanan masyarakat belum memiliki budaya di mana kaum pria wajar mengambil cuti melahirkan (paternity leave). Ditambah lagi Ayah saat itu masih muda dan sedang berjuang keras demi mencetak prestasi kerja, sehingga tidak bisa membantu mengurus bayi penuh selama 2 bulan maupun berbagi tugas rumah tangga seperti saat ini.
"Bagi generasi kami rasanya memang jadi jauh lebih santai, tapi zaman modern saat ini kan punya kesukaran baru versinya sendiri, jadi tingkat kesulitannya mungkin sebenarnya tidak berubah, sih."
"Kesukaran baru di zaman modern itu contohnya apa?"
"Hal yang jelas-jelas meningkat dibanding dulu adalah konsep higienitas. Tindakan seperti tidak berbagi peralatan makan atau menghindari memberi makan lewat gigitan mulut sendiri memang sudah digaungkan sejak Yuta lahir dulu, tapi orang-orang zaman sekarang kan jauh lebih memperhatikannya, kan?"
"Demi mencegah kuman gigi berlubang atau bakteri Helicobacter pylori, kan?"
"Nah, betul. Biarpun ada juga orang tua yang bakal marah gara-gara tersinggung merasa mulutnya dibilang kotor, sih. Padahal bayinya saja yang kondisinya memang mendekati steril."
"Kalian berdua bahkan mensterilkan barang apa pun yang dipakai Akari tanpa terkecuali, kan."
"Menurutku zaman sekarang hal itu sudah jadi hal yang biasa, sih. Yang seperti itu jelas-jelas bentuk kerepotan baru yang bertambah dibanding zaman dulu."
"Begitu rupanya."
Berarti begitu generasi kami memasuki masa-masa membesarkan anak kelak, di satu sisi memang akan makin praktis, tapi di sisi lain ada kemungkinan bentuk kerepotan baru bakal bertambah lagi.
Terdengar suara pintu depan terbuka disusul suara pelan "Aku pulang". Ibu Tiri Akiko telah kembali. Aku melangkah menyambutnya menggantikan Ayah yang sedang menggendong Akari. Sesuai dugaan, Ibu Tiri Akiko berdiri di pintu depan dengan kedua tangan penuh membopong bahan makanan.
Aku mengambil alih separuh barang bawaannya lalu membawanya ke dapur.
Setelah memasukkan barang-barang yang harus masuk kulkas dan merapikan ini-itu, Ibu Tiri Akiko mengenakan celemek dan mulai menyiapkan makan malam.
"Boleh kubantu."
"Tidak apa-apa, kok. Hari ini Ibu tidak masak menu yang merepotkan. Yuta-kun mau makan malam di sini?"
"Belum makan, sih."
"Kalau begitu buat 4 porsi, ya. Akari juga sepertinya sebentar lagi, ya?"
Merespons ucapan Ibu Tiri Akiko, Ayah menyahut, "Begitu dia bangun nanti biar aku yang pegang."
Tepat setelah diucapkan, Akari mulai rewel di dalam kamar.
"Sebentar lagi, tuh."
Ayah melangkah ke kamar tidur sambil menggendong Akari. Setelah membaringkannya di ranjang bayi, beliau kembali keluar dan mulai menyiapkan susu. Akari baru lahir belum genap 2 bulan. Karena MPASI baru dimulai setelah berusia lewat 5 bulan, urusan makannya masih murni sebatas minum susu saja.
Mensterilkan botol susu, mencuci tangan sendiri, memasukkan susu bubuk ke dalam botol, menyeduh air yang sudah dididihkan dan dijaga suhunya di atas 70°C sampai batas dua pertiga botol, lalu memutarnya pelan agar larut. Alasan tidak dikocok secara kencang konon demi mencegah timbulnya busa. Aku sendiri sudah berulang kali menggantikan membuatnya, dan kenyataannya ini menuntut ketelitian yang lumayan.
Begitu larut sepenuhnya, air ditambahkan sampai batas garis penanda, lalu suhunya harus didinginkan sampai sehangat suam-suam kuku. Bisa disiram air mengalir atau direndam air es. Ayah mendinginkannya dengan mengalirkan air dari keran dapur.
Sambil memegang botol susu, Ayah berseru "Iya, iya, ini makanannya datang" lalu bergegas masuk ke kamar tidur, tepat secara bersamaan dengan suara tangisan Akari yang rewel meminta makan. Sebelum suaranya membesar, tangisan Akari seketika lenyap. Sepertinya dia sudah berhasil mendapatkan susunya dengan selamat.
"Keberadaan Taichi-san beneran sangat membantu, ya."
Ucap Ibu Tiri Akiko sambil mengoseng masakan di atas wajan.
"Cuti melahirkan Ayah itu kan 2 bulan, ya."
"Sampai akhir bulan ini, lho. Belakangan ini dia terus-menerus meratap bilang cemas bagaimana nanti setelah cutinya habis."
"Kalau itu sih... aku paham."
Saat kuucapkan hal itu, Ibu Tiri Akiko mengukir senyum kecut.
"Menurut Ibu sih Akari tergolong bayi yang tidak terlalu merepotkan, jadi bakal aman-aman saja. Karena dia anak yang penurut, rasanya Ibu sendirian pun bakal sanggup melewatinya."
"Tapi lehernya baru bisa tegak setelah berusia 3 sampai 4 bulan, kan."
Aku yang tadinya tidak tahu pun, sewaktu mencari tahu jenis kereta bayi baru tersadar bahwa untuk bayi yang lelah lehernya belum tegak harus menggunakan kereta bayi Tipe A atau tipe multifungsi, dan jalanan yang berundak pun harus diperhatikan secara ekstra. Saat menggendong pun ada gendongan khusus untuk bayi baru lahir (newborn). Maksudnya, selama sekitar 4 bulan pada dasarnya bayi tidak boleh diajak melakukan perpindahan tempat yang terlalu ekstrem.
"Memang benar begitu, sih. Makanya kalau boleh jujur Ibu sebenarnya mau cuti selama 4 bulan."
Sambil berbicara, Ayah yang sepertinya sudah menidurkan Akari keluar dari kamar tidur.
"Apakah bisa mengambil cuti sepanjang itu?"
"Secara sistem cuti melahirkan sih bisa. Cuma tentu saja selama masa cuti tidak ada gaji yang keluar. Gaji digantikan oleh Tunjangan Cuti Mengasuh Anak dari pemerintah. Nominalnya pun makin lama bakal makin berkurang. Lagipula Ayah takut kehilangan keberlanjutan posisi di pekerjaan, sih. Kalau sampai libur berbulan-bulan, perusahaan kan mau tidak mau harus merekrut orang baru menggantikan Ayah. Di posisiku yang sekarang, mengambil lebih dari 2 bulan itu sangat sulit. Itu artinya Ayah bakal melepas proyek satu kuartal penuh."
"Tidak apa-apa, kok. Kan sebagai gantinya ada aku yang menjaga rumah."
"Justru hal itulah yang bikin Ayah merasa bersalah. Kamu kan juga pasti ingin bekerja, kan? Rasa-rasanya tidak adil kalau cuma Ayah sendiri yang kembali bekerja."
Jika pekerjaan hanya dipandang sebagai sarana mencari uang semata, kondisi saat ini yang tidak mengganggu kelangsungan hidup sebenarnya bisa dipertahankan. Akan tetapi, hal itu tidak akan sanggup memuaskan keinginan Ibu Tiri Akiko sendiri yang 'ingin bekerja'. Maksud dari ucapan Ayah adalah ke arah sana. Sebab Ibu Tiri Akiko sangat menyukai pekerjaannya sebagai seorang bartender.
"Makanya, agar kemampuanku tidak tumpul aku kan sesekali meraciknya untukmu, kan."
Ujar Ibu Tiri Akiko sambil tersenyum manis ke arah Ayah.
Setiap akhir pekan, Ibu Tiri Akiko memang menjadikan Ayah sebagai pelanggan imajiner lalu meracikkan koktail untuknya.Dengan begitu sudah cukup kok, kapan saja aku siap kembali bekerja, begitulah ucapannya, tapi Ayah tetap bertopang dagu di dapur dengan raut wajah yang agak mengernyit.
"Benarkah begitu?"
"Iya, tenang saja. Lagipula 5 bulan lagi kelinci percobaan untuk eksperimen koktail racikan baruku bakal bertambah satu lagi, kan."
Ucapnya sambil menatap ke arahku dengan tatapan penuh arti. Eh, aku berkedip kaget. Kelinci percobaan bertambah?
5 bulan lagi berarti akhir tahun, saat memikirkannya ke arah sana aku baru tersadar. Di akhir tahun ini, aku dan Saki akan menginjak usia 20 tahun. Kami sudah legal untuk meminum alkohol.
"Langsung koktail begitu... apakah aman, ya..."
"Nanti Ibu buatkan koktail yang ringan dan rasanya enak khusus untuk pemula, jadi tenang saja."
Yah kalau begitu sih...
"Dengan senang hati aku siap jadi kelinci percobaannya."
"Nantikan, ya."
Ujar Ibu Tiri Akiko.
Penanak nasi berbunyi menandakan nasi sudah matang, dan Ayah mulai menyiapkan hidangan. Mungkin karena suasana ruang makan mulai ramai, sambil mengucek matanya yang mengantuk, Saki keluar dari kamarnya. Kalau dulu, jangankan berganti pakaian, bahkan dalam beberapa situasi dia tidak akan keluar kamar sebelum selesai berdandan... tapi sekarang, baik aku maupun Ayah sudah terbiasa melihat Saki dalam kondisi tanpa pertahanan seperti ini.
Kurun waktu sepanjang itulah yang telah berlalu.
"Emm... Sudah 30 menit berlalu...?"
Mendengar ucapan Saki, aku melihat ke arah jam dinding. Sudah 1 jam berlalu.
"Ah."
Saki ikut melihat ke arah jam.
"Eh."
"Maaf, maaf. Ayah ketiduran sampai lupa."
Ujar Ayah, tapi Saki menggelengkan kepalanya.
"Nggak, tidak apa-apa. Lagipula yang ketiduran kan aku. ...Aku bantu siapkan makan malam, ya."
"Sudah jadi semua, kok. Daripada itu buruan cuci mukamu sana."
"Emm."
"Yuta, bawakan Akari ke sini. Mari kita makan malam bersama."
Ujar Ayah.
"Apakah tidak bakal terbangun?"
"Dia baru saja terlelap, jadi asal tidak gaduh bakal aman-aman saja. Mumpung momen makan malam, Ayah mau kita semua berkumpul di meja makan."
Ayah memang selalu mengusahakan agar Akari ikut hadir saat makan malam, selama kondisi Akari tidak dalam keadaan kelewat rewel. Aku tidak berpikir Akari akan mengingat momen ini, tapi Ayah sepertinya ingin terus menumpuk rekam jejak masa lalu berupa kebersamaan keluarga.
Pemandangan kehangatan makan bersama keluarga. Percakapan yang dipenuhi oleh rasa hangat.
Hal-hal yang sewaktu kecil hanya sempat didapatkan separuh olehku maupun Saki. Makanya aku merasa Ayah sangat teramat mengejar hal tersebut saat ini.
Sambil memindahkan Akari beserta ranjangnya dari kamar tidur, pikiran-pikiran semacam itulah yang berputar di dalam kepalaku.
Bulan Juli yang penuh dengan kesibukan bagiku dan Saki berakhir sudah.
Bulan Agustus yang telah kami tetapkan sebagai batas waktu penentuan (time limit) kini akan segera tiba.